- Wulan Mirza Buka Lampung Fun Swimming Festival 2026
- Gubernur Mirza Dorong Anak Muda Lampung Ciptakan Peluang, Bukan Sekadar Konsumen
- GAK Kembali Lontarkan Lava Pijar, Masyarakat Dihimbau Tetap Tenang dan Gunakan Masker
- Hujan Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau Guyur Pematang Sawa
- Polsek Talang Padang Identifikasi Korban Tersengat Listrik di Kolam Ikan Gisting
- Bupati Dedi Irawan dan Kapolres Pesisir Barat Perkuat Sinergi
- Pemprov Lampung Launching Website Peduli TB dan Bentuk Kopi TB 2026
- Polsek Talang Padang Identifikasi Temuan Mayat Pria 66 Tahun di Gisting Bawah
- Gubernur Mirza Dorong Koperasi Jadi Penggerak Ekonomi dan Hilirisasi Potensi Desa
- Dekranasda Provinsi Lampung Siapkan Kriya Terbaik Tembus Panggung Nasional
Gubernur Mirza Dorong Anak Muda Lampung Ciptakan Peluang, Bukan Sekadar Konsumen

BANDAR LAMPUNG, MFH,-- Pemerintah Provinsi
Lampung mendorong generasi muda untuk meningkatkan literasi keuangan sebagai
bekal penting dalam mengambil keputusan ekonomi, mengembangkan usaha, hingga
memanfaatkan peluang investasi secara aman dan produktif.
Hal tersebut disampaikan Gubernur Lampung
Rahmat Mirzani Djausal saat menghadiri Lampung Financial Festival 2026 di
Ballroom Hotel Novotel, Bandar Lampung, Sabtu (05/09/2026).
Kegiatan yang diselenggarakan Lembaga Penjamin
Simpanan (LPS) tersebut berlangsung selama dua hari, pada tanggal 5–6 September
2026, dengan rangkaian kegiatan edukasi dan diskusi, pameran serta booth, dan
hiburan.
Baca Lainnya :
- Gubernur Mirza Dorong Koperasi Jadi Penggerak Ekonomi dan Hilirisasi Potensi Desa0
- Dekranasda Provinsi Lampung Siapkan Kriya Terbaik Tembus Panggung Nasional0
- Dekranasda Provinsi Lampung Gandeng Usaha Kuliner Lokal0
- Sekdaprov Marindo Lantik Pejabat Administrator dan Pengawas0
- Kepala Kemenag Ajak Masyarakat Manfaatkan Gerai Kementerian Agama di MPP Bandar Lampung0
Gubernur Rahmat Mirzani mengatakan, keuangan
bukan hanya menjadi urusan sektor perbankan maupun regulator, tetapi telah
menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari hampir seluruh aktivitas kehidupan
masyarakat.
"Keuangan ini adalah salah satu sektor
yang sangat penting dalam sendi-sendi kehidupan kita," ujar Gubernur.
Menurutnya, berbagai aktivitas masyarakat mulai
dari mengatur pengeluaran rumah tangga, pembiayaan sektor pertanian,
pengembangan UMKM, investasi, hingga pengelolaan keuangan pemerintah semuanya
berkaitan erat dengan sektor keuangan.
Ia menilai, pemahaman tersebut menjadi semakin
penting bagi generasi Z dan Post-Gen Z yang tumbuh di tengah perkembangan
teknologi digital.
Gubernur menyebutkan, Gen Z di Lampung mencapai
sekitar 24,7 persen atau hampir 2,3 juta jiwa, sementara Post-Gen Z mencapai
20,67 persen. Besarnya proporsi generasi muda tersebut merupakan bagian dari
bonus demografi sekaligus potensi besar untuk memperkuat perekonomian Lampung.
"Generasi muda inilah, Gen Z dan Post-Gen
Z, yang akan kita ciptakan untuk menjadi kekuatan ekonomi Provinsi Lampung ke
depan. Syaratnya, generasi mudanya harus produktif, memiliki keterampilan,
mampu menciptakan usaha, dan mampu mengambil keputusan keuangan yang
tepat," katanya.
Karena itu, Gubernur menekankan bahwa kemampuan
mengambil keputusan keuangan secara tepat merupakan keterampilan yang wajib
dimiliki generasi muda.
Gubernur menjelaskan, berdasarkan data yang
disampaikannya, indeks inklusi keuangan di Lampung telah mencapai 90,94 persen,
sementara tingkat literasi keuangan berada di kisaran 72 persen.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa akses
masyarakat terhadap layanan keuangan sudah semakin luas, namun harus diimbangi
dengan pemahaman yang memadai agar layanan keuangan dapat dimanfaatkan secara
tepat, aman, dan produktif.
"Jadi akses masyarakat mendapatkan layanan
keuangan itu jauh lebih mudah dibandingkan pengetahuan mereka dalam menggunakan
literasi keuangan. Maka kesenjangan inilah yang penting," jelasnya.
Perkembangan transaksi digital di Lampung juga
menunjukkan besarnya potensi ekonomi digital. Gubernur menyebut jumlah merchant
QRIS di Lampung telah mencapai sekitar 889 ribu, dengan transaksi mencapai 22,4
juta kali dan nilai transaksi sekitar Rp1,87 triliun.
Menurutnya, perkembangan tersebut harus
diarahkan tidak hanya agar generasi muda menjadi pengguna layanan digital,
tetapi juga mampu menjadi pelaku ekonomi yang menciptakan nilai melalui
ekosistem digital.
"Kita ingin ke depan QRIS-QRIS ini
dimiliki oleh generasi muda kita, bukan hanya bayar QRIS, tapi orang yang masuk
QRIS," ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Gubernur juga
memaparkan potensi ekonomi Lampung yang menurutnya menjadi modal penting dalam
mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.
Lampung memiliki beragam komoditas unggulan,
antara lain padi, jagung, singkong, nanas, pisang, lada, tebu, kopi, karet,
kelapa, kakao, dan kelapa sawit. Selain itu, Lampung juga memiliki potensi
besar pada sektor peternakan dan perikanan.
Gubernur menyebut Lampung merupakan daerah yang
kaya akan sumber bahan pangan. Dengan jumlah penduduk sekitar 9,8 juta jiwa,
produksi pangan Lampung tidak hanya memenuhi kebutuhan masyarakat daerah,
tetapi juga memasok kebutuhan masyarakat di berbagai wilayah Indonesia.
"Artinya, masyarakat Lampung, petani
Lampung, selain memberi makan untuk diri sendiri dan keluarga sendiri, juga
memberi makan seluruh masyarakat yang ada di Indonesia," katanya.
Potensi tersebut, ditambah dengan besarnya
jumlah penduduk usia muda, menjadi modal strategis untuk mendorong pertumbuhan
ekonomi Lampung.
Gubernur juga menyampaikan bahwa ekonomi
Lampung saat ini tumbuh 5,29 persen dan menjadi salah satu pertumbuhan ekonomi
tertinggi di Sumatera.
"Komoditas unggulan, bonus demografi,
akses, dan literasi keuangan ketika itu semua kita gabungkan, maka kita bukan
hanya menjadikan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menciptakan pelaku-pelaku
ekonomi Lampung yang unggul dan berdaya saing," tegasnya.
Melalui Lampung Financial Festival 2026,
Pemerintah Provinsi Lampung berharap peningkatan literasi keuangan dapat
berjalan beriringan dengan perkembangan ekonomi digital, sehingga masyarakat
tidak hanya memiliki akses terhadap layanan keuangan, tetapi juga mampu
memanfaatkannya secara aman, bijak, dan produktif.
"Semoga Lampung Financial Festival ini
akan meningkatkan literasi keuangan anak-anak muda di Provinsi Lampung,"
ujar Gubernur.
Ia berharap seluruh rangkaian kegiatan tersebut
dapat memperluas wawasan, memperkuat kolaborasi, serta membentuk generasi muda
Lampung yang melek literasi keuangan dan mampu memanfaatkan teknologi digital
untuk menciptakan peluang ekonomi.
"Semoga apa yang adik-adik dapatkan hari
ini bisa menjadi modal ke depan untuk mengarungi hidup dan ikut mewujudkan
Lampung maju menuju Indonesia Emas," pungkasnya.
Sementara itu, Wakil Ketua Dewan Komisioner
Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Farid Azhar Nasution mengatakan, Lampung
Financial Festival merupakan bagian dari upaya untuk membumikan literasi dan
inklusi keuangan agar semakin dekat dengan masyarakat.
Menurutnya, kegiatan tersebut tidak berdiri
sendiri, melainkan menjadi bagian dari rangkaian kegiatan serupa yang
sebelumnya telah dilaksanakan di Yogyakarta melalui Yogyakarta Financial
Festival pada Mei 2026.
"Lampung Financial Festival bukan kegiatan
yang berdiri sendiri. Semangat yang sama telah hadir di Yogyakarta dan kini
kita membawanya ke Lampung. Tujuannya sederhana: membumikan literasi dan
inklusi keuangan dari satu provinsi ke provinsi lain, dari kampus, sekolah,
desa, hingga pesantren," ujarnya.
Farid menyampaikan, berdasarkan Survei Nasional
Literasi dan Inklusi Keuangan 2026, indeks inklusi keuangan Lampung berada pada
90,9 persen, sementara literasi keuangan mencapai 72,3 persen.
Ia menilai tingginya akses terhadap layanan
keuangan harus berjalan beriringan dengan peningkatan pemahaman dan kepercayaan
masyarakat.
"Ketika masyarakat paham, merasa aman, dan
percaya, mereka akan lebih yakin untuk menggunakan layanan keuangan formal secara
berkelanjutan dan lebih optimal," katanya.
Farid juga mengingatkan generasi muda agar
mewaspadai berbagai jebakan keuangan di era digital, mulai dari pinjaman online
ilegal, judi online, investasi ilegal, hingga perilaku belanja impulsif yang
dipengaruhi tren dan algoritma digital.
Ia menitipkan tiga kebiasaan sederhana kepada
generasi muda, yakni menyisihkan uang, bukan menunggu ada sisa; berbelanja
sesuai kebutuhan, bukan sekadar keinginan; serta membangun "tabungan"
yang tidak berwujud berupa karakter, ilmu, dan relasi.
"Jangan biarkan teknologi mengendalikan
keputusan keuangan kita. Kita harus tetap pegang kendali," tegasnya.
Rektor Universitas Lampung (Unila) Lusmeilia
Afriani dalam kesempatan tersebut juga mengapresiasi pelaksanaan Lampung Financial
Festival 2026 yang dinilai memberikan ruang edukasi penting bagi mahasiswa dan
masyarakat.
Ia mengatakan, berdasarkan Survei Nasional
Literasi dan Inklusi Keuangan 2026, indeks inklusi keuangan nasional mencapai
93,61 persen, sedangkan indeks literasi keuangan mencapai 69,57 persen. Kondisi
tersebut menunjukkan masih adanya kesenjangan antara akses dan pemahaman
masyarakat terhadap layanan keuangan.
"Literasi bukan kemampuan menghafal nama
produk, melainkan kemampuan untuk berhenti sejenak, menghitung, memeriksa, dan
berani mengatakan tidak ketika risikonya tidak kita pahami," ujar
Lusmeilia.
Ia mengingatkan generasi muda untuk
berhati-hati terhadap berbagai modus penipuan dan tawaran keuangan yang semakin
berkembang di ruang digital.
Lusmeilia juga mendorong agar literasi keuangan
diwujudkan melalui pembelajaran berbasis keputusan nyata, penguatan jalur
perlindungan masyarakat, serta perluasan edukasi melalui riset, KKN, dan
pengabdian kepada masyarakat.
Menurutnya, kampus, pemerintah daerah, OJK,
LPS, Bank Indonesia, perbankan, dan media memiliki peran penting dalam
membangun masyarakat yang cakap, terlindungi, dan mampu memanfaatkan layanan
keuangan secara produktif.
Anggota Komisi XI DPR RI Marwan Cik Asan juga
mengatakan, kemajuan teknologi dan sektor jasa keuangan telah membuka peluang
ekonomi yang sangat besar, khususnya bagi generasi muda.
Dengan kepemilikan telepon genggam dan akses
internet, generasi muda kini dapat mengakses berbagai peluang, mulai dari
perdagangan, jasa, ekonomi kreatif, hingga layanan keuangan.
Namun, menurutnya, kemudahan tersebut juga
membawa risiko yang harus diantisipasi.
"Jangan sampai adik-adik mahasiswa dan
pelajar yang mulai bermain gadget dan masuk ke industri keuangan justru
terjebak dan menyusahkan diri, mengganggu masa depan, dan menyusahkan orang
tua," katanya.
Ia mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai
investasi bodong, pinjaman online ilegal, serta berbagai bentuk utang yang
dapat mengganggu kondisi keuangan dan masa depan generasi muda.
Sementara itu, dalam sesi 1on1 Session, Menteri
Koordinator Bidang Pangan RI Zulkifli Hasan menegaskan bahwa persoalan pangan
memiliki dampak yang jauh lebih luas daripada sekadar persoalan makanan di atas
meja.
Menurutnya, pangan berkaitan erat dengan kesejahteraan
petani, daya saing bangsa, kemiskinan, kesehatan, pendidikan hingga kedaulatan
negara.
"Pangan, makan itu bukan hanya sekadar
nasi di piring ada lauknya. Makan itu akan melihat peradaban suatu
negara," ujar Zulkifli Hasan.
Ia mencontohkan ketergantungan Indonesia
terhadap impor beras pada 2024 yang mencapai sekitar 4,5 juta ton. Menurutnya,
ketergantungan terhadap impor berdampak terhadap kesejahteraan petani karena
manfaat ekonomi justru dinikmati petani dari negara pemasok.
Zulkifli membandingkan biaya produksi beras di
Indonesia dengan Thailand dan Vietnam. Kondisi tersebut, menurutnya,
menunjukkan pentingnya meningkatkan produktivitas, kualitas varietas, manajemen
pertanian, serta efisiensi produksi agar Indonesia mampu bersaing.
Ia mengapresiasi capaian Indonesia yang pada
2025 tidak lagi melakukan impor beras untuk kebutuhan tertentu sebagaimana
sebelumnya, yang menurutnya turut berdampak pada peningkatan kesejahteraan
petani.
"Alhamdulillah 2025 kita enggak impor
beras lagi. Boleh tepuk tangan ini untuk Indonesia," katanya.
Zulkifli juga menyoroti kondisi nelayan yang
masih membutuhkan perhatian. Menurutnya, berbagai kebijakan seperti pembangunan
kampung nelayan, penyediaan pabrik es, cold storage, SPBN dan balai lelang
diperlukan agar nelayan tidak berada dalam posisi lemah ketika menjual hasil
tangkapannya.
Ia menekankan, keberhasilan pembangunan sektor
pangan membutuhkan kerja sama berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah, TNI,
perguruan tinggi dan mahasiswa.
Dalam sesi yang sama, Zulkifli Hasan mendorong
generasi muda Lampung melihat sektor pangan sebagai salah satu peluang ekonomi
yang sangat besar.
Menurutnya, kekayaan komoditas Lampung harus
dikembangkan melalui hilirisasi sehingga menghasilkan produk dengan nilai
tambah lebih tinggi.
Ia mencontohkan kopi Lampung yang selama ini
banyak dijual dalam bentuk komoditas, padahal dapat diolah menjadi berbagai
produk bernilai ekonomi tinggi.
"Jadi kopi itu ada hilirisasinya. Ya,
diolah jadi macam-macam. Itulah tugasnya anak-anak muda, Gen Z," ujarnya.
Hal yang sama berlaku pada pisang dan singkong.
Pisang dapat diolah menjadi roti, kue dan berbagai produk turunan. Sementara
singkong juga dapat diolah menjadi etanol, tepung, gula dan produk lainnya.
Menurut Zulkifli, generasi muda memiliki
peluang besar untuk mengembangkan bisnis pangan karena memiliki akses teknologi
dan pasar yang jauh lebih mudah dibandingkan generasi sebelumnya.
Ia mendorong mahasiswa agar tidak hanya
berorientasi menjadi pencari kerja setelah menyelesaikan pendidikan, tetapi
juga mulai membangun usaha sejak usia muda.
"Jangan kuliah nanti empat tahun selesai,
melanjutkan S2 dua tahun, umur sudah 26 tahun. Habis itu mencari lamaran kerja,
tiga tahun belum diterima. Umur 30 menikah. Kamu harus ada wawasan
usahanya," katanya.
Ia mencontohkan mahasiswa yang telah mampu
membangun usaha secara daring sembari menjalani pendidikan.
Menurutnya, perkembangan teknologi saat ini
membuat generasi muda memiliki kesempatan untuk menjadi pengusaha tanpa harus
menunggu menyelesaikan pendidikan.
"Kalau kamu sudah umur 19 tahun, bahkan
dari SMA sudah bisa dimulai. Jadi Gen Z memang harus punya critical thinking
dan problem solving," tegasnya.
Ia berpesan agar generasi muda tidak mudah
menyerah pada keadaan, tetapi terus belajar, bekerja keras dan berani
menciptakan peluang.
"Kamu bisa. Kalian ini bisa semua, asal
mau. Mau usaha, mau kerja keras, mau belajar," pungkasnya. [MFH/Pemerintah
Provinsi Lampung]










3.jpg)