- Jamnas XIV American Jeep di Lamsel, 850 Peserta Jelajahi Destinasi Pesisir dan Buka Peluang Ekonomi
- Komoditas Unggulan Lampung Tampil di Panggung Global
- Sekda Dorong Penguatan Sistem Statistik Nasional melalui Evaluasi Sensus Ekonomi 2026
- Pisah Sambut di Mapolda Lampung, Bupati Lampung Barat Titip Harapan Keamanan
- Program Seragam Gratis Lambar Raih Validasi, Bupati Parosil Kantongi Nilai A
- Pelantikan Pengurus Risma Krui Selatan Warnai Pengajian BKMT di Balai Kencana
- Tingkatkan Kualitas Bacaan Al-Quran, BKMT Pesisir Barat Bina Majelis Taklim
- Siswa SDN 2 Air Naningan Raih Juara 1 Membaca Aksara Lampung FTBI 2026
- Kapolres Tanggamus Pimpin Sertijab Kabaglog, Tekankan Efisiensi dan Transparansi Logistik
- Tembus Jalur Laut ke Martanda, Kadinkes Soroti Kebutuhan Tenaga dan Sarana Kesehatan
Buka Musda XI MUI, Pemprov Lampung Dorong Sinergi Pembangunan Fisik dan Spiritual


BANDAR LAMPUNG, MFH,-- Pemerintah Provinsi
Lampung menegaskan pentingnya kolaborasi antara ulama dan umara dalam membina
moral generasi muda serta mempercepat ketahanan ekonomi umat berbasis syariah.
Hal tersebut disampaikan Gubernur Lampung dalam
sambutan tertulis yang disampaikan oleh Asisten Pemerintahan dan Kesra M. Firsada, saat membuka Musyawarah Daerah
(Musda) XI Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Lampung di Hotel Horison,
Kamis (15/10/26).
Baca Lainnya :
- Gubernur Mirza Kembali Raih Grand BAZNAS Awards 20260
- Pemprov Lampung Jajaki Kerja Sama Perdagangan dengan Tiongkok0
- Gubernur Mirza Dorong Wisata Tahura WAR untuk Perpanjang Lama Tinggal Wisatawan0
- Sekdaprov Lampung Marindo Kurniawan Raih Peringkat Kedua ADLG Awards 20260
- Wagub Jihan Dorong Pengelolaan Hutan Lampung yang Lestari dan Berkelanjutan0
Musda XI MUI Lampung Tahun 2026 ini
mengusung tema "Meneguhkan Khidmat Utama, Memperkuat Ketahanan Umat,
Membangun Lampung Berkeadaban". Musda XI MUI Provinsi Lampung merupakan
agenda permusyawaratan tertinggi organisasi yang digelar secara rutin setiap
lima tahun sekali.
Musda XI MUI Lampung dihadiri sebanyak 120
peserta yang mencakup jajaran Dewan Pertimbangan MUI Provinsi, Dewan Pimpinan
MUI Provinsi, pengurus MUI kabupaten/kota se-Provinsi Lampung, serta perwakilan
ormas Islam, pondok pesantren, dan perguruan tinggi Islam.
Gubernur Lampung dalam sambutan tertulis yang
disampaikan oleh Asisten Pemerintahan & Kesra, M. Firsada, menekankan bahwa
pembangunan fisik dan penguatan spiritualitas keagamaan harus berjalan
beriringan demi menyongsong masa depan daerah yang berkemajuan.
"Pembangunan tanpa agama akan
kehilangan arah, sementara agama tanpa pembangunan akan kehilangan daya.
Keduanya harus berjalan berdampingan sejalan dengan semangat 'Bersama Lampung
Maju Menuju Indonesia Emas'," ujar Gubernur.
Menurut Gubernur, MUI memiliki
peran strategis sebagai pelayan umat (Khadimul Ummah) sekaligus mitra terdekat
pemerintah (Shadiqul Hukumah). Peran ganda ini sangat relevan di tengah
dinamika kependudukan Lampung tahun 2026, di mana 68,3 persen penduduknya
merupakan usia produktif dan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) 2025 telah berada
pada angka 73,98.
Pemerintah Provinsi Lampung
memandang bahwa persoalan maraknya paham intoleran di media sosial,
penyalahgunaan narkoba, hingga degradasi moral pada generasi muda bukan semata
persoalan penegakan hukum, melainkan menyentuh akar keimanan dan akhlak. Oleh
sebab itu, suara penyejuk dan bimbingan para ulama sangat dinantikan
masyarakat.
Disamping pembinaan akhlak,
Gubernur Lampung menyoroti pentingnya kemandirian ekonomi umat. Mengingat
indeks inklusi keuangan syariah nasional baru mencapai 13,41 persen, Pemprov
Lampung mengajak MUI memaksimalkan potensi 1.008 ASN Penyuluh Agama Islam di
Lampung guna memasifkan literasi syariah serta melindungi masyarakat dari
jeratan pinjaman daring (pinjol) ilegal dan investasi bodong.
"Umat yang kuat imannya harus
kuat pula ekonominya. Saya mengajak MUI juga mengawal ekonomi syariah sebagai
arus utama. Mulailah dari koperasi pesantren, zakat, infak, sedekah, dan wakaf
produktif," tegasnya.
Pada kesempatan tersebut, Pemprov Lampung
juga menyambut positif peluncuran Gerakan Nasional Wajib Halal Oktober (WHO)
2026. Mengingat dari 492.986 UMKM di Lampung sebanyak 99,5 persen merupakan
usaha mikro, termasuk sektor kuliner yang mencatatkan pertumbuhan tertinggi,
sertifikasi halal dipandang sebagai instrumen mutlak untuk perlindungan
konsumen dan peningkatan daya saing usaha.
Tercatat per Juli 2026, sebanyak
225.582 produk di Lampung telah mengantongi sertifikat halal. Pemprov Lampung
berkomitmen penuh menggerakkan dinas terkait dan merangkul bupati/walikota guna
memperluas fasilitasi sertifikasi halal tersebut bersama LPPOM MUI dan pondok
pesantren.
Mengakhiri sambutannya, Gubernur
berharap Musda XI MUI Lampung mampu menghasilkan rumusan kepengurusan dan
program kerja yang amanah serta memperkokoh fungsi MUI sebagai pengayom
bersama.
"Kami berharap MUI terus
menjadi tenda besar umat, menjadi tempat bertemunya semua ormas Islam, menjadi
penyejuk di tengah perbedaan. Khidmat, ketahanan, dan keberadaban akan terwujud
bila ulama dan umara bergerak bersama," pungkas Gubernur.
Ketua MUI Provinsi Lampung, Prof. Moh. Mukri
menggarisbawahi bahwa di tengah kemajemukan masyarakat Lampung yang kaya akan
keragaman etnis, suku, dan budaya, soliditas antarorganisasi keagamaan menjadi
kunci utama stabilitas daerah. MUI dinilainya berhasil menjaga kerukunan
internal umat beragama karena senantiasa mengedepankan prinsip saling
menghormati.
"Kita bukan hanya di situ
ranah NU, hanya Muhammadiyah, hanya yang lain, bukan. Kita sama-sama, saling
'nguwongke', saling menghargai satu dengan yang lain. Sehingga nyaris di
kepengurusan MUI selama 5 tahun kita nggak pernah ada keributan, kegaduhan.
Karena apa? Kita jadi payung besar. Jadi payung besar bisa berteduh siapa
saja," tuturnya.
Prof. Mukri kemudian menyoroti
peran strategis ulama dan cendekiawan dalam menyikapi persoalan sosial serta
menjawab tantangan moral zaman. Menurutnya, umat saat ini membutuhkan
keteladanan nyata di tengah maraknya polarisasi dan disrupsi sosial.
Guna mewujudkan kepemimpinan umat
yang mengayomi, ia mengajak seluruh ulama dan jajaran pengurus MUI untuk
senantiasa menerapkan sikap moderasi beragama (wasathiyah) serta menanggalkan
sikap eksklusif.
"Pendapat saya benar, tapi
kemungkinan salah. Pendapat orang salah, tapi kemungkinan di sana ada
kebenaran. Insyaallah kalau ini kita pegang, jadi adab kita, kita menjadi orang
yang moderat. Dan kehadiran kita, MUI di tengah-tengah masyarakat, bukan
membuat masyarakat takut, tapi juga masyarakat menjadi masyarakat yang nyaman,
aman, atau menjadi negara yang baldatun thoyyibatun wa robbun ghofuur,"
ucap Prof. Mukri.
Sementara itu, Sekjen MUI Buya Amirsyah
Tambunan menggarisbawahi tiga tugas pokok yang wajib dipegang teguh secara
konsisten oleh seluruh struktur kepengurusan majelis ulama di semua tingkatan.
"Tiga tugas utama MUI yang
secara konsisten kita jadikan sebagai khidmah bersama, yaitu sebagai pelayan
umat, yaitu sebagai khadimul ummah, sekaligus juga pelindung umat kita dari
segala bentuk pemahaman yang menyimpang, pemahaman yang tidak sesuai dengan
prinsip-prinsip keislaman Ahlussunnah wal Jama'ah, yaitu sebagai himayatul
ummah. Bisa kita implementasikan dengan sebaik-baiknya. Yang ketiga, tentu juga
bisa kita secara konsisten untuk menjadikan MUI ini sebagai mitra pemerintah,
yaitu sebagai shadiqul hukumah," ujar Amirsyah.
Buya Amirsyah menguraikan analogi gerakan
organisasi kelembagaan Islam. Mengutip pesan KH. Ma'ruf Amin, ia menekankan
agar penguatan MUI bersama jejaring ormas Islam, pondok pesantren, dan
akademisi perguruan tinggi bertindak seperti dinamo, bergerak secara sistemik,
terukur, dan menggerakkan seluruh lini pembinaan masyarakat.
Terkait pelaksanaan fungsi
penegakan moral dan ketertiban sosial, Sekjen MUI Pusat ini turut mendorong
implementasi kemitraan nyata bersama institusi Kepolisian Republik Indonesia.
Menurutnya, pembagian peran antara otoritas keagamaan dan penegak hukum menjadi
modal penting bagi terciptanya stabilitas kamtibmas yang harmonis.
Di samping stabilitas domestik,
Amirsyah mengingatkan posisi tawar ulama Indonesia di mata dunia Islam
internasional yang dinilai berhasil merawat kerukunan berkat independensi
lembaga keumatan dan keteguhan memegang trilogi ukhuwah, yakni ukhuwah
Islamiyah, ukhuwah wathaniyah, dan ukhuwah insaniyah. Ia pun menyerukan agar
kepemimpinan MUI tetap tegak lurus pada amanah konstitusi.
Menutup arahannya, Buya Amirsyah
berpesan kepada seluruh muktamirin agar memandang kepemimpinan dan jabatan
struktural di majelis ulama sebagai wujud amanah dan pertanggungjawaban moral
di hadapan Allah SWT.
Pada momentum pembukaan ini,
rangkaian kegiatan turut diisi dengan peluncuran Gerakan Nasional Wajib Halal
Oktober (WHO) Tahun 2026 yang ditandai lewat penyerahan sertifikat halal secara
simbolis kepada belasan perwakilan pelaku usaha di Provinsi Lampung. [MFH/Pemerintah
Provinsi Lampung]











