- Ketika Krakatau Membelah Daratan: Antara Mitos, Api, dan Gerak Bumi
- In Memoriam Fath Syahbudin: Gema Tanoh Lado yang Abadi di Bumi Lampung
- Kemenag Bandar Lampung Sampaikan Aspirasi Penguatan Layanan Keagamaan kepada Komisi VIII
- Kapolsek Talang Padang Silaturahmi dengan Ipda Sabila
- Kejurda Padel Lampung 2026 Resmi Dimulai
- 31 Pasangan Ikuti Nikah Massal Begawi Cinta Lampung 2026
- Kadis Sosial Lamsel Ungkap Penyebab Bantuan Belum Cair Meski Sudah Pegang ATM
- Sambangi RA Al-Furqon, Yuti Rama Yanti Serahkan Bantuan Gedung dan Pantau Penerapan Menu MBG
- Manjau Jama Warga Hadirkan Hiburan Rakyat dan Pelayanan Dekat untuk Masyarakat
- Wakil Bupati Lampung Timur Ikuti Bimtek ASWAKADA
In Memoriam Fath Syahbudin: Gema Tanoh Lado yang Abadi di Bumi Lampung

Oleh: Semacca Andanant (Disunting dan
Diperluas)
Kabar itu menyebar cepat, melintasi batas-batas
digital, membawa duka yang mendalam bagi para pencinta budaya Lampung. Di
berbagai lini masa media sosial, kalimat “Inna lillahi wa inna ilahi rojiun”
bergema berulang-ulang. Sang maestro, penggubah lagu legendaris “Tanoh Lado”,
Fath Syahbudin, telah menutup usia.
Sontak saja, ingatan saya melayang kembali ke
beberapa waktu lalu. Saat itu, kami terlibat dalam sebuah diskusi hangat
melalui akun pribadinya. Topiknya tampak teknis, namun fundamental: penulisan
huruf konsonan dalam aksara dan bahasa Lampung. Di situlah saya mengenal sosok
Datuk Fath Syahbudin bukan hanya sebagai seniman, tetapi sebagai seorang
intelektual budaya yang peduli pada detail identitas bangsanya.
Baca Lainnya :
- Kemenag Bandar Lampung Sampaikan Aspirasi Penguatan Layanan Keagamaan kepada Komisi VIII0
- Kapolsek Talang Padang Silaturahmi dengan Ipda Sabila0
- Kejurda Padel Lampung 2026 Resmi Dimulai0
- 31 Pasangan Ikuti Nikah Massal Begawi Cinta Lampung 20260
- Kadis Sosial Lamsel Ungkap Penyebab Bantuan Belum Cair Meski Sudah Pegang ATM0
Beliau bercerita dengan semangat tentang upayanya
mengusulkan perubahan penulisan alamat “Way Hui” menjadi “Way Huwi” kepada
Pemerintah Kota Bandar Lampung. Bagi beliau, ini bukan sekadar urusan ejaan,
melainkan soal ketepatan sejarah dan linguistik. “Penulisan yang tepat dan
benar adalah ‘Way Huwi’, bukan ‘Way Hui’,” tegasnya kala itu. Sikap keras
kepala yang positif inilah yang menunjukkan betapa cintanya ia pada akar
budayanya.
Fath Syahbudin, atau lengkapnya H. Fathullah
Bin Syahbudin, adalah seorang budayawan senior dan maestro pencipta lagu-lagu
daerah Lampung yang berasal dari keluarga Sungkay Bunga Mayang. Namanya mungkin
tidak selalu bersinar di lampu sorot hiburan modern, namun karyanya telah
menyatu dengan denyut nadi masyarakat Lampung. Lagu-lagu seperti Tanoh Lado,
Ngiram, dan Cadang Hati bukan sekadar hiburan; mereka adalah arsip hidup yang
merekam jiwa, tanah, dan harga diri orang Lampung.
Pada Rabu, 22 Juli 2026, pukul 14.47 WIB, sang
maestro menghembuskan napas terakhirnya di RS Harapan Bunda, Jakarta, dalam
usia 78 tahun. Almarhum kemudian disemayamkan di rumah duka di Jl. Kampung Baru
No. 16 RT10/02, Ciracas, Kelapa Dua Wetan, Jakarta Timur, sebelum akhirnya
pulang ke peristirahatan terakhir.
Meskipun raganya telah tiada, karya-karyanya
akan terus hidup, berdendang di hati setiap orang Lampung yang mencintai
tanahnya. Mari kita jaga segala “pik tinggal” (warisan) dari beliau. Semoga
Datuk Fath Syahbudin mendapat kedamaian di tempat terbaik di sisi-Nya. Amin.
Sebagai penghormatan terakhir, mari kita
renungkan kembali lirik lagu yang melegenda tersebut, sebuah puisi musik yang
menggambarkan keindahan dan kebanggaan atas tanah kelahiran:
TANOH LADO
Ciptaan: Fath Syahbudin
Jak Ranau Tigoh Di Teladas
Jak Palas Munggah Mit Bengkunat
Gunung Rimba Tiyuh Pematang
Pulau-Pulau Di Lawok Lepas
Bumiku Tanoh Lampung Ku lawi
Panjak Wah-Wah Di Nusantara
Tani Rukun Sangun Jak Jebi
Tanoh Lampungku Tanoh Lado
Merega Buway Rik Bahasa
Nayah Sina Tanda Ram Kaya
Adat Rik Budaya
Suratni Kaganga
Jadi Warisan Jama-Jama
Tabik Pun Jama Say Tuha Raja
Penyimbang Sebatin Semerga
Salah Rik Cempala Tiyan Say Ngura-Ngura
Tilik Taway Sikam Kilu ya
Bumiku Tanoh Lampung Ku lawi
Panjak Wah-Wah Di Nusantara
Tani Rukun Sangun Jak Jebi
Tanoh Lampungku Tanoh Lado
Merega Buway Rik Bahasa
Nayah Sina Tanda Ram Kaya
Adat Rik Budaya
Suratni Kaganga
Jadi Warisan Jama-Jama
Tabik Pun Jama Say Tuha Raja
Penyimbang Sebatin Semerga
Salah Rik Cempala
Tiyan Say Ngura-Ngura
Tilik Taway Sikam Kilu ya..
Tilik Taway Sikam Kilu ya..
Tilik Taway Sikam Kilu ya..
Selamat jalan, Datuk. Tanah
Lado akan selalu bernyanyi karena engkau pernah mengajarkannya cara bersuara. [Christian
Saputro]











3.jpg)