- Produksi Kopi Tanggamus Meningkat, Petani Penerima Manfaat Terima Santunan Jamsos
- Wakapolres Tanggamus Beri Arahan Personel yang Mutasi
- KKG Rayon 2 Negeri Katon Laksanakan Penguatan Kompetensi Guru
- UPT SMP Negeri 1 Gadingrejo Lepas 3 Murid, Ikuti Jambore Nasional XII di Cibubur
- Setahun Kodam XXI/Raden Intan, Sinergi TNI-Pemprov Diperkuat untuk Stabilitas dan Ketahanan Pangan
- Hadapi El Nino, Pemprov Lampung Petakan Kebutuhan Air di Berbagai Sektor
- PSEL Lampung Raya Disiapkan Jadi Solusi Sampah dan Penguatan Energi Daerah
- Jaga Stabilitas Ekonomi, Pemprov Lampung Perkuat Pengendalian Inflasi dan Layanan Pertanahan
- Bupati Parosil Buka Lomba PBB, Bentuk Generasi Lambar yang Disiplin dan Berkarakter
- Lepas Kontingen Jamnas XII, Nukman Pesan Jaga dan Harumkan Nama Lampung Barat
KKG Rayon 2 Negeri Katon Laksanakan Penguatan Kompetensi Guru


NEGERI KATON, MFH,-- Transformasi pendidikan
tidak hanya ditentukan oleh perubahan kurikulum dan perkembangan teknologi,
tetapi juga oleh kesediaan guru untuk terus belajar, beradaptasi, dan
merefleksikan praktik pembelajarannya. Di ruang inilah komunitas belajar guru
memiliki posisi strategis sebagai ekosistem pengembangan profesional yang
memungkinkan pendidik bertumbuh melalui kolaborasi, berbagi praktik baik, dan
penguatan kompetensi secara berkelanjutan.
Semangat tersebut tercermin dalam kegiatan
Komunitas Belajar Guru KKG 2 Negeri Katon yang diselenggarakan pada Kamis, 6
Agustus 2026, bertempat di UPTD SDN 4 Negeri Katon. Mengusung agenda praktik
membuat modul ajar dan MPI dengan dukungan teknologi kecerdasan artifisial
(Artificial Intelligence/AI), kegiatan ini menjadi ruang pembelajaran
profesional bagi guru untuk mengembangkan perangkat pembelajaran yang lebih
kontekstual, kreatif, efektif, dan responsif terhadap kebutuhan peserta didik.
Baca Lainnya :
- Wabup Pesawaran Ajak Mahasiswa jadi Pemimpin Adaptif, Berintegritas, dan Berdampak0
- Mahasiswa KKN UNILA Gelar Program Membaca Nyaring di SDN 58 Gedong Tataan0
- Bupati Pesawaran Lantik 11 Pejabat Pimpinan Tinggi Pratama0
- DPRD Setujui Ranperda Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD Tahun Anggaran 20250
- Diskominfotiksan Perkuat Monitoring Kinerja Pegawai Lewat Inisiasi Pengembangan SIMON0
Kegiatan yang berlangsung pukul 08.00–12.00
tersebut diikuti oleh guru Fase C KKG 2 Negeri Katon. Para peserta tidak hanya
memperoleh penguatan secara konseptual, tetapi juga diarahkan untuk melakukan
praktik secara langsung dengan memanfaatkan perangkat digital yang telah
dipersiapkan.
Komunitas Belajar sebagai Ekosistem
Pengembangan Profesional Guru
Dalam perspektif pengembangan profesional, guru
bukanlah profesi yang selesai ketika seseorang telah memperoleh kualifikasi
akademik atau sertifikasi. Perubahan karakteristik peserta didik, dinamika
sosial, perkembangan teknologi, serta tuntutan kompetensi abad ke-21
menempatkan guru pada posisi sebagai pembelajar sepanjang hayat.
Komunitas belajar kemudian menjadi salah satu
ruang penting untuk membangun budaya tersebut.
Melalui komunitas belajar, pengalaman
individual yang diperoleh guru di ruang kelas dapat dikonversi menjadi
pengetahuan kolektif. Praktik baik tidak berhenti sebagai pengalaman pribadi,
tetapi dapat dibagikan, didiskusikan, direfleksikan, dan dikembangkan oleh guru
lainnya.
Dalam konteks KKG 2 Negeri Katon, kegiatan ini
memperlihatkan bagaimana forum kolektif guru dapat diarahkan menjadi ruang
penguatan kapasitas profesional. Guru tidak hanya datang untuk mendengarkan
materi, tetapi terlibat dalam proses belajar, mencoba, bertanya, berdiskusi,
dan menghasilkan sesuatu yang dapat dibawa kembali ke sekolah masing-masing.
“Mudah Membuat Modul Ajar”: Menjembatani
Perencanaan dan Praktik Pembelajaran. Salah satu agenda utama kegiatan adalah
praktik membuat modul ajar dan MPI dengan Canva AI yang dipandu oleh Sediono
Saputro, S.Pd., selaku Ketua KKG 2 Negeri Katon.
Modul ajar pada hakikatnya bukan sekadar
dokumen administratif. Ia merupakan salah satu instrumen pedagogis yang
membantu guru menerjemahkan tujuan pembelajaran ke dalam pengalaman belajar
yang terstruktur.

Karena itu, kemampuan menyusun modul ajar perlu
ditempatkan dalam kerangka yang lebih substantif: bagaimana guru memahami
karakteristik peserta didik, merumuskan tujuan yang bermakna, memilih materi
yang relevan, menentukan aktivitas pembelajaran, menyediakan media yang sesuai,
serta merancang asesmen yang mampu memberikan informasi tentang perkembangan
belajar peserta didik.
Pemanfaatan Canva AI dalam kegiatan tersebut
memberikan perspektif baru bahwa teknologi dapat digunakan untuk membantu guru
dalam proses perancangan bahan pembelajaran.
AI dapat mempercepat proses eksplorasi ide,
penyusunan struktur, maupun pengembangan visual. Namun demikian, keputusan
pedagogis tetap berada di tangan guru. Teknologi tidak menggantikan otoritas
profesional pendidik dalam menentukan apa yang layak dipelajari, bagaimana
pembelajaran dilaksanakan, dan bagaimana kebutuhan peserta didik dipenuhi.
Dengan kata lain, AI adalah instrumen
pendukung, sementara guru tetap menjadi arsitek pembelajaran.
Ketika
Kecerdasan Artifisial Bertemu Kreativitas Guru
Agenda berikutnya menghadirkan Sugianto W,
S.Pd.Gr. untuk memberikan praktik mengenai pembuatan cover dan gambar berwarna
sebagai pelengkap modul ajar dengan memanfaatkan ChatGPT.
Penggunaan teknologi generatif dalam
pengembangan bahan ajar membuka peluang bagi guru untuk menciptakan media
pembelajaran yang lebih variatif dan komunikatif. Visual yang relevan dapat
membantu membangun perhatian peserta didik sekaligus memperkuat pemahaman
terhadap materi.
Akan tetapi, literasi AI bagi guru tidak berhenti
pada kemampuan menghasilkan teks atau gambar. Yang jauh lebih penting adalah
kemampuan melakukan verifikasi, kurasi, adaptasi, dan pertimbangan etis
terhadap hasil yang diberikan teknologi.
Guru perlu memastikan bahwa materi yang
dihasilkan sesuai dengan tujuan pembelajaran, karakteristik perkembangan
peserta didik, konteks lingkungan sekolah, nilai-nilai pendidikan, serta
prinsip akurasi dan kebermanfaatan.
Di sinilah kompetensi pedagogis dan kompetensi
digital perlu berjalan beriringan. UPTD SDN 4 Negeri Katon: Ruang Belajar yang
Terbuka bagi Kolaborasi
Pemilihan UPTD SDN 4 Negeri Katon sebagai
lokasi kegiatan memberikan dimensi tersendiri dalam pelaksanaan komunitas
belajar tersebut.
Di bawah kepemimpinan Emi Kurniawati, S.Pd.SD.,
selaku Kepala UPTD SDN 4 Negeri Katon, sekolah tidak hanya menjalankan fungsi
sebagai satuan pendidikan bagi peserta didiknya, tetapi juga membuka ruang
sebagai tempat bertemunya para pendidik untuk belajar dan mengembangkan praktik
baik.
Keterbukaan kepala sekolah dalam memberikan
ruang bagi kegiatan pengembangan kompetensi guru menjadi bagian penting dari
terciptanya ekosistem pendidikan yang kolaboratif.
Sekolah yang sehat secara kelembagaan bukan
hanya sekolah yang mampu menyelenggarakan pembelajaran internal dengan baik, tetapi
juga sekolah yang bersedia menjadi bagian dari gerakan kebaikan pendidikan yang
lebih luas.
Sikap welcome terhadap kegiatan yang membawa
semangat belajar, berbagi, dan memberikan kemanfaatan bagi sesama pendidik
menjadikan UPTD SDN 4 Negeri Katon sebagai salah satu ruang strategis bagi
tumbuhnya budaya belajar di lingkungan pendidikan Negeri Katon.
Dalam perspektif kepemimpinan pendidikan,
keterbukaan tersebut mencerminkan bahwa kepala sekolah memiliki peran lebih
luas daripada sekadar administrator satuan pendidikan. Kepala sekolah juga
dapat berfungsi sebagai pemimpin pembelajaran, penggerak kolaborasi, dan
fasilitator pengembangan komunitas profesional.
Membuka pintu sekolah bagi kegiatan yang
menghadirkan kemanfaatan bagi guru dan pendidikan merupakan bentuk nyata dari
kepemimpinan yang berorientasi pada kebermanfaatan.
KKG
dan Kepemimpinan Kolaboratif
Penguatan kegiatan ini juga tidak terlepas dari
peran Sugiyono, S.Pd., selaku Ketua KKG dan Ketua K3S Rayon 2 Negeri Katon,
yang turut menjadi bagian dari penguatan ekosistem kolaborasi guru.
KKG memiliki posisi strategis sebagai wadah
pengembangan kompetensi profesional guru pada tingkat satuan dan wilayah kerja.
Melalui KKG, guru dapat membangun jejaring profesional, mendiskusikan persoalan
pembelajaran, berbagi praktik baik, serta menyusun agenda pengembangan
kompetensi berdasarkan kebutuhan nyata di lapangan.
Kolaborasi semacam ini penting karena persoalan
pendidikan pada dasarnya tidak dapat diselesaikan secara individual.
Guru membutuhkan komunitas. Sekolah membutuhkan
jejaring. Dan perubahan pendidikan membutuhkan kepemimpinan yang mampu
menghubungkan berbagai potensi tersebut dalam sebuah gerakan bersama.
Dari Perangkat Pembelajaran Menuju Perubahan
Praktik
Salah satu tantangan pengembangan profesional
guru adalah memastikan bahwa hasil kegiatan tidak berhenti pada produk atau
sertifikat keikutsertaan.
Modul ajar yang dihasilkan dalam kegiatan
komunitas belajar semestinya menjadi titik awal untuk menguji praktik di ruang
kelas. Setelah diterapkan, guru dapat melakukan refleksi: bagian mana yang
efektif, bagian mana yang perlu diperbaiki, bagaimana respons peserta didik,
dan perubahan apa yang perlu dilakukan pada pembelajaran berikutnya.
Dengan demikian, siklus pengembangan
profesional guru dapat bergerak secara berkelanjutan: belajar — mencoba —
menerapkan — merefleksikan — memperbaiki — berbagi.
Siklus tersebut menjadikan komunitas belajar
bukan sekadar forum pertemuan, melainkan bagian dari budaya mutu pendidikan.
Menyiapkan
Agenda Kokurikuler
Kegiatan KKG 2 Negeri Katon juga tidak berhenti
pada agenda pembuatan modul ajar dan pemanfaatan AI.
Para guru turut merencanakan kegiatan KKG
berikutnya dengan agenda Program Kokurikuler.
Rencana tersebut memperlihatkan adanya
kesinambungan dalam pengembangan profesional guru. Pembahasan tidak hanya
diarahkan pada perangkat pembelajaran intrakurikuler, tetapi juga pada
bagaimana sekolah dapat merancang pengalaman belajar yang lebih luas melalui
kegiatan kokurikuler.
Hal ini penting karena pendidikan yang utuh
tidak hanya berbicara tentang pencapaian akademik, tetapi juga tentang
pengembangan karakter, keterampilan, kreativitas, kolaborasi, dan potensi
peserta didik.
Guru
Pembelajar untuk Pendidikan yang Lebih Bermakna
Pada akhirnya, esensi kegiatan komunitas
belajar bukan terletak pada aplikasi apa yang digunakan, berapa banyak halaman
modul yang dihasilkan, atau seberapa menarik tampilan bahan ajarnya.
Esensi yang lebih mendasar adalah perubahan
cara pandang guru terhadap proses belajar dan pengembangan dirinya sendiri.
Teknologi akan terus berkembang. Aplikasi akan
terus berubah. Namun, kebutuhan terhadap guru yang reflektif, adaptif, kreatif,
dan memiliki kepedulian terhadap peserta didik akan tetap menjadi fondasi
penting pendidikan.
Kegiatan di UPTD SDN 4 Negeri Katon memberikan
gambaran bahwa budaya belajar dapat dibangun dari langkah-langkah sederhana:
guru berkumpul, membuka ruang diskusi, berbagi pengalaman, mencoba teknologi,
dan bersama-sama mencari cara agar pembelajaran menjadi lebih baik.
Dari
komunitas itulah pertumbuhan profesional bermula
Dan ketika guru bertumbuh, sesungguhnya yang
sedang dipersiapkan bukan hanya guru yang semakin kompeten, tetapi juga peserta
didik yang memperoleh pengalaman belajar yang semakin bermakna.
Sebab pendidikan pada akhirnya bukan hanya
tentang bagaimana guru menyampaikan pengetahuan, tetapi tentang bagaimana
seluruh ekosistem pendidikan terus belajar untuk menghadirkan masa depan yang
lebih baik bagi generasi penerus.
Dari Negeri Katon, semangat itu tumbuh: guru
belajar, guru berbagi, guru berkolaborasi, dan guru bertumbuh untuk kemajuan
pendidikan. [MFH/Rizky/rils]











3.jpg)