- Pemprov Lampung Perkuat Layanan Kanker, Deteksi Dini Jadi Perhatian Utama
- Pemkab Pringsewu Gelar Upacara Peringatan Hari Kesaktian Pancasila
- Hari Kesaktian Pancasila, Pemkab Tekankan Persatuan dan Pelayanan Publik Berkeadilan
- Penurunan Stunting Terbaik di Lampung, Skor 97,63 Kota Metro Nyaris Sempurna
- Kota Metro Perkuat Strategi 4K Hadapi Tekanan Harga Pangan Saat Nataru
- Wisuda Sekolah Lansia Srikandi jadi Momentum Dorong Lansia Tetap Aktif dan Berkarya
- Sekinker Gelowing, Gerakan Bersama untuk Pengentasan Kemiskinan dan Pencegahan Stunting
- Perubahan APBD Pesisir Barat 2026 Disetujui
- Pemprov Lampung Peringatan Hari Kesaktian Pancasila 2026
- Antisipasi Gagal Panen BBWS Bersama TBHBUN Lamsel Siapkan Kompanisasi
Kota Metro Perkuat Strategi 4K Hadapi Tekanan Harga Pangan Saat Nataru

METRO, MFH,--Pemerintah Kota Metro bersama Tim
Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) memperkuat langkah strategis dalam menjaga
stabilitas harga dan daya beli masyarakat melalui Rapat Koordinasi (Rakor) TPID
Kota Metro yang digelar di OR Setda Kota Metro, Rabu (30/9/2026).
Rakor tersebut menjadi momentum evaluasi
sekaligus konsolidasi untuk merumuskan langkah konkret dalam mengantisipasi
berbagai faktor yang berpotensi memengaruhi pergerakan harga, khususnya
komoditas pangan strategis di tengah kondisi kemarau yang dapat berdampak
terhadap produksi dan ketersediaan pasokan.
Wali Kota Metro, H. Bambang Iman Santoso,
menegaskan bahwa pengendalian inflasi tidak semata-mata berkaitan dengan
indikator ekonomi, tetapi memiliki keterkaitan langsung dengan kesejahteraan
masyarakat, terutama kemampuan masyarakat memenuhi kebutuhan pokok dan
mempertahankan daya beli.
Baca Lainnya :
- Pemkot Metro dan DPRD Sepakati Raperda Perubahan APBD 20260
- Pemprov Perkuat Pertanian Modern untuk Tingkatkan Produktivitas dan Pendapatan Petani0
- Pemkot Metro Lantik 34 Pejabat, Dorong ASN Adaptif dan Inovatif 0
- Metro Perkuat Transformasi Pendidikan, 33 SMP Tampilkan Kreativitas dan Inovasi Pembelajaran0
- Kota Metro Raih Juara I TPID Sumatera, Bukti Pengendalian Inflasi Berbasis Kerja Kolaboratif0
“Pengendalian inflasi merupakan tanggung jawab
bersama yang berkaitan langsung dengan kesejahteraan masyarakat. Karena itu,
kita perlu terus memastikan ketersediaan pasokan, keterjangkauan harga,
kelancaran distribusi, dan komunikasi yang efektif,” ujar Wali Kota.
Menurut Bambang, keberhasilan Kota Metro meraih
penghargaan TPID Kota Berkinerja Terbaik Wilayah Sumatera Tahun 2026 merupakan
hasil kerja bersama seluruh unsur yang selama ini berperan dalam pengendalian
inflasi daerah.
“Atas capaian tersebut, saya sebagai Wali Kota
menyampaikan apresiasi kepada TPID Kota Metro, Forkopimda, Bank Indonesia
Perwakilan Provinsi Lampung, BPS, Bulog, seluruh perangkat daerah, camat,
lurah, hingga masyarakat Kota Metro yang turut mendukung berbagai kebijakan
pengendalian inflasi,” ucapnya.
Namun, Bambang menegaskan bahwa penghargaan
tersebut bukan alasan untuk mengendurkan upaya pengendalian harga. Sebaliknya,
capaian tersebut harus menjadi dorongan untuk memperkuat strategi 4K, yakni
keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan
komunikasi yang efektif.
“Penghargaan ini tentunya bukanlah akhir,
melainkan motivasi untuk terus memperbaiki strategi 4K, keterjangkauan harga,
ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi yang efektif,”
tegasnya.
Menurutnya, berbagai instrumen pengendalian
inflasi yang selama ini telah dijalankan perlu terus diperkuat, antara lain
melalui Gerakan Pangan Murah, inspeksi mendadak pasar, kerja sama antardaerah,
gerakan menanam, serta rapat koordinasi TPID.
Memasuki penghujung September hingga periode
Natal dan Tahun Baru, Wali Kota meminta seluruh unsur TPID meningkatkan
kewaspadaan terhadap berbagai faktor yang dapat memengaruhi pergerakan harga,
terutama komoditas pangan strategis.
Pemantauan harga dan stok, menurutnya, harus
dilakukan secara berkala agar pemerintah dapat merespons perubahan kondisi
pasar secara lebih cepat. Operasi pasar serta kerja sama dengan daerah
penghasil komoditas pangan juga perlu diperkuat sebagai bagian dari langkah
antisipatif.
“Kita tentunya juga perlu menjaga keseimbangan
antara kepentingan produsen dan konsumen. Harga yang stabil harus tetap
memberikan insentif yang wajar bagi petani atau produsen dan pelaku usaha,
sekaligus memastikan masyarakat memperoleh kebutuhan pokok dengan harga yang
senantiasa terjangkau,” jelasnya.
Bambang juga menilai peningkatan aktivitas
masyarakat di Kota Metro, khususnya pada akhir pekan, perlu menjadi bagian dari
perhatian TPID. Peningkatan mobilitas tersebut dapat memberikan dampak positif
terhadap aktivitas ekonomi dan pertumbuhan UMKM, tetapi pada saat yang sama
dapat meningkatkan permintaan terhadap komoditas pangan.
Karena itu, peningkatan permintaan perlu
diimbangi dengan kepastian pasokan agar pertumbuhan aktivitas ekonomi tidak
menciptakan tekanan baru terhadap harga pangan.
“Dengan semangat kolaborasi, sinergi dan kerja
berbasis data, saya optimis Kota Metro dapat terus menjaga stabilitas harga dan
daya beli masyarakat,” kata Wali Kota.
Bambang meminta Rakor TPID tidak berhenti pada
pembahasan, tetapi mampu menghasilkan langkah yang konkret, terukur, dan segera
diterjemahkan dalam kebijakan oleh perangkat daerah serta seluruh pemangku
kepentingan terkait.
Sementara itu, Deputi Kepala Perwakilan Bank
Indonesia Provinsi Lampung, Achmad P. Subarkah, menyampaikan bahwa inflasi Kota
Metro pada Agustus 2026 masih berada dalam rentang sasaran, dengan inflasi
sebesar 3,39 persen secara tahunan (yoy) dan 0,22 persen secara bulanan (mtm).
Meski demikian, sejumlah tekanan harga masih
perlu dicermati, terutama pada komoditas pangan strategis seperti daging ayam
ras dan beras. Sementara itu, bawang merah menjadi salah satu komoditas yang
turut menahan tekanan inflasi.
Achmad menilai kondisi tersebut perlu
diantisipasi secara lebih ketat karena tantangan pengendalian inflasi ke depan
cukup kompleks, terutama dengan adanya kondisi kemarau yang berpotensi
berlangsung lebih panjang.
Menurut Achmad, harga beras premium telah
berada di atas Harga Eceran Tertinggi (HET), sehingga pada sejumlah jaringan
ritel beras premium tidak lagi banyak ditampilkan.
Dalam kondisi tersebut, ia mendorong agar
distribusi dan pemasaran beras SPHP dapat diperluas, termasuk melalui jaringan
swalayan, sehingga masyarakat tetap memiliki alternatif beras dengan harga yang
lebih terjangkau.
Menurutnya, ketersediaan barang di pasar juga
berkaitan erat dengan pembentukan ekspektasi masyarakat. Ketika masyarakat
memperoleh informasi atau melihat indikasi bahwa suatu komoditas sulit
diperoleh, kondisi tersebut dapat mendorong pembelian secara berlebihan dan
pada akhirnya meningkatkan tekanan terhadap permintaan serta harga.
“Karena itu, kepastian pasokan dan komunikasi
mengenai kondisi ketersediaan komoditas menjadi bagian penting dalam menjaga
stabilitas harga,”tuturnya.
Dalam paparannya, Achmad mengungkapkan terdapat
enam komoditas yang perlu mendapat perhatian, terutama memasuki periode akhir
tahun, yakni beras kualitas super, cabai rawit merah, minyak goreng curah,
beras kualitas medium, cabai merah keriting, dan daging ayam ras.
Selain itu, gula dan minyak goreng juga perlu
diantisipasi karena konsumsi berpotensi meningkat menjelang Natal dan Tahun
Baru seiring meningkatnya aktivitas masyarakat dalam memenuhi kebutuhan pangan
dan konsumsi rumah tangga.
“Untuk cabai merah keriting, berdasarkan data
yang disampaikan Bank Indonesia berdasarkan Pusat Informasi Harga Pangan
Strategis (PIHPS) menunjukkan harga komoditas tersebut telah mencapai sekitar
Rp54.500 per kilogram, ” bebernya.
Sementara pada komoditas beras, kondisi kemarau
panjang berpotensi memengaruhi hasil panen musim gadu. Apabila produksi tidak
mampu memenuhi kebutuhan yang terus meningkat, kondisi tersebut dapat
memberikan tekanan terhadap harga.
Achmad juga menyoroti pentingnya memperkuat
kerja sama antardaerah untuk memastikan ketersediaan komoditas pangan
strategis. Kota Metro selama ini telah menjalin kerja sama dengan sejumlah
daerah penghasil, antara lain untuk komoditas cabai dan bawang merah.
Menurutnya, pola kerja sama tersebut dapat
terus dikembangkan terhadap komoditas pangan strategis lainnya agar peningkatan
konsumsi dan permintaan masyarakat Kota Metro dapat diimbangi dengan
ketersediaan pasokan.
Di sisi lain, peningkatan aktivitas ekonomi dan
UMKM di Kota Metro, khususnya pada akhir pekan, menjadi potensi pertumbuhan ekonomi
yang perlu berjalan seiring dengan kesiapan pasokan pangan. Pertumbuhan sektor
perdagangan dan kuliner akan meningkatkan kebutuhan bahan baku, sehingga
ketersediaan komoditas perlu dipastikan tetap terjaga.
Oleh karena itu, diperlukan langkah antisipasi
untuk memastikan ketersediaan air bagi sektor pertanian apabila kondisi
kekeringan berlangsung lebih panjang dari perkiraan. “Salah satu opsi yang
disampaikan adalah penguatan sumber air pertanian melalui pembangunan sumur
bor, “jelasnya.
Achmad menjelaskan, skema wakaf produktif yang
telah dikembangkan di sejumlah daerah dapat menjadi salah satu alternatif dalam
mendukung penyediaan infrastruktur air pertanian. “Skema wakaf produktif yang
telah dikembangkan di sejumlah daerah dapat menjadi salah satu alternatif untuk
mendukung penyediaan infrastruktur air pertanian, termasuk melalui kolaborasi
dengan lembaga seperti Baznas, lembaga filantropi, maupun organisasi sosial
lainnya,” katanya.
Menurutnya, langkah tersebut dapat menjadi
bagian dari mitigasi untuk menjaga keberlanjutan produksi pertanian apabila
kondisi kekeringan berlangsung lebih panjang dari perkiraan.
Selain ketersediaan pasokan, kelancaran
distribusi juga menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas harga. Potensi
gangguan distribusi akibat antrean kendaraan angkutan, khususnya pada
titik-titik distribusi bahan bakar, perlu menjadi perhatian.
“Gangguan distribusi di wilayah Lampung dapat
memberikan dampak yang lebih luas karena rantai pasok sejumlah komoditas
menghubungkan Lampung dengan berbagai wilayah di Sumatera,” terangnya.
Oleh karena itu, kepastian pasokan bahan bakar,
khususnya solar bagi kendaraan angkutan barang, menjadi salah satu aspek yang
perlu diperhatikan untuk menjaga kelancaran distribusi komoditas pangan.
“Penguatan koordinasi lintas sektor, pemantauan
harga dan pasokan secara berkala, kerja sama antardaerah, serta respons cepat
terhadap potensi gangguan distribusi menjadi bagian dari langkah yang perlu
terus dilakukan TPID Kota Metro untuk menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat,
“pungkasnya. [MFH/Diskominfo]











