- Inpres Jalan Daerah Perkuat Distribusi Logistik dan Pertumbuhan Ekonomi Lampung
- Lampung Perkenalkan Inovasi Pertanian dan Produk Unggulan Daerah di PENAS XVII Gorontalo
- BAZNAS Tanggamus Siapkan Program Nelayan Berdaya, DKP Diminta Data Penerima
- Langit Berdarah di Atas Eropa: Ketika Krakatau Mencuri Panas Bumi
- Sekda Pesisir Barat Hadiri Rakor Pembangunan Daerah Provinsi Lampung 2026
- Pekan Kebudayaan Daerah Perkuat Pelestarian Seni dan Identitas Lampung Utara
- Pemkab Lampung Tengah Terima Sertifikat Hak Pakai Aset dari ATR/BPN
- Pemkab Lamteng Matangkan Persiapan Pelantikan 14 Kepala Kampung Antar Waktu
- Hari Kedua Festival UMKM dan Nobar Piala Dunia Lamtim Diserbu Ribuan Warga, UMKM Kebanjiran Pembeli
- Ketua TP PKK Pesawaran Ajak Masyarakat Manfaatkan Posyandu
Pemkab Lamtim Cari Solusi Bersama Atasi Konflik Gajah dan Warga Desa Penyangga TNWK

LAMPUNG TIMUR, MFH,-- Pemerintah
Kabupaten Lampung Timur menggelar Dialog Penanganan Dampak Interaksi Gajah
dengan Warga Desa Penyangga Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Senin
(12/1/2026), di Aula Utama Sekretariat Daerah Kabupaten Lampung Timur. Dialog
ini menjadi ruang resmi bagi masyarakat untuk menyuarakan keresahan yang selama
bertahun-tahun mereka rasakan.
Konflik antara gajah dan manusia
yang terus berulang di desa-desa penyangga TNWK tidak hanya menimbulkan
kerugian ekonomi, tetapi juga meninggalkan trauma mendalam. Puncaknya, insiden
tragis yang menewaskan Kepala Desa Braja Asri, Kecamatan Way Jepara, semakin
memperkuat tuntutan warga akan jaminan keselamatan dan solusi nyata.
Dialog tersebut dihadiri unsur
Forkopimda Lampung Timur, kepala OPD terkait, perwakilan Balai TNWK, serta para
kepala desa dari wilayah terdampak. Kehadiran para pemangku kepentingan ini
diharapkan mampu mempertemukan kepentingan konservasi dengan hak dasar
masyarakat untuk hidup aman.
Baca Lainnya :
- Dorong Investasi Pendidikan Vokasi, Wakil Bupati Kunjungi PT Upty Global Network0
- Sekda Rustam Effendi Pimpin Upacara Hari Desa Nasional0
- Kapolda Lampung Pimpin Panen Raya Jagung Kuartal IV, Produksi Tembus 86 Ribu Ton0
- Bupati Ela Kunjungi Langsung SD MIN 2 Lamtim dan SD Negeri 2 Pasar Sukadana0
- Bupati Ela Siti Nuryamah, Apresiasi Dedikasi Karutan Sukadana dan Sambut Pejabat Baru0
Koordinator umum masyarakat, Budi
Setiyawan, menyampaikan bahwa warga telah terlalu lama hidup dalam
bayang-bayang ancaman gajah liar. Setiap malam, menurutnya, masyarakat diliputi
rasa takut akan keselamatan keluarga dan kerusakan lahan pertanian yang menjadi
sumber penghidupan.
“Konflik ini sudah berlangsung lama
dan terus berulang. Kerugiannya bukan hanya materi, tapi juga nyawa. Kami ingin
penyelesaian yang nyata, bukan sekadar wacana,” tegas Budi di hadapan peserta
dialog.
Dalam forum tersebut, masyarakat
menyampaikan tiga tuntutan utama kepada pihak TNWK, yakni penghentian konflik
gajah dan manusia di lahan milik warga, pertanggungjawaban atas kerugian yang
dialami masyarakat, serta kejelasan tanggung jawab atas jatuhnya korban jiwa
akibat konflik tersebut.
Menanggapi aspirasi warga, Bupati
Lampung Timur Ela Siti Nuryamah menegaskan bahwa keselamatan masyarakat adalah
prioritas utama pemerintah daerah. Ia menekankan bahwa pemerintah tidak akan
tinggal diam menghadapi persoalan yang menyangkut nyawa warganya.
“Pemerintah daerah hadir untuk
melindungi masyarakat. Keselamatan warga adalah yang utama, namun konservasi
satwa juga harus berjalan. Karena itu, sinergi semua pihak sangat diperlukan
agar tidak ada lagi korban,” ujar Ela.
Sementara itu, Direktur Konservasi
Kawasan Kementerian Kehutanan, Sapto Aji Prabowo, menyampaikan rencana langkah
mitigasi yang akan dilakukan sebagai upaya menekan konflik gajah dan manusia.
Salah satu langkah konkret yang direncanakan adalah pembangunan parit penghalau
dan tembok penahan dengan ketinggian tertentu di wilayah rawan.
“Upaya fisik ini kami harapkan
dapat mencegah gajah masuk ke permukiman dan lahan pertanian warga, sehingga
konflik dapat diminimalisir,” jelas Sapto.
Melalui dialog ini,
masyarakat berharap tidak hanya mendapatkan janji, tetapi juga aksi nyata dan
berkelanjutan. Warga desa penyangga TNWK ingin hidup berdampingan dengan alam
tanpa harus mengorbankan keselamatan, rasa aman, dan sumber penghidupan mereka.
[MFH/Komdigi Lamtim]











3.jpg)