- Pemkab Dukung Upaya Pencegahan Narkotika Melalui Sinergi Lintas Sektor
- Wakil Bupati Pringsewu Minta Orang Tua Apresiasi Setiap Usaha Anak
- Bupati Parosil Apresiasi Tren Penurunan Kemiskinan di Lampung Barat
- Bupati Parosil Dorong Hilirisasi Literasi Senjata Keluar dari Kemiskinan
- Percepat Deteksi TBC, Pemkab Optimalkan Skrining Berbasis Masyarakat
- Bupati Pesisir Barat Lantik Tim Pembina Posyandu
- Elemen Masyarakat Soroti AUTJ hingga Fungsi Pengawasan Dewan
- DLH Provinsi Lampung Kawal Ketat Proyek PSEL Lampung Raya
- Pemprov Dorong Seni jadi Sarana Pembentukan Karakter dan Kreativitas Siswa
- KMP Batu Mandi Terbakar, Seluruh Penumpang Berhasil Diselamatkan
Pemprov Lampung Perkuat Strategi Stabilkan Harga Pangan dan Dukung Hunian Layak

BANDAR LAMPUNG, MFH,-- Menindaklanjuti dinamika
harga komoditas pangan nasional dan target percepatan perumahan rakyat,
Pemerintah Provinsi Lampung mematangkan langkah sinergis bersama pemerintah
pusat.
Upaya penyelarasan kebijakan ini difokuskan
melalui Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah Tahun 2026 sekaligus
Evaluasi Program 3 Juta Rumah, yang diikuti oleh Staf Ahli Gubernur Bidang
Pemerintahan, Hukum dan Politik, Yanyan Ruchyansyah, secara virtual dari Ruang
Command Center Diskominfotik, Senin (19/10/2026).
Rapat koordinasi tingkat nasional ini dipimpin
langsung oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Tomsi
Tohir.
Baca Lainnya :
- Ketua TP PKK Lampung Ajak Generasi Muda Kenalkan Budaya Daerah di Ajang Nasional0
- Atas Instruksi Gubernur, Wagub Jihan Pimpin Kolaborasi Padamkan Api TPA Bandarjaya0
- Lampung Tegaskan Komitmen Berantas Narkotika0
- Gubernur Lampung Minta Penanganan Karhutla Dipercepat, Mitigasi Diperkuat hingga Desa0
- Wagub Jihan Lepas THLC Wakili Lampung di Kompetisi Paduan Suara Internasional0
Dalam arahannya, ia menekankan pentingnya
komitmen bersama dalam menjaga stabilitas harga bahan pokok di tengah tantangan
iklim saat ini, termasuk dampak musim panas yang berkepanjangan dan potensi
bencana alam.
"Kita harus tetap berupaya menjaga harga
bahan-bahan pokok ini untuk dapat terjaga dan dapat terjangkau oleh
masyarakat," tegas Tomsi Tohir.
Selain isu ketahanan pangan, agenda rapat juga
menyoroti urgensi penyediaan hunian melalui Program 3 Juta Rumah, sebuah
program prioritas yang diamanatkan langsung oleh Presiden melalui Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN).
Pemerintah pusat melalui Plt. Dirjen Perumahan
dan Kawasan Permukiman (PKP), Teddy Paul, menyampaikan capaian positif
implementasi peraturan kepala daerah terkait pembebasan Persetujuan Bangunan
Gedung (PBG) dan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) yang telah
mencapai 100% di 509 kabupaten/kota.
Teddy Paul merincikan, khusus untuk Masyarakat
Berpenghasilan Rendah (MBR), realisasi pembebasan BPHTB hingga Oktober 2026
tercatat mencapai 42.636 penerima manfaat. Sementara itu, untuk target PBG 0
Rupiah bagi MBR tahun 2026, telah tercapai 183.121 unit dari target 206.954
unit.
Pemerintah pusat mendorong percepatan bagi 211
kabupaten/kota yang belum mengkonfirmasi data jumlah pembebasan retribusi PBG 0
rupiah, serta 33 provinsi terkait konfirmasi data BPHTB 0 rupiah.
Terkait perkembangan inflasi terkini, Direktur
Statistik Harga Badan Pusat Statistik (BPS), Sarpono, memaparkan bahwa inflasi
tahun kalender (year-to-date) pada September 2026 berada pada level 2,17%.
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau serta transportasi tercatat sebagai
penyumbang inflasi terbesar.
Sarpono juga menggarisbawahi tren kenaikan
Indeks Perkembangan Harga (IPH) di 36 provinsi pada minggu ketiga Oktober 2026,
di mana komoditas cabai merah dan cabai rawit menjadi penyumbang utama.
Tercatat, rata-rata harga cabai merah dan cabai rawit nasional saat ini berada
di atas harga acuan penjualan, yang berdampak pada lebih dari 269
kabupaten/kota.
Menanggapi lonjakan harga komoditas cabai yang
mendominasi inflasi saat ini, Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Kementerian
Pertanian (Kementan), Sudi Martiyanto, menjelaskan bahwa secara agregat
produksi nasional, ketersediaan cabai rawit (sekitar 134.000 ton) dan cabai
besar (sekitar 117.000 ton) sebenarnya sangat memadai untuk memenuhi permintaan
bulanan yang berkisar 70.000 hingga 80.000 ton.
"Permasalahan utama yang menjadi titik
diskusi selama ini adalah persoalan distribusi," jelas Sudi Martiyanto.
Ia juga mencatat bahwa tren harga cabai merah
keriting di wilayah Sumatera, seperti di Kabupaten Solok (Rp70.000), Kabupaten
Karo (Rp62.000), dan Aceh (mendekati Rp60.000) terpantau lebih tinggi
dibandingkan wilayah lain.
Sebagai tindak lanjut konkret penanganan harga
cabai, Kementerian Pertanian mulai besok akan menerjunkan 5 tim khusus ke
daerah-daerah dengan harga cabai tertinggi. Tim ini bertugas memberikan bantuan
intervensi berupa bibit, pupuk, dan sarana produksi pertanian (saprodi), serta
melakukan pemantauan langsung yang evaluasinya akan dilaporkan kepada kepala
daerah setempat.
Sejalan dengan arahan tersebut, Pemerintah
Provinsi Lampung berkomitmen untuk terus proaktif mengamankan rantai distribusi
pasokan pangan di daerah, serta mempercepat regulasi pendukung guna memastikan
kelancaran pelaksanaan Program 3 Juta Rumah bagi kesejahteraan masyarakat
Lampung. [MFH/Pemerintah Provinsi Lampung]











