- Bupati Buka Pelatihan Prakstisi Kewirausahaan Mandiri MKM di Kabupaten Pringsewu
- Pemkot Metro dan DPRD Sepakati Raperda Perubahan APBD 2026
- Wakil Bupati Pesisir Barat Buka Sosialisasi KTP, KTA, TPPO, ABH, dan Perkawinan Anak
- Pemprov Perkuat Pertanian Modern untuk Tingkatkan Produktivitas dan Pendapatan Petani
- Ngupi Jejama jadi Ruang Perkuat Koordinasi Pemkab Tanggamus, Dua Pekon Raih Penghargaan PBB
- Pemprov Lampung Dorong Potensi Desa di Lampung Barat melalui Program Desaku Maju
- Lomba Video Konten Literasi 2026 Dorong Kreativitas Generasi Muda Pesawaran
- Pemkab Lampung Timur Bahas Masterplan Integrated Area Development
- Pemkot Metro Lantik 34 Pejabat, Dorong ASN Adaptif dan Inovatif
- Metro Perkuat Transformasi Pendidikan, 33 SMP Tampilkan Kreativitas dan Inovasi Pembelajaran
Pemprov Perkuat Pertanian Modern untuk Tingkatkan Produktivitas dan Pendapatan Petani


METRO, MFH,-- Wakil Gubernur Jihan Nurlela
menegaskan pentingnya penerapan teknologi dan modernisasi dalam memajukan
sektor pertanian daerah guna meningkatkan pendapatan petani.
Hal tersebut disampaikan Wagub Jihan saat
melaksanakan Gerakan Tanam Padi Pertanian Modern Advanced Agriculture System
(PM-AAS) serentak seluruh Indonesia, di Kelurahan Yosomulyo Kecamatan Metro
Pusat, Rabu (30/9/2026).
Baca Lainnya :
- Pemkot Metro Lantik 34 Pejabat, Dorong ASN Adaptif dan Inovatif 0
- Metro Perkuat Transformasi Pendidikan, 33 SMP Tampilkan Kreativitas dan Inovasi Pembelajaran0
- Kota Metro Raih Juara I TPID Sumatera, Bukti Pengendalian Inflasi Berbasis Kerja Kolaboratif0
- Program H2M KWT Seroja Rejomulyo Dorong Lingkungan Hijau, dan Ketahanan Pangan0
- Ketua TP-PKK Provinsi Lampung Canangkan Desa Tapis di Ganjar Asri0
Wagub Jihan memaparkan bahwa sektor
pertanian merupakan tulang punggung perekonomian Provinsi Lampung. Dari total
Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) daerah yang menembus lebih dari Rp500
triliun, hampir 28 persen disokong oleh sektor pertanian, dengan serapan tenaga
kerja mencapai 44 persen populasi.
"44 persen masyarakat kita
yang bekerja di bidang pertanian, perikanan, dan hortikultura. Maka kalau ini
jadi fokus perhatian kita di Provinsi Lampung, fokus kesejahteraannya, fokus
produktivitas pertaniannya, maka insya Allah Lampung akan semakin maju dan juga
semakin sejahtera pula," ujar Wagub Jihan.
Wagub selanjutnya menjelaskan bahwa
adopsi sistem modern PM-AAS tidak boleh hanya dimaknai sebatas pemanfaatan alat
mekanisasi baru. Esensi utamanya adalah menciptakan efisiensi beban produksi
sekaligus memperbesar keuntungan para petani.
"Pentingnya Pertanian Modern
Advanced Agriculture System atau PM-AAS ini menjadi salah satu instrumen
modernisasi pertanian yang tidak boleh dimaknai sekadar menghadirkan mesin atau
teknologi baru ke sawah, tetapi lebih dari itu bagaimana efisiensi cost
pertanian, produktivitasnya meningkat, dan tentu ada margin yang lebih besar
lagi untuk dapat diuntungkan oleh petani para petani kita," jelasnya.
Wagub juga membeberkan keberhasilan
percontohan PM-AAS di Kabupaten Lampung Tengah seluas 100 hektare yang dikelola
77 petani dan berhasil mencatatkan hasil panen mencapai 11,2 ton per hektare.
Selain itu, secara agregat pada tahun sebelumnya Lampung memproduksi 3,2 juta
ton padi yang menempatkan provinsi ini dalam posisi surplus beras secara
nasional.
Guna menjaga stabilitas ekosistem
pangan dari hulu ke hilir, Pemerintah Provinsi Lampung terus menyalurkan
intervensi program, mulai dari pemberian pupuk hayati cair untuk menjaga
kesuburan tanah, penyediaan mesin pengering gabah (bed dryer), hingga penguatan
peran BUMDes dan koperasi desa dalam memangkas rantai tata niaga panen.
"Dengan ekosistem seperti ini
tentu saja petani memiliki lebih banyak pilihan ke depannya dalam mengelola
hasil pertanian. Saya berharap bantuan dan kegiatan hari ini menjadi bagian
dari proses peningkatan produktivitas kesejahteraan petani, khususnya di Kota
Metro dan seluruh Provinsi Lampung," pungkas Wagub Jihan.
Sementara itu, Staf Ahli Menteri Pertanian
Bidang Hubungan Kelembagaan, Regulasi, dan Reformasi Birokrasi Tin Latifah mengungkapkan bahwa akselerasi
swasembada pangan yang telah berhasil diraih harus terus dijaga
keberlanjutannya secara konsisten.
"Bapak Presiden kan maunya
kita swasembada pangan. Waktu itu swasembada pangannya 4 tahun, ternyata
dipersingkat menjadi 3 tahun, terus dipersingkat lagi menjadi 1 tahun.
Alhamdulillah itu tercapai," ujar Tin Latifah.
Ia menambahkan, capaian tersebut
tidak lepas dari kolaborasi nyata di lapangan antara petani, penyuluh, dan
jajaran pemerintah daerah. Namun, memasuki tahun 2026, tantangan iklim ekstrem
menuntut adanya lompatan inovasi agar produktivitas gabah tidak mengalami
kemandekan.
"Produktivitas padi kita dari
tahun 2010 itu stagnan di angka 5 ya, 5 ton, 5,1, 5,2, terakhir 5,3. Kita harus
punya lompatan teknologi, kita harus berpikir di luar yang kebiasaannya. Nah,
ini PM-AAS sudah dicoba di beberapa provinsi, memang rata-ratanya semua di atas
10 ton. Kemarin di Lampung Tengah ada yang 12 ton, ada yang 11 ton, ada yang 10
ton ya, rata-ratanya 11 koma sekian. Jadi ini bukan angan-angan, ini sudah
terealisasi," jelasnya.
Terkait dengan target
internasional, Tin Latifah memaparkan bahwa Food and Agriculture Organization
(FAO) memprediksi produksi beras Indonesia pada 2026 berpotensi mencapai 38,6
juta ton dan masuk jajaran empat besar dunia. Melalui implementasi PM-AAS
seluas 1 juta hektare secara nasional di tahun 2026 dan 3 juta hektare pada
2027, rata-rata produktivitas nasional diharapkan mampu terdongkrak secara
signifikan.
Khusus di Provinsi Lampung, program
PM-AAS dialokasikan seluas 35.100 hektare, dengan target awal pertanaman bulan
September sebesar 2.500 hektare yang terus dikejar hingga akhir tahun.
Tin Latifah kemudian mengungkapkan bahwa kondisi cadangan beras nasional
saat ini sangat kokoh.
"Selama 10 bulan ke depan insya Allah stok
beras masih aman. Ketika stok kita aman, Indonesia tidak melakukan impor beras
dan dampaknya harga beras nasional langsung turun. Artinya apa, kita tuh pasar
terbesar. Makanya Pak Presiden melalui Bapak Menteri, kedaulatan pangan,
ketersediaan pangan harus bisa kita penuhi secara mandiri," paparnya.
Ia juga menekankan bahwa percepatan
Luas Tambah Tanam (LTT) pada September menjadi momentum krusial penentu
kebijakan pangan kedepan. Padi yang ditanam pada akhir musim tanam ini
diproyeksikan panen pada Desember hingga Januari, sehingga ketersediaan stok
dalam negeri tercukupi secara mandiri tanpa memerlukan opsi impor di tahun
2027.
Guna menjamin kelancaran program
PM-AAS, Kementan bersama Pemprov Lampung turut menginstruksikan pengawalan
ketat terhadap ketersediaan air irigasi bersama BBWS, keandalan listrik bagi
modernisasi pertanian melalui PLN, serta kepastian distribusi pupuk bersubsidi
bersama PT Pupuk Indonesia agar tidak terjadi keterlambatan di tingkat petani.
[MFH/Pemerintah Provinsi Lampung]










