- Bukti Komitmen Presiden Prabowo dan Gubernur Mirza Mewujudkan Kesejahteraan Hingga Tingkat Desa
- Bupati Dedi Irawan Hadiri Penutupan Acara Kakiceran di Pekon Kuripan
- Pesta Sekura, Tradisi Penuh Makna Pererat Kebersamaan di Lampung Barat
- Bupati Lampung Barat Sambangi Rumah Lihun Korban Kebakaran di Tugu Mulya
- Menteri Kehutanan RI Raja Juli Kunjungi Way Kambas
- Wakil Walikota Rafieq Halal Bihalal di Kediaman dr. Wahdi
- Truk Buah dan Sayuran Terjebak Antrean Hingga Puluhan Kilometer di Pelabuhan SMA
- Pemerintah Bangun Pembatas 138 Km di Way Kambas, Solusi Permanen Konflik Gajah dan Manusia
- Musrenbang RKPD Lampura: Gubernur Dorong Hilirisasi, Penguatan SDM dan Akselerasi Pembangunan
- Arus Balik Mulai Menguat, ASDP Prediksi Lonjakan Besar 28–29 Maret 2026
Bukti Komitmen Presiden Prabowo dan Gubernur Mirza Mewujudkan Kesejahteraan Hingga Tingkat Desa

LAMPUNG UTARA, MFH,-- Kenaikan
harga gabah, jagung, dan singkong mendorong lonjakan pendapatan petani termasuk
di Kabupaten Lampung Utara, bahkan mencapai hingga dua kali lipat. Kondisi ini
menjadi angin segar bagi sektor pertanian sekaligus memperkuat daya beli
masyarakat pedesaan.
Gubernur Lampung Rahmat Mirzani
Djausal di Acara Musrenbang RKPD Kabupaten Lampung Utara Tahun 2027 di Gedung
Pusiban Agung Kotabumi, Kamis (26/3/2026) mengatakan penguatan harga komoditas
tersebut tidak terlepas dari kebijakan pemerintah pusat di bawah kepemimpinan
Presiden Prabowo Subianto.
Seperti menetapkan Harga Pembelian
Pemerintah (HPP) gabah kering panen sebesar Rp6.500 per kilogram.
Baca Lainnya :
- Musrenbang RKPD Lampura: Gubernur Dorong Hilirisasi, Penguatan SDM dan Akselerasi Pembangunan0
- Pererat Silaturahmi, DPC SPRI Lampung Utara Gelar Buka Puasa Bersama Pengurus dan Santri0
- Refleksi Satu Tahun Kepemimpinan Bupati Lampura, Tegaskan Evaluasi Terukur dan Percepatan Program0
- Safari Ramadhan Bupati Momentum Perkuat Silaturahmi dan Kepedulian Sosial Pemerintah0
- Gerakan Pangan Murah Diserbu Masyarakat0
Selain itu, harga acuan jagung
pipilan kering ditetapkan sebesar Rp5.500 per kilogram, dengan harga di tingkat
petani kini stabil di kisaran Rp5.500 hingga Rp5.600 per kilogram.
Untuk komoditas singkong,
Pemerintah Provinsi Lampung menetapkan Harga Acuan Pembelian (HAP) sebesar
Rp1.350 per kilogram dengan batas maksimal rafraksi 15 persen, yang turut
memperkuat pendapatan petani di daerah.
Ia menegaskan, kebijakan harga yang
berpihak kepada petani memberikan dampak nyata, terutama di daerah sentra
produksi seperti Lampung Utara.
Di sisi lain, Pemprov Lampung juga
menghadirkan Program Desaku Maju sebagai upaya meningkatkan nilai tambah dan
memperkuat ekonomi desa.
Pemerintah Provinsi telah
mengalokasikan anggaran untuk mendukung pelaksanaan program tersebut di seluruh
kabupaten/kota. Di antaranya, penyediaan Pupuk Organik Cair (POC), mesin dryer
dan pelatihan vokasi.
“Program Desaku Maju kami hadirkan
untuk memastikan desa menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru yang mandiri dan
produktif,” ujar Mirza.
Ia mencontohkan Desa Wonomarto di
Lampung Utara sebagai desa percontohan yang berhasil meningkatkan produksi
pertanian hingga 30 persen melalui program tersebut.
Produksi padi di desa tersebut
meningkat dari 994 ton menjadi 1.292 ton, jagung dari 236 ton menjadi 307 ton,
dan singkong dari 20.000 ton menjadi 26.000 ton.
Selain peningkatan produksi,
bantuan mesin pengering juga memberikan nilai tambah ekonomi dengan potensi
sebesar 247,2 ton atau Rp82,98 juta selama periode Juni 2025 hingga Maret 2026.
Program Desaku Maju juga
terintegrasi dengan program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG). Pemerintah
Provinsi Lampung akan memfasilitasi kerja sama antara Badan Usaha Milik Desa
(BUMDes) dalam program tersebut agar desa dapat menjadi pemasok bahan baku
pangan secara langsung.
“Kami ingin perputaran ekonomi dari
program nasional benar-benar dirasakan oleh petani dan pelaku UMKM di desa,”
katanya.
Dalam kesempatan itu, Gubernur
Mirza turut mendorong penguatan sumber daya manusia (SDM), hilirisasi komoditas
unggulan, dan pembangunan infrastruktur sebagai pilar utama percepatan
pembangunan di Kabupaten Lampung Utara.
Ia menyampaikan ketiga sektor
tersebut dinilai menjadi kunci dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah yang
berkelanjutan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Mari kita satukan komitmen untuk
mengoptimalkan potensi lokal sebagai mesin pertumbuhan utama pembangunan
daerah, melalui penguatan SDM, hilirisasi komoditas unggulan, dan dukungan
infrastruktur yang memadai. Saya yakin Lampung Utara akan semakin membuktikan
dirinya sebagai pusat pertumbuhan yang maju dan sejahtera,” ujar Gubernur
Mirza.
Menurut Mirza, peningkatan kualitas
SDM menjadi fondasi utama pembangunan. Kabupaten Lampung Utara sendiri memiliki
potensi besar di berbagai komoditas seperti ubi kayu, jagung, padi, kedelai,
kopi, karet, dan pisang yang perlu dikelola secara optimal.
“Kita membutuhkan SDM yang terampil
dan produktif agar mampu mengelola potensi tersebut dan meningkatkan nilai
tambah bagi petani dan perekonomian daerah,” katanya.
Ia menekankan pentingnya pemerataan
akses pendidikan dan peningkatan layanan kesehatan.
Pemerintah Kabupaten Lampung Utara
juga diminta memastikan tidak ada lagi anak yang putus sekolah serta
meningkatkan relevansi kompetensi tenaga kerja dengan kebutuhan dunia usaha dan
industri.
“Pendidikan dan kesehatan harus
menjadi prioritas, karena dari situlah lahir SDM unggul yang mampu bersaing dan
menjawab kebutuhan pembangunan,” tegasnya.
Berdasarkan data, Indeks
Pembangunan Manusia (IPM) Provinsi Lampung mencapai 73,98 atau kategori tinggi.
Sementara IPM Lampung Utara berada di angka 72,28 dengan pertumbuhan 1,2
persen.
“Capaian ini harus terus kita
dorong agar kualitas hidup masyarakat semakin meningkat dari waktu ke waktu,”
ujar Mirza.
Selain SDM, Mirza menyoroti
pentingnya penguatan struktur ekonomi daerah melalui hilirisasi komoditas
unggulan. Langkah ini diyakini mampu meningkatkan nilai tambah serta memperkuat
daya saing produk lokal.
“Hilirisasi menjadi kunci agar
komoditas unggulan tidak hanya dijual dalam bentuk mentah, tetapi mampu
memberikan nilai ekonomi yang lebih besar bagi para petani,” katanya.
Di sisi lain, percepatan
pembangunan infrastruktur juga menjadi perhatian utama. Infrastruktur yang baik
dinilai akan memperlancar distribusi hasil pertanian, menurunkan biaya
logistik, serta membuka akses pasar yang lebih luas.
Pada 2025, tingkat kemantapan jalan
provinsi mencapai 79,79 persen, sementara jalan Kabupaten Lampung Utara sebesar
46,67 persen. Khusus ruas jalan provinsi sepanjang 156,328 kilometer di Lampung
Utara, tingkat kemantapannya mencapai 93,58 persen.
“Kondisi ini harus terus kita
tingkatkan agar konektivitas antarwilayah semakin baik dan mendukung aktivitas
ekonomi masyarakat,” ujar Mirza.
Untuk tahun 2026, Pemerintah
Provinsi Lampung mengalokasikan anggaran Rp1,98 miliar untuk penanganan jalan
desa, Rp40,52 miliar untuk perbaikan 5,39 kilometer jalan provinsi, serta Rp2,1
miliar untuk pembangunan satu jembatan di Lampung Utara.
“Kami berkomitmen terus memperkuat
pembangunan infrastruktur sebagai fondasi utama pertumbuhan ekonomi daerah,”
katanya.
Dari sisi kesejahteraan, angka
kemiskinan Provinsi Lampung tercatat turun dari 10 persen pada Maret 2025
menjadi 9,66 persen pada September 2025. Sementara Lampung Utara pada 2025
mencatat angka kemiskinan 15,78 persen, turun 1,14 persen dibanding tahun
sebelumnya.
“Penurunan ini menjadi sinyal
positif, namun kita harus terus bekerja keras agar angka kemiskinan dapat
ditekan lebih signifikan,” ujar Mirza.
Capaian tersebut dinilai menjadi
modal penting untuk memasuki fase akselerasi pembangunan pada 2027 agar lebih
efektif dan terarah.
“Berbagai capaian ini menjadi modal
penting bagi kita untuk memasuki fase akselerasi pembangunan pada tahun 2027,
sehingga pembangunan daerah dapat berjalan lebih efektif, terarah, dan
memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” katanya.
Mirza juga menekankan pentingnya
integritas dalam setiap tahapan perencanaan dan penganggaran pembangunan.
“Kolaborasi tanpa integritas tidak
akan menghasilkan kinerja dan kepercayaan publik yang tinggi. Oleh karena itu,
setiap tahapan perencanaan dan penganggaran harus dilaksanakan dengan
menjunjung tinggi prinsip good governance, yaitu transparan, akuntabel,
partisipatif, efektif, dan taat pada peraturan perundang-undangan,” ujarnya.
Ia menambahkan, perencanaan
pembangunan harus realistis dan berbasis kemampuan fiskal daerah, serta fokus
pada program yang berdampak luas bagi masyarakat.
Sebagaimana arahan Presiden pada
Peresmian Pembukaan Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pemerintah Pusat dan
Daerah Tahun 2026 kepada seluruh kepala daerah, diingatkan tentang pentingnya
perencanaan yang realistis dan berbasis kemampuan fiskal daerah.
“Maka kita perlu menetapkan
prioritas secara bijak, fokus pada program yang berdampak luas, serta menjaga
konsistensi antara perencanaan, penganggaran, hingga pelaksanaannya,” ujarnya.
Mirza mengajak seluruh pihak untuk
memastikan perencanaan pembangunan benar-benar memberikan manfaat nyata bagi
masyarakat.
“Mari kita buktikan bahwa perencanaan
yang kita susun hari ini adalah pijakan kokoh untuk menghadirkan pembangunan
yang nyata, adil, dan berkelanjutan bagi masyarakat Lampung Utara dan Provinsi
Lampung,” pungkasnya. [MFH/Adpim]










3.jpg)