- Paguyuban Pedagang Kuliner Pasar Mambo Jajaki Kerjasama dengan Media Faktual Hukum
- Pemprov Lampung Lakukan Groundbreaking Perbaikan Ruas Jalan Jabung-SP Labuhan Maringgai
- Waspadai El Nino 2026, Pemprov Lampung Matangkan Strategi Mitigasi Terpadu
- Polda Lampung Bongkar Sindikat Penimbunan BBM Ilegal di Pesawaran
- Polda Lampung Gagalkan Penyelundupan 15,7 kilogram Sabu di Pelabuhan Bakauheni
- Pemprov dan KLH Perkuat Sinergi, Wujudkan Langkah Reformasi Pengelolaan Sampah
- Rapat Paripurna DPRD Pesawaran Sampaikan Rekomendasi LKPJ 2025
- Bupati Lamtim Ela Siti Nuryamah Tinjau Sekuntum Herbal Farm
- Plt. Bupati Lampung Tengah Hadiri Halal Bihalal Pangdam, Perkuat Sinergi TNI dan Masyarakat
- Pemkab Lampung Tengah Dalami Program Vaksinasi HPV Nasional
Waspadai El Nino 2026, Pemprov Lampung Matangkan Strategi Mitigasi Terpadu


BANDAR LAMPUNG, MFH,-- Pemerintah Provinsi
Lampung menggelar Rapat Koordinasi terkait mitigasi fenomena El Nino Tahun
2026, bertempat di Gedung Pusiban Kantor Gubernur Lampung, Jum'at (10/04/2026).
Rapat ini menjadi langkah strategis pemerintah
daerah dalam merespon potensi kemarau ekstrem yang diperkirakan akan berdampak
luas terhadap sektor pertanian, ekonomi, hingga kehidupan masyarakat.
Baca Lainnya :
- Pemprov dan KLH Perkuat Sinergi, Wujudkan Langkah Reformasi Pengelolaan Sampah0
- Indeks Pembangunan Statistik Naik, Diskominfotik Fokus Perkuat Tata Kelola Jelang EPSS 20260
- Rotasi Jabatan di Pemprov Lampung, Perkuat Sektor Energi dan Sumber Daya Air0
- DesaKu Maju Dorong Hilirisasi Perdesaan Lampung untuk Perkuat MBG dan KDMP0
- Sensus Ekonomi 2026, Pemprov Lampung Perkuat Sinergi untuk Data Berkualitas0
Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, dalam
arahannya menegaskan bahwa fenomena El Nino tahun ini, yang disebut sebagai 'El
Nino Godzilla', telah mendapat peringatan serius dari pemerintah pusat dan
berpotensi besar mengganggu produksi pangan nasional, khususnya di Provinsi Lampung
sebagai salah satu lumbung pangan utama.
"Kita telah mendapat warning bahwa
fenomena ini akan sangat mempengaruhi produksi pangan. Oleh karena itu,
keseriusan kita dalam memitigasi El Nino ini sangat diperlukan," ujar
Gubernur.
Gubernur menekankan bahwa Lampung memiliki
peran strategis dalam menjaga ketahanan pangan, tidak hanya untuk memenuhi
kebutuhan daerah, tetapi juga sebagai pemasok utama bagi wilayah lain di
Indonesia. Ia memaparkan bahwa produksi gabah Lampung pada tahun sebelumnya
mencapai 3,2 juta ton atau setara dengan sekitar 1,7 juta ton beras.
"Konsumsi masyarakat Lampung tidak lebih
dari 800 ribu ton per tahun. Artinya, ada sekitar 900 ribu ton yang selama ini
menyuplai kebutuhan pangan di luar daerah. Ini menunjukkan bahwa tanggung jawab
kita tidak hanya untuk masyarakat Lampung, tetapi juga untuk daerah lain yang
bergantung pada kita," jelasnya.
Lebih jauh, Gubernur mengingatkan bahwa dampak
El Nino tidak hanya berhenti pada penurunan produksi, tetapi juga berpotensi
menimbulkan efek berantai terhadap sektor ekonomi. Penurunan produksi jagung,
misalnya, akan berdampak langsung pada industri pakan ternak.
"Ketika produksi jagung berkurang,
produksi pakan akan turun. Ketika pakan berkurang, harga pakan naik, dan pada
akhirnya harga ayam serta telur ikut naik. Dampaknya sangat besar terhadap
stabilitas ekonomi dan daya beli masyarakat," tegasnya.
Dalam paparannya, Gubernur juga mengungkapkan
bahwa masyarakat lampung berpotensi terdampak langsung oleh fenomena ini.
"Nasib jutaan masyarakat bergantung pada
keputusan dan langkah yang kita ambil hari ini. Oleh karena itu, saya minta
kepada seluruh kepala daerah untuk benar-benar serius, memperkuat koordinasi,
serta memastikan tindak lanjut di lapangan berjalan optimal," tegasnya.
Gubernur juga mengajak seluruh jajaran
pemerintah daerah untuk meneladani kisah Nabi Yusuf AS dalam menghadapi masa
kekeringan panjang dengan perencanaan yang matang.
"Kita akan menghadapi kekeringan besar
tahun ini. Nabi Yusuf mempersiapkan tujuh tahun untuk menghadapi tujuh tahun
kekeringan. Artinya, perencanaan dan kesiapan adalah kunci. Saya berharap
seluruh kepala daerah dapat menunjukkan kepemimpinan, kemampuan manajerial,
serta orkestrasi yang baik dalam menghadapi situasi ini," tambahnya.
Ia juga menegaskan bahwa Pemerintah Provinsi
Lampung sangat serius dalam menghadapi ancaman El Nino.
"Kami sudah menghitung dampaknya terhadap
pertumbuhan ekonomi. Jika produksi turun dan harga tidak stabil, maka
pertumbuhan ekonomi Lampung juga akan tertekan," pungkasnya.
Sementara itu, Wakil Gubernur Lampung, Jihan
Nurlela, menyampaikan bahwa berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi,
Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), fenomena El Nino diperkirakan mulai terjadi
pada Mei 2026, dengan puncak kemarau pada periode Juli hingga September.
"El Nino ini berpotensi menimbulkan
kemarau yang sangat ekstrem. Ini bukan untuk menakut-nakuti, tetapi sudah
menjadi informasi publik yang harus kita sikapi dengan langkah nyata.
Kabupaten/kota harus mulai mengantisipasi risiko kekeringan dari
sekarang," ujarnya.
Wakil Gubernur menjelaskan bahwa dampak El Nino
akan meluas ke berbagai sektor, mulai dari pertanian, hortikultura, perkebunan,
hingga permukiman yang berpotensi mengalami krisis air bersih. Selain itu,
kondisi cuaca kering juga berisiko meningkatkan kasus gangguan kesehatan,
seperti Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
Dalam upaya mitigasi, Wakil Gubernur memaparkan
sejumlah langkah strategis yang perlu dilakukan secara terpadu lintas sektor.
Di sektor pertanian, pemerintah daerah diminta untuk melakukan percepatan tanam
pada periode April hingga Juni, penggunaan varietas tahan kekeringan,
pompanisasi, serta optimalisasi program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP).
Di sektor sumber daya air, langkah yang harus dilakukan
meliputi revitalisasi embung dan sumur bor, distribusi air bersih, serta
penyediaan irigasi darurat dengan melibatkan berbagai instansi terkait seperti
Dinas PSDA, PUPR, PDAM, hingga Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS).
Selain itu, pemerintah daerah juga diminta
meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla),
terutama pada periode Mei hingga Oktober, melalui pembentukan atau pengaktifan
kembali satuan tugas (satgas), patroli hotspot, serta penegakan larangan pembakaran
lahan.
"Pengawasan terhadap praktik pembakaran
lahan, seperti pada panen tebu di beberapa daerah, harus diperketat melalui
sosialisasi dan penegakan aturan," tegasnya.
Di sektor kesehatan, koordinasi antara Dinas
Kesehatan dan rumah sakit perlu diperkuat untuk mengantisipasi peningkatan
kasus ISPA, serta memastikan ketersediaan air bersih dan sistem surveilans
penyakit berjalan optimal.
Sementara itu, dari sisi perencanaan dan
koordinasi, Bappeda dan BPBD diminta untuk rutin menggelar rapat koordinasi
lintas OPD guna memantau indikator serta menetapkan status darurat jika
diperlukan.
"Sinergi dan integrasi antar OPD menjadi
kunci agar penanganan lebih efektif dan efisien. Kita harus solid dan
responsif. Tidak bisa berjalan sendiri-sendiri," pungkasnya.
Dalam kesempatan yang sama, Kepala Stasiun
Klimatologi Lampung BMKG, Indra Purna, memaparkan kondisi iklim terkini dan
proyeksi ke depan. Ia menjelaskan bahwa saat ini Lampung berada dalam fase
pancaroba yang ditandai dengan potensi cuaca ekstrem seperti hujan lebat, angin
kencang, hingga puting beliung.
"Ini adalah fase peralihan dari musim
hujan ke musim kemarau. Suhu muka laut mulai menghangat dan pasokan uap air
berkurang, yang dapat menjadi indikasi awal menuju kondisi El Nino,"
jelasnya.
Lebih lanjut, Indra menjelaskan bahwa musim
kemarau di Lampung diperkirakan mulai terjadi pada Mei 2026, dimulai dari
wilayah selatan dan timur, kemudian meluas ke wilayah tengah dan barat. Puncak
musim kemarau diprediksi terjadi pada Agustus hingga September.
"Curah hujan di sebagian besar wilayah
Lampung diperkirakan berada di bawah normal atau lebih kering dari biasanya.
Bahkan di beberapa wilayah seperti Lampung Selatan, durasi musim kemarau dapat
mencapai hingga 210 hari," jelasnya.
Ia juga menegaskan bahwa prediksi BMKG tidak
menunjukkan kondisi El Nino ekstrem seperti yang dikhawatirkan secara global.
"Dari BMKG, prediksi kita tidak seperti
yang dihebohkan, tidak sampai kategori strong El Nino dengan anomali suhu muka
laut ekstrem. Namun demikian, kita tetap perlu memperhitungkan berbagai faktor
global yang saling mempengaruhi," jelasnya.
Indra juga memberikan perbandingan historis
untuk memberikan gambaran kondisi El Nino tahun 2026.
"Jika dianalogikan, kondisi tahun 2026 ini
cenderung lebih basah dibandingkan 1997, namun lebih kering dibandingkan 2023.
Artinya, kondisinya relatif mirip dengan tahun 2015. Jadi memang tidak
seekstrem 1997, tetapi tetap kering dan perlu diantisipasi dengan serius,"
ungkapnya.
Diakhir, Indra Purna menekankan pentingnya kesiapsiagaan
seluruh pihak dalam menghadapi potensi terburuk dari fenomena El Nino.
"Mudah-mudahan kita bisa, karena sudah ada
gambaran seperti ini, kita bisa mempersiapkan diri sejak dini untuk menghadapi
kondisi terburuk dari fenomena El Nino, yaitu kekeringan ekstrem yang saat ini
akan kita hadapi sebagai El Nino Godzilla," pungkasnya.
Pemerintah Provinsi Lampung
melalui rapat koordinasi ini menegaskan komitmennya untuk memperkuat
kesiapsiagaan dan kolaborasi lintas sektor dalam menghadapi El Nino 2026.
Langkah ini diharapkan mampu meminimalisir dampak terhadap ketahanan pangan,
stabilitas ekonomi, serta kesejahteraan masyarakat di Provinsi Lampung dan
wilayah sekitarnya. [MFH/Dinas Kominfotik Provinsi Lampung]










3.jpg)