- Gubernur Dorong Kebangkitan Desa-Desa Budaya Lampung
- Wagub Jihan Nurlela Paparkan Transformasi Digital Pengelolaan Keuangan di Forum Nasional
- Bupati Tanggamus Lantik 13 Pejabat, Andi Dermawan Jabat Kadis Koperindag UKM
- Polsek Wonosobo Dibantu Warga Tangkap Pria Bawa Badik Pengancam Warga
- Gubernur Mirza Dorong Lulusan Teknik Ambil Peran Aktif dalam Pembangunan Lampung
- TP PKK Provinsi Lampung Gelar Pengajian dan Santuni Anak Panti Asuhan
- Pemprov Lampung Luncurkan Toko Tapis
- Bupati Tanggamus Sambut Audiensi JMSI
- Pemprov Lampung Perkuat Dukungan untuk Petani, dari Teknologi hingga Pengendalian Hama
- Jembatan Perintis Garuda di Desa Sukaraja Rampung Dibangun
Gubernur Dorong Kebangkitan Desa-Desa Budaya Lampung

BANDAR LAMPUNG, MFH,-- Gubernur Lampung, Rahmat
Mirzani Djausal menegaskan bahwa adat dan budaya harus menjadi fondasi utama
dalam pembangunan daerah agar kemajuan yang dicapai tetap memiliki karakter dan
identitas yang kuat.
Penegasan tersebut disampaikan Gubernur saat
meninjau Desa Wisata Budaya Marga Teluk Bandar Lampung di Lamban Dalom Negeri
Olok Gading, Kamis (25/06/2026).
"Adat dan budaya harus menjadi fondasi
pembangunan daerah, adat dan budaya harus kita junjung tinggi, baik dengan
masyarakat Lampung maupun mereka yang datang ke Lampung. Inilah fondasi ke
depan. Kita maju, tetapi maju dengan karakter. Kita ingin makmur, tetapi
kemakmuran itu tetap berlandaskan adat dan budaya," ujar Gubernur.
Baca Lainnya :
- Gubernur Mirza Dorong Lulusan Teknik Ambil Peran Aktif dalam Pembangunan Lampung0
- TP PKK Provinsi Lampung Gelar Pengajian dan Santuni Anak Panti Asuhan0
- Pemprov Lampung Luncurkan Toko Tapis0
- Buka Musda II IKAPI, Bunda Literasi Lampung Tegaskan Literasi sebagai Pilar Kemajuan Daerah0
- Buka Tanjungkarang Youth Day 2026, Purnama Wulan Sari Dorong Anak Muda jadi Agen Perubahan0
Menurut Gubernur, kemajuan yang dirasakan
Lampung saat ini tidak terlepas dari nilai-nilai luhur budaya yang diwariskan
para leluhur. Nilai-nilai tersebut tercermin dalam falsafah hidup masyarakat
Lampung, yakni Piil Pesenggiri, Nemui Nyimah, Sakai Sembayan, Nengah Nyappur,
dan Juluk Adok.
Kelima falsafah tersebut, lanjutnya, telah
menjadi pedoman masyarakat Lampung selama ratusan tahun dalam membangun
kehidupan yang harmonis, damai, dan terbuka terhadap keberagaman.
"Hari ini Lampung menjadi daerah yang
kondusif, tidak ada konflik antar suku, konflik antar agama, maupun kecemburuan
sosial. Itu karena budaya Lampung mengajarkan bagaimana tuan rumah menghormati
tamu dan tamu menghormati tuan rumah. Inilah kekuatan utama masyarakat
Lampung," katanya.
Gubernur mengingatkan bahwa arus globalisasi
dan perkembangan teknologi tidak boleh mengikis karakter generasi muda.
Menurutnya, pembangunan fisik dan ekonomi tidak akan berarti apabila masyarakat
kehilangan identitas budaya yang menjadi jati diri daerah.
"Kita mungkin akan memiliki gedung-gedung
tinggi, wisatawan yang ramai, dan ekonomi yang maju. Tetapi kalau karakter kita
hilang, kemajuan itu tidak ada gunanya. Karena itu adat dan budaya harus terus
dikedepankan sebagai fondasi pembangunan," tegasnya.
Sebagai bentuk komitmen pemerintah daerah dalam
melestarikan warisan budaya, Pemerintah Provinsi Lampung tengah
mengidentifikasi dan menyiapkan 16 desa budaya yang akan direvitalisasi dan
dikembangkan sebagai pusat pelestarian budaya sekaligus destinasi wisata
berbasis kearifan lokal.
Gubernur menilai Desa Budaya Negeri Olok Gading
memiliki nilai historis yang sangat penting. Kawasan tersebut pernah menjadi
pusat aktivitas perdagangan dan kehidupan masyarakat Lampung pada abad ke-19
sebelum letusan Krakatau tahun 1883.
"Budaya, seni, kehidupan sosial, hingga
aktivitas perdagangan pernah berkembang sangat baik di kawasan ini. Nilai-nilai
itu yang ingin kita hidupkan kembali agar masyarakat Indonesia dapat melihat
Lampung yang sesungguhnya," ujarnya.
Selain sebagai upaya pelestarian budaya,
pengembangan desa budaya juga diharapkan mampu memperkuat sektor pariwisata dan
mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat.
"Ketika desa budaya ini hidup kembali,
wisatawan akan semakin lama tinggal di Bandar Lampung dan Provinsi Lampung.
Dampaknya akan meningkatkan perputaran ekonomi masyarakat dan membuka peluang
kesejahteraan yang lebih besar," katanya.
Pada kesempatan yang sama, Wali Kota Bandar
Lampung Eva Dwiana menyatakan dukungannya terhadap pengembangan Negeri Olok
Gading sebagai kawasan wisata budaya. Ia menegaskan pentingnya kolaborasi
antara Pemerintah Kota Bandar Lampung dan Pemerintah Provinsi Lampung dalam
mewujudkan kawasan tersebut sebagai destinasi unggulan.
"Olok Gading akan kita jadikan tempat
pariwisata. Untuk itu diperlukan kolaborasi antara Pemerintah Kota Bandar
Lampung dan Pemerintah Provinsi Lampung agar pengembangannya dapat berjalan
maksimal," ujar Eva.
Ia juga mengajak seluruh tokoh adat dan
masyarakat untuk memberikan masukan serta berpartisipasi aktif dalam menjaga
dan mengembangkan warisan budaya daerah.
Sementara itu, Penyimbang Saibatin Kebandaran
Marga Balak Telukbetung, Erdiansyah bergelar Gusti Pn Igama Ratu, menyampaikan
apresiasi atas perhatian pemerintah terhadap pelestarian adat dan budaya
Lampung.
Menurutnya, masyarakat adat Negeri Olok Gading
dan Kuripan selama ini terus berupaya mempertahankan warisan leluhur yang telah
berusia ratusan tahun, termasuk menjaga rumah-rumah panggung tradisional yang
masih terpelihara keasliannya.
"Kami sangat mengapresiasi perhatian
Pemerintah Provinsi Lampung dan Pemerintah Kota Bandar Lampung terhadap
pelestarian adat istiadat. Menjaga adat bukan perkara mudah dan tidak murah,
sehingga dukungan pemerintah sangat dibutuhkan," ujarnya.
Hal senada disampaikan Budayawan Lampung
Anshori Djausal yang menilai pendekatan budaya merupakan strategi efektif dalam
membangun suatu wilayah.
Menurutnya, pelestarian kawasan budaya tidak
hanya berfungsi sebagai upaya menjaga warisan sejarah, tetapi juga mampu
menjadi daya tarik wisata dan investasi.
"Pendekatan budaya merupakan langkah yang
sangat strategis dan taktis. Ketika budaya, keramahan, kenyamanan, dan
keindahan suatu kawasan terjaga, maka kawasan tersebut akan memiliki daya tarik
yang kuat bagi wisatawan maupun investor," kata Anshori.
Ia menambahkan bahwa kawasan Olok Gading dan
Kedamaian memiliki banyak rumah bersejarah yang telah berusia lebih dari satu
abad dan layak ditetapkan sebagai cagar budaya.
Dengan pelestarian yang berkelanjutan dan
dukungan seluruh pemangku kepentingan, kawasan budaya Negeri Olok Gading
diharapkan dapat menjadi etalase budaya Lampung sekaligus destinasi wisata
unggulan yang memperkuat identitas daerah serta meningkatkan kesejahteraan
masyarakat.
Dalam kunjungan tersebut, Gubernur juga
melakukan peninjauan ke sejumlah titik yang menjadi bagian dari pengembangan
Desa Wisata Budaya Marga Teluk Bandar Lampung. Salah satunya adalah lokasi
Makam Pahlawan Marga Teluk Betung yang berada di Tempat Pemakaman Umum (TPU)
Negeri Olok Gading.
Selain itu, Gubernur
meninjau rumah-rumah adat yang masih terjaga keasliannya dan menjadi pusat
aktivitas masyarakat dalam melestarikan budaya Lampung. Di lokasi tersebut,
Gubernur melihat langsung berbagai kegiatan ekonomi kreatif dan pelestarian
budaya yang dilakukan masyarakat, mulai dari penjualan produk UMKM makanan khas
Lampung, latihan seni budaya tradisional oleh generasi muda, hingga aktivitas
menyulam kain tapis yang menjadi salah satu warisan budaya unggulan Lampung. [MFH/Dinas
Kominfotik Provinsi Lampung]











3.jpg)