- Ketika Krakatau Mengaum di Atas Kanvas: Seni Sebagai Penjaga Ingatan Bencana
- Bondo Nekad di Atas Kanvas: Petualangan Bambang Suroboyo Menangkap Jiwa Bencana
- Polsek Pulau Panggung Pastikan Evakuasi Truk Tronton di Leter S Talang Jawa Selesai
- Pemprov Lampung Sambut Rapimnas IPPNU
- Polsek Pulau Panggung Bantu Evakuasi Truk Tronton Diduga Rem Blong di Tanjakan Leter S
- Ketua DPRD Tinjau Penataan Pasar Gisting, Pemkab Terus Tertibkan Pedagang
- Pemprov Dorong Optimalisasi PAD dan Penertiban Retribusi Infrastruktur Telekomunikasi
- Agnesia Bulan Marindo Buka Wedding Fair 2026
- Sambut Hari Bhayangkara ke-80, Polres Tanggamus Gelar Bakti Sosial di Tempat Ibadah
- Buntut Kesenjangan Upah, Buruh PT. Oasis Wood Industri Sampaikan Aspirasi di DPRD Lamsel
Bondo Nekad di Atas Kanvas: Petualangan Bambang Suroboyo Menangkap Jiwa Bencana

BANDAR LAMPUNG, MFH,-- Di sebuah ruang kerja
yang dipenuhi aroma tajam cat, kain kanvas, dan jejak-jejak eksperimen yang tak
pernah usai, Bambang Suroboyo duduk menatap lukisannya. Di hadapannya, ombak
menjulang seperti dinding langit yang siap runtuh.
Ombak itu bukan ombak biasa.
Ia adalah tsunami Krakatau.
Baca Lainnya :
- Pemprov Lampung Sambut Rapimnas IPPNU0
- Pemprov Dorong Optimalisasi PAD dan Penertiban Retribusi Infrastruktur Telekomunikasi0
- Agnesia Bulan Marindo Buka Wedding Fair 20260
- Pemprov Lampung Pertahankan WTP 12 Kali Berturut-turut0
- Gubernur Mirza Ajak Perantau Minang Berkolaborasi Bangun Lampung0
Di kanvas berukuran besar itu, laut tampak
bergolak liar. Langit merah membara, seolah terbakar dari dalam. Gunung
memuntahkan energi purba yang tak terbendung. Cahaya dan gelap bertabrakan
dalam satu ledakan visual yang nyaris membuat penonton merasa berdiri di tepi
bencana, merasakan cipratan air asin dan panas abu vulkanik di kulit mereka.
Namun bagi Bambang Suroboyo—yang akrab disapa
Bambang SBY—lukisan itu bukan sekadar gambaran sebuah peristiwa sejarah atau
rekaman visual bencana.
“Itu adalah tenaga alam,” katanya, suaranya
tenang namun tegas. “Tenaga yang ingin saya tangkap, saya pahami, lalu saya
terjemahkan ke dalam bahasa seni.”
Bambang bukan pelukis yang puas berjalan di
jalan raya yang sudah dibuka orang lain. Sebagaimana karakter khas Arek
Suroboyo yang tumbuh dalam semangat keberanian dan keteguhan hati, ia memilih
membuka jalannya sendiri, menembus hutan belantara estetika yang belum
terpetakan.
Dari situlah lahir gagasan yang kemudian ia
sebut Realis Ekspresif Avonturisme.
Nama itu mungkin terdengar panjang dan asing di
telinga sebagian kritikus seni. Namun di balik istilah tersebut tersimpan
sebuah pandangan hidup yang sederhana, bahkan primitif dalam kemurniannya:
kenyataan tidak cukup hanya dilihat dengan mata, tetapi harus dirasakan dengan
seluruh indera dan jiwa.
Tiga Unsur dalam Satu Napas
Dalam aliran ciptaannya itu, Bambang memadukan
tiga unsur yang seolah bertentangan, namun ia paksa untuk berdamai.
Pertama, realisme. Bentuk gunung harus tetap
tampak sebagai gunung. Ombak tetap ombak. Langit tetap langit. Alam tidak boleh
kehilangan logikanya, karena penghormatan pertama seorang seniman adalah pada
kebenaran objek.
Kedua, ekspresivisme. Di sinilah emosi
mengambil alih. Warna boleh menyala lebih terang daripada kenyataan fisik.
Sapuan kuas boleh bergerak lebih liar daripada bentuk aslinya. Sebab, dalam
momen bencana, emosi manusia—takut, kagum, kecil—memiliki hak untuk berbicara
lebih keras daripada fakta fisika.
Dan ketiga, avonturisme.
Inilah unsur yang paling personal. Yang paling
dekat dengan jiwanya. Yang paling Surabaya.
Bagi Bambang, avonturisme bukan sekadar
petualangan fisik mendaki gunung atau menyusuri sungai. Ia adalah keberanian
mental menghadapi sesuatu yang lebih besar dari diri sendiri. Ia menyebutnya
sebagai semangat Bondo Nekad.
Bondo berarti modal. Nekad berarti keberanian
nekat.
Modal tekad. Modal keberanian. Modal keyakinan.
Dalam budaya Arek Suroboyo, bondo nekad bukan
berarti bertindak tanpa pikir panjang atau ceroboh. Ia adalah keberanian untuk
melangkah ketika orang lain masih ragu di garis start. Keberanian untuk mencoba
ketika peta jalan belum tersedia. Keberanian untuk gagal, demi menemukan cara
baru.
Semangat itulah yang dibawa Bambang ke dalam
karya-karyanya. Karena itu, tema-tema yang ia pilih jarang sekali yang ringan.
Ia tertarik pada letusan gunung, gelombang tsunami, badai dahsyat, sejarah
besar, dan peristiwa-peristiwa yang menunjukkan betapa kecilnya manusia di
hadapan semesta.
“Krakatau” menjadi salah satu simbol paling
kuat dalam pencariannya. Di sana ia menemukan segala sesuatu yang ia cari:
keindahan yang mengerikan, ketakutan yang mengagumkan, kehancuran yang
melahirkan kehidupan baru.
Seniman Sebagai Ilmuwan Hutan
Tetapi petualangan Bambang tidak berhenti pada
pilihan tema atau gaya lukis. Ia bahkan memilih menciptakan medianya sendiri,
menolak ketergantungan pada industri seni yang serba instan.
Di tengah dunia seni rupa kontemporer yang
lazim menggunakan bahan-bahan pabrikan impor, Bambang justru menempuh jalur
yang lebih panjang, lebih berdebu, dan lebih berisiko.
Ia bereksperimen. Meracik. Mencampur. Menguji.
Berulang kali, hingga bertahun-tahun.
Cat yang digunakan dalam sejumlah karya
besarnya bukan semata cat akrilik atau minyak yang dibeli dari toko seni. Ia
mengolah bahan-bahan organik dan anorganik yang diperoleh langsung dari kawasan
hutan di Sumatera Selatan dan Lampung. Ia turun ke alam, bukan hanya untuk
mencari inspirasi, tetapi untuk mencari materi.
Baginya, bahan bukan sekadar alat tempel. Bahan
adalah bagian dari jiwa karya. Cat yang berasal dari tanah dan tumbuhan hutan
tropis membawa memori tempat itu ke dalam kanvas.
Dari proses panjang yang menyerupai kerja
seorang alkemis itu, ia menemukan komposisi yang tidak hanya menghasilkan warna
yang kaya dan dalam, tetapi juga memiliki fungsi protektif. Lukisannya
terlindungi dari ancaman yang selama ini menjadi musuh bebuyutan para perupa di
negeri tropis: jamur, kelembaban tinggi, panas ekstrem, dan serangan serangga
perusak.
Begitu pula dengan kanvas.
Ia tidak sepenuhnya percaya pada bahan standar
yang umum digunakan. Kanvas, menurutnya, harus mampu bertahan menghadapi cuaca
dua musim yang ekstrem di Indonesia. Karena itu ia memilih dan mengolah
material khusus yang lebih kuat, lebih tahan terhadap kerusakan, dan lebih
sesuai dengan iklim nusantara.
Pendekatan itu membuat proses kreatifnya
menyerupai kerja seorang peneliti lapangan. Atau mungkin, seorang petualang
yang sedang menyiapkan perlengkapan untuk ekspedisi panjang.
Sistem, Bukan Sekadar Gaya
Di dunia seni rupa Indonesia, para pelukis
biasanya dikenal melalui gaya visual, tema tertentu, atau teknik khas. Bambang
mencoba melangkah lebih jauh. Ia membangun sebuah sistem.
Sebuah gagasan utuh yang menghubungkan karya,
teknik, material, pengalaman hidup, dan akar budaya.
Realis Ekspresif Avonturisme bukan hanya soal
cara melukis. Ia adalah cara memandang dunia. Bahwa kenyataan harus dihormati
kebenarannya. Bahwa emosi harus diberi ruang ekspresinya. Dan bahwa keberanian
(bondo nekad) adalah bahan bakar utama setiap penciptaan yang autentik.
Karena itulah karya-karyanya selalu bergerak di
antara dua kutub yang tegang.
Antara fakta dan perasaan.
Antara ketepatan bentuk anatomi alam dan
ledakan emosi subjektif.
Antara ketenangan seorang pengamat yang teliti
dan keberanian seorang petualang yang nekat.
Ketika seseorang berdiri di depan lukisan
“Dahsyatnya Tsunami Krakatau”, mereka mungkin melihat ombak raksasa, gunung api
yang meletus, dan langit yang bergolak dramatis.
Namun Bambang melihat sesuatu yang lain di
balik lapisan cat itu.
Ia melihat tekad.
Ia melihat keberanian.
Ia melihat manusia yang terus mencoba memahami
alam, meski sadar sepenuhnya bahwa tak akan pernah benar-benar mampu
menaklukkannya.
Barangkali itulah inti dari Realis Ekspresif
Avonturisme. Bukan sekadar menghadirkan pemandangan indah di dinding galeri.
Melainkan menghadirkan pengalaman batin yang mentah.
Sebuah pengalaman yang membuat orang tidak
hanya melihat sebuah lukisan, tetapi juga mendengar gemuruh ombak yang memecah
gendang telinga, merasakan panas letusan yang membakar kulit, dan menyadari
bahwa di hadapan semesta yang begitu besar dan misterius, manusia hanya memiliki
satu bekal yang paling berharga:
Bondo nekad.
Tekad untuk terus berkarya, terus melangkah,
dan terus mengagumi keagungan alam yang tak pernah selesai diceritakan. [MFH/Christian
Saputro]











3.jpg)