Ketahanan Pangan Digaungkan, Aksesnya Dibiarkan: Petani di Sukaraja Bergerak Sendiri

By redaksi 22 Apr 2026, 22:39:32 WIB Saburai
Ketahanan Pangan Digaungkan, Aksesnya Dibiarkan: Petani di Sukaraja Bergerak Sendiri

PALAS, MFH, —Rabu 22 April 2026 dari pelosok Dusun 1 Sukaraja,tersaji kisah perjuangan yang menggetarkan hati. Di saat ketahanan pangan terus digaungkan, para petani di Desa Sukaraja justru harus bertahan dengan kekuatan sendiri demi mempertahankan akses menuju lahan yang menjadi sumber hidup mereka.

Selama bertahun-tahun, jembatan bambu yang menjadi satu-satunya jalur penghubung kerap rusak bahkan hanyut saat musim hujan tiba. Kondisi tersebut membuat aktivitas pertanian terganggu, terutama saat masa panen.

Merasa lelah dengan situasi yang tak kunjung mendapat solusi, para petani akhirnya mengambil inisiatif sendiri. Mereka bergotong royong mengumpulkan dana dari hasil panen sedikit demi sedikit selama kurang lebih tiga tahun.

Baca Lainnya :

 Dari upaya tersebut, terkumpul dana sekitar Rp50 juta yang kini mulai digunakan untuk membangun jembatan secara bertahap.

Salah satu perangkat Desa Sukaraja mengungkapkan bahwa pengajuan bantuan sebenarnya sudah beberapa kali dilakukan kepada pemerintah daerah sejak masa kepemimpinan Bupati Nanang Ermanto. Namun hingga kini, belum ada realisasi pembangunan dengan alasan lokasi tersebut bukan merupakan jalur utama permukiman warga.

“Padahal akses ini sangat penting karena menghubungkan lahan pertanian seluas kurang lebih 200 hektare yang menjadi sumber penghidupan masyarakat,” ujarnya.

Seorang petani setempat, Eko, mengaku kondisi ini sudah lama mereka rasakan. Setiap musim hujan, jembatan harus diperbaiki berulang kali karena sering rusak diterjang arus air.

“Kalau banjir, jembatan bisa hanyut. Kadang kami harus memperbaiki sampai dua kali dalam satu musim panen,” katanya.

Dengan kondisi tersebut, para petani akhirnya sepakat untuk tidak lagi bergantung sepenuhnya pada bantuan. Semangat gotong royong menjadi kekuatan utama mereka untuk tetap bertahan.

Meski begitu, dana yang telah terkumpul masih jauh dari cukup untuk membangun jembatan permanen yang kokoh dan aman. Pembangunan pun dilakukan secara bertahap sesuai kemampuan yang ada.

Keberadaan lahan pertanian seluas 200 hektare di Kecamatan Palas ini memiliki peran penting sebagai salah satu penopang produksi pangan daerah.

Namun keterbatasan infrastruktur membuat distribusi hasil panen menjadi lebih sulit dan mahal, bahkan berisiko bagi para petani.

Kisah dari Desa Sukaraja ini bukan sekadar tentang pembangunan jembatan, melainkan gambaran nyata ketangguhan masyarakat dalam menghadapi keterbatasan.

Di sisi lain, peristiwa ini juga menjadi pengingat bahwa akses menuju lahan pertanian merupakan bagian penting dalam mendukung ketahanan pangan.

Saat ini, pembangunan jembatan swadaya tersebut masih terus berjalan. Para petani pun tetap membuka harapan adanya dukungan dari berbagai pihak agar jembatan yang layak dan permanen dapat segera terwujud. [MFH/Jun]




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment