- Musrenbang RKPD 2027 Tekankan Sinergi dan Aksi Nyata Perkuat Ekonomi Desa di Tubaba
- Wagub Jihan Nurlela Buka Puasa Bersama Anak Panti di Panti Sosial Asuhan Anak Budi Asih
- Anggota DPRD Ahmad Al-Akhran Peduli dan Turun Langsung Bantu Korban Kebakaran di Palas
- Safari Ramadhan Gabungan Tiga Kecamatan, Wabup Tekankan Transparansi dan Kesederhanaan
- Plt I Komang Koheri Hadiri Safari Ramadan di Rumbia, Serahkan Bantuan untuk Masjid Nurul Iman
- Refleksi Satu Tahun Kepemimpinan Bupati Lampura, Tegaskan Evaluasi Terukur dan Percepatan Program
- Safari Ramadhan Bupati Momentum Perkuat Silaturahmi dan Kepedulian Sosial Pemerintah
- Wabup Pimpin Sertijab Camat Pekalongan dan Metro Kibang serta Ketua PKK Kecamatan
- Safari Ramadhan Pemprov di Ponpes As Syaroniah, Perkuat Silaturahmi dan Komitmen Pembangunan
- Silaturahmi Ramadan di Negeri Katon Dibarengi dengan Gelaran Pasar Murah
Duduk Lesehan Bahas 7 Tuntutan Mahasiswa, Egi: Kritik Boleh, Demokrasi Harus Dewasa

KALIANDA, MFH,-- Radityo Egi
Pratama memilih duduk lesehan bersama mahasiswa saat menerima Aliansi Cipayung
Plus dan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) se-Lampung Selatan di Pendopo Agung,
Rumah Dinas Bupati L, Selasa (3/3/2026).
Dalam suasana dialog yang hangat
namun kritis itu, Bupati Egi menegaskan komitmennya membuka ruang
seluas-luasnya terhadap kritik dan aspirasi publik.
Pertemuan tersebut merupakan tindak
lanjut atas aksi penyampaian aspirasi mahasiswa yang digelar pada 23 Februari
2026 lalu. Sarasehan ini menjadi forum untuk membedah tujuh poin tuntutan
evaluasi yang sebelumnya disampaikan.
Baca Lainnya :
- Kemendagri Soroti Inflasi Tinggi, TPID Lampung Selatan Perkuat Pengawasan Harga0
- Pemkab Lampung Selatan Siapkan Empat Strategi Kunci Tekan Stunting0
- Sudah Terima Sertifikasi, Guru Honorer Tak Boleh Lagi Digaji dari Dana BOS0
- Jaga Harga Tetap Stabil Saat Ramadan, Pemkab Lamsel Gelar Operasi Pasar Murah0
- Babinkantibmas Desa Blambangan Beri Bantuan Kepada Warga Korban Kebakaran0
Dalam dialog terbuka itu, Ketua
Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Lampung Selatan, Sandi Afrizal,
menyampaikan bahwa kehadiran mereka bukan sekadar seremonial, melainkan bagian
dari upaya mengawal arah pembangunan daerah.
“Kehadiran kami di sini adalah
bentuk tindak lanjut dari aksi Cipayung Plus dan BEM hari Senin kemarin. Kami
ingin membedah tujuh tuntutan evaluasi kami agar proyeksi pembangunan Lampung
Selatan dalam empat tahun ke depan bisa jauh lebih baik,” ujar Sandi di hadapan
Bupati dan jajaran pejabat.
Dalam forum tersebut, Bupati Egi
didampingi Sekretaris Daerah Supriyanto, Asisten Ekonomi dan Pembangunan,
Kepala Bappeda, Kepala Kesbangpol, Pelaksana tugas Kepala Dinas Pendidikan,
serta Ketua Forum CSR Lampung Selatan. Kehadiran lengkap jajaran ini
menunjukkan keseriusan pemerintah daerah dalam merespons aspirasi mahasiswa.
Menanggapi paparan mahasiswa, Egi
menyampaikan apresiasi atas keberanian dan kepedulian mereka terhadap
pembangunan daerah. Namun ia juga memberi catatan terkait dinamika komunikasi
dalam audiensi tersebut.
“Saya ucapkan terima kasih atas
kehadiran rekan-rekan. Tentu saya mengapresiasi segala saran dan kritik. Namun
jujur, dari paparan tadi, saya belum mendengar kalimat terima kasih, yang
disampaikan melulu tuntutan. Padahal, program-program yang kami jalankan saat
ini dirasakan langsung manfaatnya oleh rakyat. Tapi it’s okay, di sinilah kita
diajarkan apa yang namanya dewasa dalam berdemokrasi,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menandai
suasana diskusi yang terbuka dan lugas, namun tetap dalam koridor dialog
konstruktif. Bupati Egi menegaskan dirinya bukan tipe pemimpin yang anti
kritik, termasuk di ruang digital.
“Saya bukan tipe orang yang
anti-kritik. Di media sosial saja, jika ada 1.000 atau 2.000 orang mengkritik,
saya terima dengan baik. Kalaupun saya anti-kritik, saya pasti sudah menutup
kolom komentar sejak lama,” tegasnya.
Lebih jauh, ia menekankan bahwa
pemerintah daerah berkomitmen menjalankan tata kelola yang inklusif dan
transparan, serta membuka akses informasi publik seluas-luasnya bagi media
maupun masyarakat.
Sarasehan tersebut diharapkan
menjadi titik temu antara mahasiswa sebagai kontrol sosial dan pemerintah
sebagai eksekutif, sehingga kritik yang disampaikan tidak berhenti pada
tuntutan, melainkan bermuara pada kolaborasi untuk kemajuan Kabupaten Lampung
Selatan. [MFH/Gil/Diskominfo Lamsel]











3.jpg)