- 12 Raperda Inisiatif DPRD Lampung Menyasar Sektor Strategis
- GAK Masih Siaga, Pemprov Perkuat Mitigasi dari Laut hingga Layanan Kesehatan
- Wali Kota Metro Lepas Kafilah MTQ Nasional XXXI Targetkan Prestasi
- HMI Cabang Metro Audiensi dengan Wali Kota
- Bupati Parosil Siap Bawa Kopi Robusta Lampung Barat ke Panggung Nasional
- Pekon Sukarame Ditargetkan Mandiri dan Produktif Pasca Dicanangkan Desa Tapis
- Pemkab Kawal Perpanjangan Runway dan Pembangunan Dermaga Pelabuhan di DPR RI
- Pemprov Lampung Ajukan Dua Raperda, Tarif RS dan Penguatan Inovasi
- Keselamatan Anak Didik jadi Prioritas, PJJ di Provinsi Lampung Berlanjut hingga 10 September
- DPRD dan Pemprov Lampung Sepakati Penarikan Raperda Perubahan Bentuk Hukum BPD
GAK Masih Siaga, Pemprov Perkuat Mitigasi dari Laut hingga Layanan Kesehatan

BANDAR LAMPUNG, MFH,-- Pemerintah Provinsi
Lampung terus memperkuat kesiapsiagaan dan mitigasi untuk memastikan
keselamatan masyarakat serta tersedianya informasi yang akurat terkait
aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Hingga Rabu (9/9/2026) pukul 12.00 WIB, Gunung
Anak Krakatau masih berada pada Status Level III (Siaga). Meski demikian,
berdasarkan pemantauan langsung, aktivitas vulkanik menunjukkan kecenderungan
menurun dibandingkan beberapa hari sebelumnya.
Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal
mengatakan bahwa Pemprov Lampung bersama TNI AL, BPBD, Basarnas, dan akademisi
Institut Teknologi Sumatera (Itera) melakukan pemantauan langsung dari perairan
Selat Sunda menggunakan KRI Lepu 861.
Baca Lainnya :
- Pemprov Lampung Ajukan Dua Raperda, Tarif RS dan Penguatan Inovasi0
- Keselamatan Anak Didik jadi Prioritas, PJJ di Provinsi Lampung Berlanjut hingga 10 September0
- DPRD dan Pemprov Lampung Sepakati Penarikan Raperda Perubahan Bentuk Hukum BPD0
- Dampak Erupsi Menurun, Sekolah Kembali Dibuka dan Penerbangan Mulai Normal0
- Gunung Anak Krakatau Masih Fluktuatif, Pemprov Lampung Belum Terapkan WFH bagi ASN0
“Hari ini kita bersama TNI AL, BPBD, Basarnas,
dan Itera melakukan pemantauan langsung Gunung Anak Krakatau dari KRI Lepu 861.
Kita mendekat hingga sekitar tiga kilometer untuk melihat kondisi erupsi secara
langsung,” ujar Gubernur saat konferensi pers di Pusdalops BPBD Provinsi
Lampung, Rabu (9/9/2026).
Menurutnya, Gunung Anak Krakatau masih
mengalami erupsi, tetapi frekuensi dan intensitas keluarnya material vulkanik
cenderung berkurang. Interval aktivitas juga semakin lebar, sementara abu yang
terlihat relatif lebih sedikit.
“Aktivitas memang cenderung menurun, tetapi
Gunung Anak Krakatau masih erupsi dan statusnya tetap Siaga. Jadi kita tetap
tenang, tetapi jangan lengah,” tegasnya.
Gubernur mengimbau masyarakat dan pengguna laut
untuk tidak mendekati kawasan kawah aktif serta mengikuti arahan petugas dan
informasi resmi dari instansi berwenang.
Sementara itu, berdasarkan pemantauan aktivitas
Gunung Anak Krakatau periode pukul 06.00–12.00 WIB, tidak tercatat adanya
erupsi. Sebelumnya, tercatat satu kali erupsi pada pukul 00.47 WIB dengan
amplitudo maksimum 51 milimeter dan durasi 20,28 detik.
Aktivitas kegempaan juga terus dipantau. Pada
periode tersebut tercatat dua kali gempa laut, satu kali gempa vulkanik
dangkal, dan satu kali tremor menerus.
Berdasarkan analisis citra satelit Himawari-9
pukul 10.00 WIB, material vulkanik teridentifikasi hingga ketinggian sekitar
2,1 kilometer dan bergerak mengikuti arah angin menuju barat laut serta laut di
sekitar Teluk Lampung.
Ahli Kebencanaan Itera Ikah Ning P.P.
mengatakan, berdasarkan pengamatan visual dari KRI Lepu 861, aktivitas vulkanik
Gunung Anak Krakatau terlihat menurun dibandingkan beberapa hari sebelumnya.
Hal itu antara lain terlihat dari kolom erupsi yang lebih dominan berwarna
putih dibandingkan abu.
Meski demikian, ia mengingatkan agar
kewaspadaan tetap dijaga karena aktivitas vulkanik masih berlangsung.
Sementara itu, Danlanal Lampung Letkol Laut
Irianto juga mengimbau seluruh pengguna laut untuk memperhatikan dinamika
Gunung Anak Krakatau dan mematuhi imbauan instansi yang berwenang.
“Kami akan selalu memastikan kehadiran dan
dukungan dalam menjaga keamanan dan keselamatan di wilayah Provinsi Lampung,”
ujarnya.
Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Lampung Aswarodi
mengatakan, pemantauan Gunung Anak Krakatau dilakukan secara berkelanjutan
bersama seluruh unsur terkait. Pemerintah daerah juga menyiapkan berbagai
langkah mitigasi untuk mengantisipasi setiap perubahan aktivitas gunung api.
“Masyarakat kami imbau tetap tenang dan
mengikuti informasi resmi dari pemerintah serta lembaga yang berwenang.
Pemantauan terus dilakukan untuk memastikan setiap perkembangan dapat diketahui
sedini mungkin,” katanya.
Salah satu langkah mitigasi yang dilakukan
adalah operasi modifikasi cuaca bekerja sama dengan Badan Nasional
Penanggulangan Bencana (BNPB). Operasi tersebut telah dilaksanakan selama dua
hari, termasuk Selasa (8/9) dan kembali dilakukan Rabu (9/9/2026).
Aswarodi menjelaskan, operasi tersebut bukan
semata-mata untuk menurunkan hujan, tetapi sebagai salah satu upaya membantu
mengurangi konsentrasi partikel abu vulkanik di udara. Pelaksanaan penerbangan
disesuaikan dengan hasil pemantauan sebaran abu dan aspek keselamatan penerbangan.
Di sektor kesehatan, Dinas Kesehatan Provinsi
Lampung juga memperkuat kesiapsiagaan di seluruh kabupaten/kota melalui
pemantauan kesehatan masyarakat, kesiapan fasilitas pelayanan kesehatan, serta
surveilans terhadap potensi gangguan kesehatan akibat paparan abu vulkanik.
Kesiapan tersebut mencakup penanganan ISPA,
influenza, pneumonia, iritasi mata, penyakit kulit, asma, dan gangguan paru.
Ketersediaan obat serta bahan medis habis pakai di tingkat provinsi juga terus
dipantau dan hingga saat ini dalam kondisi memadai.
BPBD Provinsi Lampung telah mendistribusikan
20.000 masker ke sejumlah kabupaten/kota, antara lain Lampung Selatan,
Pesawaran, Tanggamus, Lampung Utara, Pringsewu, Bandar Lampung, dan Pesisir
Barat.
Selain itu, Pemprov Lampung telah mengajukan
dukungan kepada BNPB berupa 500.000 masker, 500.000 hand sanitizer, 1.000 paket
peralatan kebersihan, 300 unit peralatan pemadam kebakaran, 200 unit oksigen,
dan 10 unit tenda pengungsian.
Sebagai bagian dari kesiapsiagaan jangka
panjang, Pemprov Lampung juga mengoordinasikan BPBD kabupaten/kota untuk
memperkuat enam aspek utama mitigasi, yakni
kesiapan jalur, rambu evakuasi, dan tempat
pengungsian; pemetaan wilayah berdasarkan tingkat risiko; penguatan sistem
peringatan dini; edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat; simulasi dan
latihan evakuasi secara berkala; serta penataan permukiman, termasuk opsi
relokasi apabila diperlukan.
Aswarodi menegaskan, langkah tersebut merupakan
bentuk kesiapsiagaan pemerintah dan bukan berarti masyarakat harus panik atau
melakukan evakuasi saat ini.
“Kami menyiapkan skenario dan memastikan
pemerintah daerah siap apabila sewaktu-waktu terdapat perubahan rekomendasi
dari PVMBG. Prinsipnya, masyarakat tetap tenang, tetapi pemerintah harus selalu
siap,” tegasnya.
Pemprov Lampung mengimbau masyarakat,
wisatawan, dan pengguna laut untuk tidak mendekati kawasan Gunung Anak Krakatau
dalam radius tiga kilometer dari kawah aktif serta mengikuti seluruh arahan
petugas.
Masyarakat juga dianjurkan menggunakan masker dan
pelindung mata apabila harus beraktivitas di luar ruangan ketika terjadi
paparan abu vulkanik. Apabila mengalami gangguan kesehatan, masyarakat diminta
segera mendatangi fasilitas pelayanan kesehatan.
Pemprov Lampung mengajak masyarakat tidak
mengambil risiko dengan mendekati kawasan Gunung Anak Krakatau untuk
kepentingan dokumentasi maupun aktivitas lainnya.
Informasi mengenai perkembangan Gunung Anak
Krakatau diharapkan diperoleh melalui kanal resmi pemerintah, BPBD, BMKG,
PVMBG, dan instansi terkait.
Dengan penguatan pemantauan, layanan kesehatan,
ketersediaan logistik, koordinasi lintas sektor, dan sistem mitigasi,
Pemerintah Provinsi Lampung memastikan upaya perlindungan masyarakat terus
berjalan secara terukur.
Masyarakat diimbau tetap tenang, tidak panik,
meningkatkan kewaspadaan, dan mengikuti informasi serta arahan resmi
pemerintah. [MFH/Pemerintah Provinsi Lampung]











3.jpg)