- Di Balik Biru Selat Sunda: Luka Purba yang Menjadi Keindahan
- Gubernur Lampung Hadiri Pengukuhan Srikandi Jaga Desa
- Tekab 308 Presisi Polres Tanggamus dan Polsek Semaka Amankan Terduga Pemerasan
- Ribuan Penonton Tumpah Ruah di Taman Kota Liwa Saksikan Penobatan Muli Mekhanai 2026
- Sekda Nukman Apresiasi Lomba Nyambai Festival Sekala Bekhak XII
- Pemkab Pringsewu Gelar Ngopi Serasi di Nusa Wungu
- Pemprov Tegaskan Komitmen Dukung Pelestarian Budaya Melalui Pesenggiri Festival 2026
- Triana Febrianti Tampil Memukau di Final Putri Otonomi Daerah Indonesia
- Wabup Lamtim Azwar Hadi Hadiri Dialog Otonomi Daerah
- Wali Kota Metro Hadiri Pembukaan Rakernas XVIII APEKSI 2026
Di Balik Biru Selat Sunda: Luka Purba yang Menjadi Keindahan

SELAT SUNDA, MFH,-- Di antara Pulau Jawa dan
Sumatra, terdapat sebuah luka purba yang kini berbalut keindahan. Selat Sunda,
dengan lebar sekitar 30 kilometer, bukan sekadar jalur pelayaran atau batas
geografis. Ia adalah monumen bencana kosmik yang telah berevolusi menjadi
lanskap kehidupan. Di tengah perairannya, gugusan kepulauan vulkanik—termasuk
Anak Gunung Krakatau—berdiri sebagai penjaga bisu atas memori bumi yang pernah
hancur dan lahir kembali.
Sains dan legenda berbicara dalam bahasa yang
berbeda, namun keduanya sepakat pada satu hal: selat ini terbentuk dari
kehancuran. Pandangan geologis menyebutnya sebagai letusan katastropik Krakatau
Purba ribuan tahun silam. Ledakan dahsyat itu menghancurkan tiga perempat tubuh
gunung asli, menyisakan kaldera raksasa di dasar laut. Material vulkanik yang
dimuntahkan dan ambruknya daratan dipercaya memisahkan dua pulau besar,
menciptakan celah yang kini kita kenal sebagai Selat Sunda. Hipotesis lain
menambahkan bahwa naiknya permukaan air laut akibat mencairnya es ribuan tahun
lalu turut menenggelamkan Dataran Sunda, memperkuat pemisahan yang sudah
dimulai oleh api bawah tanah.
Namun, bagi para leluhur yang hidup di tepi
selat ini, penjelasan ilmiah hanyalah satu sisi dari kebenaran. Cerita rakyat
menuturkan kisah Prabu Rakata yang membelah tanah demi mengakhiri perseteruan
kedua putranya. Kendi sang prabu diyakini berubah menjadi Gunung Krakatau,
berdiri tegak di tengah selat sebagai simbol rekonsiliasi yang abadi. Pujangga
Ronggowarsito, dalam seratnya tahun 1869, bahkan mencatat peristiwa terbelahnya
tanah Jawa dan Sumatera terjadi pada 416 Masehi. Angka-angka mungkin berbeda,
namun intuisi kolektif tentang trauma geologis yang membentuk identitas wilayah
ini tetap sama.
Baca Lainnya :
- Gubernur Lampung Hadiri Pengukuhan Srikandi Jaga Desa0
- Purnama Wulan Sari Mirza Dukung Gerakan Sejuta Vaksin HPV0
- Wagub Jihan Pastikan Kesiapan Akademik dan Sosial Peserta Didik0
- Harganas ke-33, Pemprov Perkuat Sinergi Bangun Keluarga Tangguh dan Generasi Berkualitas0
- Gubernur Mirza Ajak KAHMI dan FORHATI Perkuat Kolaborasi Wujudkan Lampung Maju0
Letusan Krakatau 1883 adalah bab terbaru dalam
saga panjang ini. Bencana yang mengguncang dunia itu bukan akhir, melainkan
awal dari kelahiran baru. Dari abu dan kehampaan, Anak Gunung Krakatau muncul
perlahan, membangun tubuhnya dari material yang sama yang pernah menghancurkan
pendahulunya. Kini, ia bukan lagi simbol kemurkaan, melainkan bukti ketahanan
alam. Kehadirannya mengingatkan bahwa keindahan di Selat Sunda tidak gratis; ia
dibeli dengan harga kehancuran total.
Selat Sunda mengajarkan paradoks yang mendalam:
bahwa kehancuran dan penciptaan adalah dua sisi dari mata uang yang sama. Luka
purba yang ditinggalkan Krakatau Purba tidak tertutup oleh waktu, melainkan
diisi oleh air laut, kehidupan laut, dan imajinasi manusia. Ia menjadi ruang
perjumpaan antara sains dan mitos, antara trauma masa lalu dan harapan masa
depan.
Ketika kapal melintas di perairan ini hari ini,
penumpang tidak hanya menyaksikan pemandangan laut biru dan siluet gunung api.
Mereka sedang melayari memori bumi yang pernah retak. Selat Sunda adalah
pengingat bahwa keindahan sejati sering kali lahir dari rahim bencana, dan
bahwa luka terdalam pun bisa bertransformasi menjadi sumber kehidupan yang tak
ternilai. Di balik birunya selat ini, tersimpan pelajaran abadi tentang
resilensi: bahwa setelah segala sesuatu hancur, alam selalu menemukan cara
untuk memulai lagi. [Christian Saputro]











3.jpg)