- Pemkab dan DPRD Pesawaran Sepakati KUA-PPAS 2027, Prioritaskan Infrastruktur Produktif
- DPRD dan Pemkab Lampung Timur Sepakati Raperda APBD Tahun Anggaran 2027
- MTQ ke-53 Provinsi Lampung Resmi Ditutup, Kota Metro Raih Peringkat Keempat
- Buka Diksar KOKAM, Wakil Wali Kota Dorong Kader Peduli Kemanusiaan
- Perkuat Sinergi Pemilu 2029, Bawaslu Audiensi ke Pemkot Metro
- Bupati Parosil: Pendidikan Harus Memanusiakan dan Berakar Pada Budaya
- Pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih di Pekon Marang Resmi Dimulai
- MTQ ke-53 Tingkat Provinsi Lampung Sukses di Gelar, Lamsel Raih Peringkat ke-3
- Tanggamus Juara Umum MTQ Lampung 2026, Bupati Saleh Asnawi Terima Piala Bergilir
- Dibackup Polres Tanggamus, Polsek Kota Agung Tangkap Residivis Curanmor
Bupati Parosil: Pendidikan Harus Memanusiakan dan Berakar Pada Budaya

LAMPUNG BARAT, MFH,-- Di hadapan 167 peserta
dari 50 perguruan tinggi se-Indonesia, Bupati Lampung Barat, H. Parosil Mabsus,
S.Pd menegaskan bahwa kemajuan pendidikan tidak cukup hanya mengejar teknologi
dan daya saing global. Kesempatan belajar harus terbuka bagi semua anak,
sementara nilai-nilai budaya lokal tetap menjadi fondasi.
Menurutnya, pendidikan bukan sekadar membangun
gedung sekolah, menyediakan buku pelajaran, atau mengejar kecanggihan
teknologi. Lebih dari itu, pendidikan adalah tentang membuka kesempatan,
membangun martabat, dan memastikan setiap anak memiliki hak yang sama untuk
meraih masa depan.
Pesan itu dibawa Bupati Lampung Barat ketika
tampil sebagai narasumber dalam Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) XIV dan
Seminar Nasional Asosiasi Program Studi Manajemen Administrasi Pendidikan
Indonesia (APMAPI) Tahun 2026 di Universitas Lampung (Unila), Jumat
(30/10/2026).
Baca Lainnya :
- Lima Rumah Terbakar di Sukau, Pemkab Lambar Salurkan Bantuan0
- Buka Liga Santri PCNU Cup 2026, Bupati: Santri Bukan Hanya Ngaji, Membangun Itu Soal Hati0
- Audiensi dengan Kanwil DJPB Lampung, Bupati Dorong Hilirisasi Kopi dan Peningkatan DAU-DAK0
- Pemkab Lampung Barat Peringati Hari Sumpah Pemuda Ke 98 0
- Wabup Serahkan Bantuan Rp25 Juta untuk Korban Kebakaran di Pekon Balak0
Bupati Lampung Barat menyampaikan materi
tentang Kmplementasi Kebijakan Pemerataan dan Peningkatan Mutu Pendidikan
Berbasis Kearifan Lokal Pada Abad ke-21.
Bagi Parosil, berbicara tentang pendidikan
bukan sekadar menyampaikan teori. Ada pengalaman panjang yang menjadi bagian
dari perjalanan hidupnya. Sebelum menjadi Bupati Lampung Barat, ia pernah
menjalani profesi sebagai guru honorer dan guru bantu, kemudian menjadi anggota
Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) selama tiga periode. Pengalaman itulah
yang membentuk pandangannya bahwa pendidikan harus menjadi prioritas utama
seorang pemimpin.
Di hadapan kalangan akademisi, ia memaparkan
sejumlah kebijakan Pemerintah Kabupaten Lampung Barat yang diarahkan untuk
memperluas kesempatan pendidikan bagi masyarakat. Salah satu yang mendapat
perhatian adalah program seragam sekolah gratis.
Program ini diberikan tanpa membedakan status
sosial dan kemampuan ekonomi keluarga. Anak petani, buruh, Aparatur Sipil
Negara (ASN), kepala desa, hingga anak seorang bupati memiliki hak yang sama
selama bersekolah di Kabupaten Lampung Barat.
Bagi Parosil, kesempatan memperoleh pendidikan
tidak boleh dibatasi oleh latar belakang keluarga. Komitmen tersebut juga
diwujudkan melalui program beasiswa kedokteran bagi lulusan Sekolah Menengah
Pertama (SMA) dan Madrasah Aliyah asal Lampung Barat yang diterima di perguruan
tinggi negeri.
Sejumlah mahasiswa penerima beasiswa telah
menempuh pendidikan kedokteran di berbagai daerah, termasuk Aceh, Sumatera
Selatan, Jawa Barat, Yogyakarta, dan Lampung.Tidak berhenti di sana, Pemerintah
Daerah (PEMDA) juga mengembangkan beasiswa seni dan budaya, bahasa daerah, kewirausahaan,
serta pendidikan guru sekolah dasar.
Kebijakan tersebut memperlihatkan bahwa
pembangunan pendidikan tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan lulusan yang
unggul secara akademik, tetapi juga sumber daya manusia yang memahami
identitas, potensi, dan kebutuhan daerahnya. Kopi, Budaya, dan Pendidikan
sebagai kekuatan Daerah.
Hal menarik lainnya dari paparan Parosil adalah
upaya menghubungkan pendidikan dengan potensi ekonomi dan budaya lokal. Sebagai
salah satu daerah penghasil kopi robusta, Lampung Barat memiliki kekayaan
sumber daya alam yang perlu dikelola melalui peningkatan pengetahuan dan
keterampilan masyarakat. Karena itu, PEMDA mengembangkan Sekolah Kopi dan
Kampung Kopi sebagai bagian dari upaya membangun ekosistem pengetahuan,
pemberdayaan masyarakat, serta penguatan ekonomi berbasis komoditas unggulan
daerah.
Menurut Parosil, pendidikan harus hadir dalam
berbagai bentuk. Tidak hanya melalui pendidikan formal di sekolah dan perguruan
tinggi, tetapi juga melalui pembelajaran yang dekat dengan kehidupan
masyarakat.
Dengan demikian, kopi bukan hanya komoditas
perdagangan, melainkan juga sumber pengetahuan, identitas budaya, dan peluang
kesejahteraan masyarakat.
Pesan yang ingin disampaikan kepada kalangan
akademisi cukup jelas, teknologi boleh berkembang, kurikulum harus terus
diperbarui, tetapi pendidikan tidak boleh kehilangan akar budaya dan jati diri
masyarakat.
Ketua Program Studi Manajemen Administrasi
Pendidikan FKIP Universitas Lampung, Dr. Handoko, menyampaikan bahwa Mukernas
XIV dan Seminar Nasional APMAPI diikuti 167 peserta dari 50 perguruan tinggi di
seluruh Indonesia.
Jumlah tersebut menunjukkan besarnya perhatian
dan komitmen perguruan tinggi untuk memperkuat kualitas pendidikan, khususnya
dalam bidang manajemen dan administrasi pendidikan.
Sementara itu, Dekan FKIP Universitas Lampung,
Dr. Albet Maydiantoro, M.Pd., menyampaikan bahwa menjadi tuan rumah Mukernas
XIV dan Seminar Nasional APMAPI merupakan sebuah kehormatan bagi FKIP Unila.
Ia berharap forum nasional tersebut tidak berhenti
sebagai agenda pertemuan organisasi, tetapi mampu menghasilkan kolaborasi nyata
antarkampus di seluruh Indonesia. Kolaborasi tersebut penting untuk
meningkatkan kualitas akademik, memperkuat pengembangan kurikulum, serta
mendorong penelitian dan pengabdian kepada masyarakat yang memberikan manfaat
langsung.
Kehadiran Bupati Lampung Barat dalam forum
nasional tersebut menjadi ruang pertukaran gagasan antara PEMDA dan kalangan
akademisi mengenai arah pembangunan pendidikan Indonesia.
Lebih dari sekadar memaparkan program daerah,
Parosil membawa pesan bahwa keberhasilan pembangunan pendidikan harus diukur
dari seberapa luas kesempatan yang diberikan kepada masyarakat dan seberapa
besar manfaatnya bagi kehidupan mereka.
Lampung Barat ingin menunjukkan bahwa daerah
dengan keterbatasan fiskal tetap dapat membangun kebijakan pendidikan yang
menyentuh kebutuhan masyarakat, sekaligus mengembangkan potensi lokal sebagai
kekuatan pembangunan. Pada akhirnya, pendidikan bukan hanya tentang mencetak
orang-orang pintar dan berdaya saing global. Pendidikan juga harus melahirkan
manusia yang berkarakter, mengenal budayanya, mencintai daerahnya, dan mampu
memberikan manfaat bagi masyarakat.
Sebab, kemajuan sebuah
daerah bukan hanya dilihat dari seberapa tinggi teknologi yang digunakan,
tetapi juga dari seberapa besar perhatian pemimpinnya terhadap masa depan
generasi penerus. [MFH/Diskominfo]











