- Wali Kota dan Kapolres Metro Solat Subuh Berjamaah, Resmikan Cafe Al Barokah
- 80% Pasien Kanker di Indonesia Terdeteksi Stadium Lanjut
- Peringatan Hari Pramuka ke 65, Metro Barat Salurkan 20 Paket Sembako
- Jelang Penilaian Adipura, Drs. Daman Nasir Minta Seluruh OPD Perhatikan Kebersihan Kantor
- Wabup Lampung Barat Lepas 6 Taruna Sekolah Kedinasan Kemenhub ke Poltrada Bali
- Bantuan Sosial Lebih Tepat Sasaran, Pemkab Ikut Percepat Registrasi Perlinsos Digital
- Razia di Jalinbar Pugung, Satlantas Polres Tanggamus Tindak 49 Pelanggar
- Jumat Keliling di Masjid Al Kausar Kuripan, Kapolres Ingin Lebih Dekat dengan Masyarakat
- Lindungi Perempuan dan Anak, Pemkot-Kejari Metro Perkuat Sinergi
- Wali Kota Metro Resmikan Gedung Kantor Koperasi Yosomulyo
Peringatan Hari Pramuka ke 65, Metro Barat Salurkan 20 Paket Sembako

METRO, MFH,-- Gerakan Pramuka tidak sekadar
menjadi wadah pembinaan keterampilan dan kedisiplinan, tetapi juga memiliki
tanggung jawab strategis dalam membentuk generasi muda yang berkarakter,
berintegritas, serta memiliki kepekaan terhadap persoalan sosial. Pesan
tersebut mengemuka dalam peringatan Hari Pramuka ke-65 Tahun 2026 tingkat
Kecamatan Metro Barat yang berlangsung di Lapangan Mulyosari, Jumat
(6/11/2026).
Peringatan yang berlangsung khidmat tersebut
tidak hanya diisi dengan kegiatan kepramukaan, tetapi juga diwujudkan melalui
aksi kepedulian sosial berupa penyaluran 20 paket sembako kepada masyarakat di
empat kelurahan wilayah Kecamatan Metro Barat. Kegiatan ini menjadi
representasi bahwa nilai-nilai kepramukaan harus hadir melampaui seremoni, melalui
tindakan nyata yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
Ketua Kwartir Cabang (Kwarcab) Gerakan Pramuka
Kota Metro, Kak Drs. Ahmad Hariyanto, M.M., dalam amanatnya menegaskan bahwa
kualitas generasi hebat tidak semata-mata ditentukan oleh deretan prestasi,
kemampuan baris-berbaris, ataupun banyaknya tanda kecakapan yang disematkan
pada seragam. Lebih mendasar dari itu, generasi unggul adalah generasi yang
memiliki karakter kuat dan mampu mengimplementasikan nilai-nilai kebaikan dalam
kehidupan sehari-hari dengan menekankan tiga fondasi karakter yang harus menjadi
identitas setiap insan Pramuka, yakni patriotisme, kegigihan, dan empati.
Baca Lainnya :
- Lindungi Perempuan dan Anak, Pemkot-Kejari Metro Perkuat Sinergi0
- Wali Kota Metro Resmikan Gedung Kantor Koperasi Yosomulyo0
- Pemkot Metro Gelar Forum Konsultasi Publik, Perkuat Responsivitas dan Transparansi Pelayanan0
- Wali Kota Metro Hadiri Audiensi Bersama PT PII0
- Wakil Wali Kota Metro Ajak Generasi Muda Jadi Penggerak Ekonomi dan Agen Perubahan0
Ahmad Hariyanto menggarisbawahi bahwa
patriotisme tidak boleh berhenti pada simbol dan slogan kebangsaan atau
mengibarkan bendera, menyanyikan lagu Indonesia Raya, serta menghafalkan
Pancasila merupakan bagian penting dari pendidikan kebangsaan, tetapi kecintaan
terhadap tanah air harus dibuktikan melalui perilaku konkret.
“Patriotisme juga dapat diwujudkan dengan
saling menjaga kebersihan lingkungan, menghormati keberagaman, merawat
persatuan, membantu sesama, serta menghindari tindakan perundungan merupakan
bentuk sederhana dari patriotisme yang harus dibiasakan sejak dini,” ungkapnya.
Menurutnya, tidak selayaknya seseorang mengaku
mencintai Indonesia apabila masih mengabaikan lingkungan dan merendahkan orang
lain. Sebab, nasionalisme sejati justru tumbuh dari kesadaran untuk menjaga,
menghargai, dan memberikan kontribusi positif terhadap kehidupan bersama.
Dalam konteks tersebut, ia turut mengapresiasi
peran para pembina Pramuka yang konsisten melakukan pembinaan terhadap
anak-anak sejak usia dini. Masa golden age dipandang sebagai fase penting untuk
menanamkan nilai-nilai positif, membangun kebiasaan baik, serta membentuk
fondasi kepribadian yang akan melekat hingga mereka memasuki usia dewasa.
“Karakter kedua yang menjadi penekanan adalah
kegigihan, karena kehidupan tidak selalu berjalan sesuai dengan ekspektasi.
Kegagalan dalam perlombaan, hasil belajar yang belum memuaskan, maupun berbagai
hambatan dalam proses meraih cita-cita merupakan bagian dari dinamika kehidupan
yang harus dihadapi dengan ketangguhan,”pungkasnya.
Pendidikan kepramukaan, menurutnya, mengajarkan
bahwa setiap kegagalan bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan kesempatan
untuk belajar, mengevaluasi diri, dan memperbaiki kekurangan serta
mengilustrasikan filosofi tersebut melalui aktivitas kepramukaan.
“Ketika simpul tali belum sempurna, seorang
Pramuka harus kembali belajar. Ketika tenda belum berdiri kokoh, mereka harus
memperbaikinya. Begitu pula ketika mengalami kegagalan, keberanian untuk
bangkit dan mencoba kembali merupakan sikap yang harus terus dipelihara,
“terangnya.
Pesan tersebut juga menegaskan bahwa kehebatan
seseorang bukan diukur dari ketiadaan kegagalan, melainkan dari keteguhan hati
untuk bangkit, bertahan, dan terus berproses menghadapi tantangan.
Sementara itu, karakter ketiga yang mendapat
perhatian khusus adalah nilai empati tengah kehidupan modern, ketika setiap
orang semakin mudah menyampaikan komentar dan penilaian, kepekaan untuk
memahami serta merasakan kondisi orang lain justru menjadi nilai yang harus
semakin diperkuat.
Sebagai Ketua Kwartir Cabang (Kwarcab) Gerakan
Pramuka Kota Metro, ia mengajak seluruh anggota Pramuka untuk membangun
kepedulian terhadap lingkungan sekitar, membantu teman yang mengalami
kesulitan, menghargai perbedaan, serta tidak menjadikan kekurangan orang lain
sebagai bahan ejekan maupun hinaan.
Menurutnya, seorang Pramuka tidak cukup hanya
memiliki kekuatan fisik dan keberanian, tetapi juga harus mempunyai kelapangan
hati untuk menguatkan sesama. Kepedulian sederhana, seperti menanyakan keadaan
teman yang sedang menghadapi persoalan, dapat menjadi bentuk dukungan yang
sangat berarti.
“Nilai empati tersebut juga menemukan
relevansinya melalui penyaluran 20 paket sembako kepada masyarakat di empat
kelurahan Kecamatan Metro Barat. Aksi sosial ini menjadi gambaran bahwa
pendidikan karakter tidak cukup disampaikan melalui amanat, tetapi harus
diwujudkan dalam perbuatan yang dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat, “paparnya.
Lebih lanjut, Ahmad Hariyanto mengingatkan agar
Pramuka tidak dipersempit maknanya hanya sebagai kegiatan baris-berbaris,
berkemah, atau sekadar mengenakan seragam cokelat. Pramuka merupakan ruang
pendidikan karakter yang membentuk kemampuan seseorang untuk memimpin dirinya
sendiri sebelum memimpin orang lain.
“Di dalamnya terdapat pembelajaran mengenai
tanggung jawab, kemandirian, kedisiplinan, keberanian, kepemimpinan, serta
kepedulian terhadap lingkungan sosial, “ungkapnya.
Untuk itu, ia berharap Gerakan Pramuka di
Kecamatan Metro Barat terus berkembang menjadi wadah pembinaan generasi muda
yang berkarakter, berprestasi, dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi
masyarakat.
“Peringatan Hari Pramuka ke-65 di Kecamatan
Metro Barat menjadi pengingat bahwa keberhasilan pendidikan kepramukaan tidak
cukup diukur dari kemeriahan kegiatan maupun jumlah peserta yang hadir. Ukuran
yang lebih substansial terletak pada sejauh mana nilai-nilai kepramukaan mampu
membentuk perilaku, memperkuat integritas, dan melahirkan kepedulian sosial,
“katanya.
Selain itu, patriotisme harus tercermin dalam
kecintaan terhadap bangsa dan lingkungan. Kegigihan harus menjadi landasan
dalam menghadapi setiap tantangan. Sementara empati harus diwujudkan melalui
kesediaan untuk membantu dan menguatkan sesama.
“Sebab, hakikat Pramuka
bukan sekadar tentang seragam yang dikenakan, melainkan tentang karakter yang
dibangun, nilai yang diperjuangkan, dan pengabdian yang diberikan kepada
masyarakat, bangsa, dan negara,” pungkasnya. [MFH/Diskominfo]











