- IBI Tanggamus Lampaui Target Pap Smear, Sumbang Capaian Rekor MURI Lampung
- Kepala BPS RI Piminpin Apel Siaga, Gubernur Ajak Masyarakat Sukseskan Sensus Ekonomi
- Bangun Lampung Berkarakter, Pemprov Perkuat Sinergi dengan Masyarakat Adat
- Saat Muharam jadi Ruang Penebar Kebahagiaan bagi Yatim dan Penyandang Disabilitas
- Lampung Perkuat Peningkatan SDM, Gubernur Mirza Ajak PTMA Bersinergi
- Camat Talang Padang Pimpin Bersih-bersih Titik Rawan Banjir
- Wali Kota Metro Lepas 15 Atlet Airsoftgun Komunitas KDRT ke Kejurnas INASOC II Jakarta
- Wakil Wali Kota Metro Hadiri Pembukaan Turnamen Tenis Kapolres Cup 2026
- Azwar Hadi Kembali Pimpin PMI Lampung Timur Periode 2026–2031
- Sekda Rustam Effendi Buka MUSKAB V PMI Lampung Timur
Yayasan Perisai Nusantara Future Gelar Bimtek Pelestarian Budaya

Jika Tidak Ada Pepadun, Maka Tidak Ada Sai
Batin; Jika Tidak Ada Sai Batin; Maka Tidak Ada Pepadun — Kita Satu, Yaitu
Lampung
RAJABASA, LAMSEL, MFH,-- Kesadaran
akan pentingnya melestarikan budaya Lampung menjadi sorotan utama dalam
kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) bertema “Peran Generasi Muda dalam
Pelestarian Budaya” yang digelar di Aula Kantor Desa Sukaraja, Kecamatan
Rajabasa, Kabupaten Lampung Selatan, Sabtu (25/10/2025).
Kegiatan yang diinisiasi Yayasan
Perisai Nusantara Future pimpinan Syahbudin Usman ini bekerja sama dengan
Kepala Desa Sukaraja M. Yusuf, para pemuda Kecamatan Rajabasa, serta mendapat
dukungan dari Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora). Sebanyak 50 peserta
dari berbagai desa di Kecamatan Rajabasa mengikuti kegiatan ini dengan penuh
antusiasme.
Baca Lainnya :
- Kadis Kominfo: Langkah Cerdas Trobosan Biosalin Dorong Inovasi Sektor Pertanian di Lamsel 0
- Damkar Lamsel Gelar Pelatihan Water Rescue di Pantai Kedu0
- Peringati Hari Santri, KUA Palas Buka Stand Pelayanan untuk Masyarakat dan Umat0
- ASDP Cabang Bakauheni Terima Audensi DPC Organda Lamsel0
- Kolaborasi Kalyanamitra dan Pemkab Lamsel Wujudkan Desa Inklusif0
Tujuan utama Bimtek ini ialah
menumbuhkan kembali kesadaran generasi muda agar memahami akar budayanya
sendiri, termasuk kewajiban untuk mampu berbahasa Lampung serta memahami bahwa
di Lampung hidup dua jiwa budaya yang saling melengkapi: Sai Batin dan Pepadun.
Dalam pemaparannya, Pangeran Elang
Berantai (Raden Berlian Marga) menegaskan bahwa generasi muda tidak boleh
memandang perbedaan adat Sai Batin dan Pepadun sebagai sekat.
“Kalau tidak ada Pepadun, maka tidak ada Sai
Batin. Kalau tidak ada Sai Batin, maka tidak ada Pepadun. Karena kita ini bukan
berbeda, kita ini satu — yaitu Lampung,” tegasnya.
Ia juga menekankan bahwa pemuda desa
wajib bisa berbahasa Lampung sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur dan
identitas daerah. Menurutnya, hilangnya kemampuan berbahasa Lampung di kalangan
anak muda merupakan tanda memudarnya akar budaya yang harus segera
diselamatkan.
“Bahasa adalah jiwa budaya. Kalau anak
muda tidak lagi bisa berbahasa Lampung, maka hilanglah sebagian dari jati diri
kita sebagai orang Lampung,” ujarnya.
Suasana Bimtek berlangsung interaktif.
Para peserta berdiskusi tentang langkah konkret melestarikan budaya lokal,
seperti menghidupkan kembali penggunaan bahasa Lampung di rumah, sekolah, dan
lingkungan masyarakat, serta mengadakan kegiatan adat dan seni daerah di
tingkat desa.
Direktur Yayasan Perisai Nusantara
Future, Syahbudin Usman, berharap kegiatan semacam ini dapat menjadi pemantik
semangat bagi generasi muda untuk menjaga dan mempromosikan kearifan lokal di
tengah derasnya arus modernisasi.
“Kita ingin anak-anak muda Rajabasa
tidak hanya bangga menjadi orang Lampung, tapi juga mampu mewarisi dan
memperjuangkan budayanya,” kata Syahbudin.
Dengan kegiatan ini, para pemuda
Lampung Selatan diharapkan tidak hanya memahami makna budaya, tetapi juga
menjadi garda depan dalam menjaga bahasa, tradisi, dan persatuan adat Sai Batin
dan Pepadun sebagai dua roh yang menyatu dalam jiwa Lampung. [MFH Gil]











3.jpg)