- Antisipasi Gagal Panen BBWS Bersama TBHBUN Lamsel Siapkan Kompanisasi
- Bupati Buka Pelatihan Prakstisi Kewirausahaan Mandiri MKM di Kabupaten Pringsewu
- Pemkot Metro dan DPRD Sepakati Raperda Perubahan APBD 2026
- Wakil Bupati Pesisir Barat Buka Sosialisasi KTP, KTA, TPPO, ABH, dan Perkawinan Anak
- Pemprov Perkuat Pertanian Modern untuk Tingkatkan Produktivitas dan Pendapatan Petani
- Ngupi Jejama jadi Ruang Perkuat Koordinasi Pemkab Tanggamus, Dua Pekon Raih Penghargaan PBB
- Pemprov Lampung Dorong Potensi Desa di Lampung Barat melalui Program Desaku Maju
- Lomba Video Konten Literasi 2026 Dorong Kreativitas Generasi Muda Pesawaran
- Pemkab Lampung Timur Bahas Masterplan Integrated Area Development
- Pemkot Metro Lantik 34 Pejabat, Dorong ASN Adaptif dan Inovatif
Ketahanan Pangan Digaungkan, Aksesnya Dibiarkan: Petani di Sukaraja Bergerak Sendiri

PALAS, MFH, —Rabu 22 April 2026 dari pelosok
Dusun 1 Sukaraja,tersaji kisah perjuangan yang menggetarkan hati. Di saat
ketahanan pangan terus digaungkan, para petani di Desa Sukaraja justru harus
bertahan dengan kekuatan sendiri demi mempertahankan akses menuju lahan yang
menjadi sumber hidup mereka.
Selama bertahun-tahun, jembatan bambu yang
menjadi satu-satunya jalur penghubung kerap rusak bahkan hanyut saat musim
hujan tiba. Kondisi tersebut membuat aktivitas pertanian terganggu, terutama
saat masa panen.
Merasa lelah dengan situasi yang tak kunjung
mendapat solusi, para petani akhirnya mengambil inisiatif sendiri. Mereka
bergotong royong mengumpulkan dana dari hasil panen sedikit demi sedikit selama
kurang lebih tiga tahun.
Baca Lainnya :
- Warga Kalirejo Resah, Uang Rutin Hilang Setiap Minggu Sekali0
- Sepi Pengunjung Usai Diambil Alih Provinsi, TPI Dermaga BOM Lamsel Lesu0
- Babinsa Koramil 421-08 Palas Gelar Komsos, Tanamkan Kedisiplinan Belajar ke Siswa0
- Mertua Tewas Dibacok Menantu di Jati Agung, Pelaku Serahkan Diri Usai Lakukan Aksi0
- Pemprov Lampung Perkuat Peran Pesantren Cetak SDM Unggul dan Berkarakter0
Dari
upaya tersebut, terkumpul dana sekitar Rp50 juta yang kini mulai digunakan
untuk membangun jembatan secara bertahap.
Salah satu perangkat Desa Sukaraja
mengungkapkan bahwa pengajuan bantuan sebenarnya sudah beberapa kali dilakukan
kepada pemerintah daerah sejak masa kepemimpinan Bupati Nanang Ermanto. Namun
hingga kini, belum ada realisasi pembangunan dengan alasan lokasi tersebut
bukan merupakan jalur utama permukiman warga.
“Padahal akses ini sangat penting karena
menghubungkan lahan pertanian seluas kurang lebih 200 hektare yang menjadi
sumber penghidupan masyarakat,” ujarnya.
Seorang petani setempat, Eko, mengaku kondisi
ini sudah lama mereka rasakan. Setiap musim hujan, jembatan harus diperbaiki
berulang kali karena sering rusak diterjang arus air.
“Kalau banjir, jembatan bisa hanyut. Kadang
kami harus memperbaiki sampai dua kali dalam satu musim panen,” katanya.
Dengan kondisi tersebut, para petani akhirnya
sepakat untuk tidak lagi bergantung sepenuhnya pada bantuan. Semangat gotong
royong menjadi kekuatan utama mereka untuk tetap bertahan.
Meski begitu, dana yang telah terkumpul masih
jauh dari cukup untuk membangun jembatan permanen yang kokoh dan aman.
Pembangunan pun dilakukan secara bertahap sesuai kemampuan yang ada.
Keberadaan lahan pertanian seluas 200 hektare
di Kecamatan Palas ini memiliki peran penting sebagai salah satu penopang
produksi pangan daerah.
Namun keterbatasan infrastruktur membuat
distribusi hasil panen menjadi lebih sulit dan mahal, bahkan berisiko bagi para
petani.
Kisah dari Desa Sukaraja ini bukan sekadar
tentang pembangunan jembatan, melainkan gambaran nyata ketangguhan masyarakat
dalam menghadapi keterbatasan.
Di sisi lain, peristiwa ini juga menjadi
pengingat bahwa akses menuju lahan pertanian merupakan bagian penting dalam
mendukung ketahanan pangan.
Saat ini, pembangunan jembatan swadaya tersebut
masih terus berjalan. Para petani pun tetap membuka harapan adanya dukungan
dari berbagai pihak agar jembatan yang layak dan permanen dapat segera
terwujud. [MFH/Jun]











