- Wabup Mad Hasnurin Hadiri Pembukaan Persami KKRI Gelombang V Tahun 2026
- Bupati Tanggamus Launching Bantuan ATENSI Kemensos Senilai Rp1,07 Miliar untuk 562 Warga
- Polsek Pulau Panggung Identifikasi Kebakaran Toko Sembako
- Polsek Kota Agung Tangkap Pelaku Curanmor di Pasar Madang
- Oknum ASN Residivis Spesialis Pencurian Burung Ditangkap Polsek Wonosobo
- Lampung Dorong Investasi Energi Hijau, Proyek Bioetanol Siap Dikembangkan
- Kolaborasi Multisektoral Diperkuat, Lampung Wujudkan Reforma Agraria untuk Kesejahteraan Rakyat
- Ketika Pendakian Menjadi Ruang Belajar Merawat Alam
- Wakil Bupati Pringsewu Buka Kursus Pembina Pramuka Mahir Dasar
- Wabup Azwar Hadi Sambut Kepulangan 283 Jemaah Haji Lamtim, Doakan Menjadi Haji Mabrur
Lampung Dorong Investasi Energi Hijau, Proyek Bioetanol Siap Dikembangkan


LAMPUNG SELATAN, MFH,-- Pemerintah pusat bersama
Pemerintah Provinsi Lampung mempercepat pengembangan industri bioetanol melalui
peninjauan langsung calon lokasi pembangunan pabrik bioetanol dan kawasan
pengembangan bahan baku sorgum di Provinsi Lampung, Selasa (9/6/2026).
Kunjungan tersebut dipimpin Wakil Menteri Investasi dan
Hilirisasi/Wakil Kepala BKPM RI Todotua Pasaribu bersama Gubernur Lampung
Rahmat Mirzani Djausal usai menghadiri Rapat Koordinasi dan Sinergitas
Pembangunan Pabrik Bioetanol yang berlangsung di Ruang VVIP Lounge Bandara
Raden Inten II, Lampung Selatan.
Baca Lainnya :
- Anggota DPRD Lamsel Dorong Pemuda Aktif Kawal Kebijakan Daerah Lewat Forum Kreatif0
- Anggota DPRD Lamsel Fraksi Gerindra Waris Basuki, Dukung Pergantian Pimpinan Badan Gizi Nasional0
- DiLaporkan Warga Lewat 110 Polri, Jaringan Peredaran Sabu di Palas Dibongkar Polisi0
- ASDP Bakauheni Implementasikan Sterilisasi Pelabuhan dan Digitalisasi Sistem Parkir0
- Anggaran 389 Juta Pakaian Dinas Harian dan Sipil Sekretariat DPRD Lamsel Tuai Sorotan 0
Rombongan yang terdiri dari jajaran Kementerian Investasi
dan Hilirisasi/BKPM, Pertamina New & Renewable Energy (PNRE), Toyota Tsusho
Corporation, Toyota Motor Manufacturing Indonesia, PTPN, akademisi, dan para
pemangku kepentingan lainnya meninjau lokasi calon pembangunan pilot plant
bioetanol di Kecamatan Tegineneng, Kabupaten Pesawaran, serta kawasan
pengembangan budidaya sorgum di Kecamatan Rejosari, Kabupaten Lampung Selatan.
Peninjauan tersebut dilakukan untuk memastikan kesiapan
lahan, ketersediaan bahan baku, dukungan infrastruktur, serta integrasi kawasan
yang akan menjadi bagian dari pengembangan ekosistem industri bioetanol di
Lampung.
Dalam rapat koordinasi dan sinergitas proyek pembangunan
bio etanol Provinsi Lampung, Todotua Pasaribu menegaskan bahwa Lampung menjadi
salah satu daerah prioritas dalam pengembangan bioetanol nasional.
Menurutnya, provinsi ini memiliki berbagai keunggulan
strategis, mulai dari ketersediaan bahan baku yang melimpah, infrastruktur yang
memadai, hingga komitmen kuat pemerintah daerah dalam mendukung investasi.
Todotua menjelaskan bahwa kebutuhan bioetanol nasional
diperkirakan akan terus meningkat seiring implementasi program campuran E10
bioetanol pada bahan bakar bensin yang ditargetkan mulai diterapkan secara
bertahap pada tahun 2028.
Karena itu, pemerintah mendorong percepatan pembangunan
industri bioetanol guna memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus
mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil.
"Kita tidak boleh hanya berhenti pada perencanaan.
Yang dibutuhkan sekarang adalah eksekusi agar manfaatnya segera dirasakan
masyarakat," tegas Todotua.
Sementara itu, Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal
menyampaikan bahwa pembangunan industri bioetanol merupakan langkah strategis
dalam mendorong hilirisasi sektor pertanian sekaligus meningkatkan kesejahteraan
petani.
Menurut Gubernur, Lampung memiliki modal besar untuk
menjadi pusat bioetanol nasional karena merupakan salah satu lumbung pangan
Indonesia dengan produksi padi, jagung, ubi kayu, pisang, kopi, serta komoditas
perkebunan dan peternakan yang sangat besar. Bahkan hampir enam juta penduduk
Lampung menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian.
Rahmat Mirzani Djausal mengungkapkan bahwa perbaikan tata
kelola komoditas pertanian dalam beberapa tahun terakhir telah berdampak
positif terhadap kesejahteraan petani dan pertumbuhan ekonomi daerah. Pada
tahun 2025, pertumbuhan ekonomi Lampung bahkan berhasil melampaui rata-rata
nasional.
Meski demikian, ia menilai peningkatan produksi pertanian
harus dibarengi dengan pembangunan industri pengolahan agar komoditas yang
dihasilkan tidak hanya dijual sebagai bahan mentah.
"Dengan produksi ubi kayu yang mencapai sekitar 7,5
juta ton per tahun, Lampung memiliki potensi besar untuk menjadi pemasok utama
bahan baku bioetanol nasional. Kehadiran industri bioetanol akan menciptakan
pasar baru bagi petani, menjaga stabilitas harga, serta meningkatkan nilai
tambah hasil pertanian Lampung," ujar Gubernur.
Ia juga menambahkan bahwa Lampung memiliki potensi energi
baru terbarukan yang sangat besar, mulai dari tenaga surya, panas bumi,
biomassa hingga bioenergi yang berasal dari limbah pertanian dan industri.
Potensi tersebut menjadi modal penting dalam mendukung agenda transisi energi
nasional.
Dari sisi industri, CEO PNRE John Anis menjelaskan bahwa
pengembangan bioetanol di Lampung dilakukan melalui kolaborasi dengan Toyota
Tsusho Corporation dan Green Earth Institute (GEI) Jepang.
Menurutnya, Lampung memiliki posisi strategis karena
didukung ketersediaan bahan baku yang melimpah, terutama singkong yang selama
ini menjadi komoditas unggulan daerah.
John mengungkapkan bahwa pengembangan bioetanol tidak
hanya memanfaatkan molases dan singkong sebagai bahan baku bioetanol generasi
pertama, tetapi juga memanfaatkan biomassa sorgum dan limbah perkebunan sawit
sebagai bahan baku bioetanol generasi kedua.
"Salah satu fokus kami adalah mengembangkan
teknologi yang mampu mengubah limbah pertanian menjadi energi bernilai tinggi
sekaligus menciptakan ekonomi sirkular yang berkelanjutan," ujarnya.
PNRE saat ini tengah mempersiapkan pembangunan pilot
plant bioetanol generasi kedua yang ditargetkan mulai beroperasi pada tahun
2027. Selain itu, perusahaan juga mengkaji reaktivasi fasilitas bioetanol
eksisting dengan kapasitas produksi sekitar 60 ribu kiloliter per tahun.
Kawasan di Kecamatan Tegineneng yang ditinjau dalam
kunjungan tersebut diproyeksikan menjadi lokasi pengembangan fasilitas
pengolahan bioetanol, sedangkan kawasan di Kecamatan Rejosari direncanakan
sebagai pusat pengembangan budidaya sorgum yang akan mendukung pasokan bahan
baku industri bioetanol generasi kedua.
Sebagai bagian dari penguatan rantai pasok bahan baku,
PNRE juga akan bekerja sama dengan Universitas Lampung untuk melaksanakan uji
tanam sorgum seluas 10 hektare sebagai tahap awal pengembangan budidaya di
Lampung.
Melalui sinergi antara pemerintah pusat, Pemerintah
Provinsi Lampung, dunia usaha, akademisi, dan mitra internasional, proyek
bioetanol ini diharapkan menjadi tonggak penting dalam mewujudkan Lampung
sebagai pusat hilirisasi pertanian dan energi terbarukan nasional, sekaligus
menciptakan lapangan kerja, meningkatkan kesejahteraan petani, dan memperkuat
ketahanan energi Indonesia.
Sebagai bentuk komitmen bersama terhadap percepatan
proyek tersebut, kegiatan diakhiri dengan penandatanganan Join Declaration
antara Pemerintah Provinsi Lampung, Pertamina New & Renewable Energy
(PNRE), Toyota Motor Manufacturing Indonesia, dan Toyota Tsusho Indonesia.
[MFH/Dinas Kominfotik Provinsi Lampung]











3.jpg)