- Dilantik di Tengah Pasar, Bupati Egi Ingatkan Pejabat soal Realitas Pengabdian
- Siswa SMK PGRI 1 Semaka Tampilkan Tari Kreasi Adat Lampung di Musrenbang
- BPRS Diminta Tingkatkan Inovasi Program
- Laksanakan Musrenbang Hybrid, Bupati Tegaskan Akses Menuju Lokasi Pendidikan jadi Skala Perioritas
- Pemprov Lampung Tegaskan Jembatan Way Bungur akan Dibangun Ulang
- Hadiri Rakornas 2026, Bupati–Wakil Bupati Lambar Tegaskan Siap Jalankan Arahan Presiden
- Sekda Lampung Barat Tegaskan SPPG Harus Sajikan Makanan Layak Konsumsi
- Pemkab Lamteng Evaluasi Belanja Produk Dalam Negeri Tahun 2025
- Pemkab Bahas Kesepakatan PBJT Tenaga Listrik dengan PT PLN (Persero)
- Bupati dan Wakil Bupati Tanggamus Hadiri Rapat Koordinasi Nasional di Bogor
Gubernur Lampung Dorong Penanganan Terpadu Konflik Gajah-Manusia di Way Kambas

LAMPUNG TIMUR, MFH,-- Gubernur
Lampung, Rahmat Mirzani Djausal menegaskan komitmen pemerintah untuk
menuntaskan konflik gajah dan manusia di kawasan Taman Nasional Way Kambas
(TNWK) melalui pembangunan batas permanen berbasis kajian teknis dan masukan langsung
dari masyarakat desa penyangga.
Penegasan itu disampaikan Gubernur
saat memimpin Dialog Gerakan Bersatu dengan Alam dalam rangka Mitigasi Konflik
Gajah dan Manusia di Balai Taman Nasional Way Kambas, Desa Rajabasa Lama,
Kecamatan Labuhan Ratu, Kabupaten Lampung Timur, Sabtu (24/1/2026).
Selain Gubernur, Kegiatan tersebut
juga dihadiri oleh Panglima Komando Daerah Militer (Kodam) XXI/Radin Inten
Mayjen TNI Kristomei Sianturi, S.Sos., M.Si. (Han), Ketua DPRD Provinsi Lampung
Ahmad Giri Akbar, Bupati Lampung Timur Ela Siti Nuryamah, Kepala Balai Taman
Nasional Way Kambas (TNWK), MHD. Zaidi, S. Hut., M.A.P. dan Kepala Badan
Intelijen Negara Daerah (Kabinda) Lampung Suryono.
Baca Lainnya :
- Pemkab Lamtim Perkuat Langkah Turunkan Stunting Demi Generasi Sehat0
- Haul KH Abdul Chalim Maftuhin dan Haul KH Maksum Ahmad Lasem0
- Investor Asing Tertarik Berinvestasi PLTS dan Dermaga di Lampung Timur0
- Presiden Prabowo: Konflik Gajah–Manusia di Way Kambas Menuju Solusi Permanen0
- Presiden Dukung Pembangunan Pembatas Permanen Atasi Konflik Gajah-Manusia0
Gubernur menjelaskan, dialog
tersebut secara khusus digelar untuk menyerap aspirasi, keluhan, dan usulan
masyarakat desa penyangga TNWK yang selama puluhan tahun terdampak konflik
dengan gajah liar. Masukan masyarakat menjadi dasar utama dalam merumuskan
kebijakan mitigasi yang bersifat permanen dan berkelanjutan.
“Ini bukan acara seremonial. Kita
datang untuk mendengar langsung masyarakat, karena merekalah yang paling
merasakan dampak konflik ini. Solusi ke depan harus berangkat dari kondisi riil
di lapangan,” ujar Gubernur.
Gubernur menegaskan, konflik gajah
dan manusia di Way Kambas tidak dapat lagi diselesaikan dengan pendekatan
sementara. Pemerintah menargetkan pembangunan batas kawasan permanen sepanjang
hampir 60–70 kilometer yang disesuaikan dengan karakter wilayah, mulai dari
rawa, sungai, hingga tanah keras.
“Besok tim teknis langsung turun
melakukan feasibility study. Kita pastikan pembatas ini kuat, ramah lingkungan,
tidak mengganggu pergerakan gajah, dan tidak merugikan masyarakat,” kata
Gubernur.
Gubernur mengungkapkan, perhatian
pemerintah pusat terhadap Way Kambas sangat serius. Presiden Prabowo Subianto,
kata dia, menjadikan konflik gajah dan manusia di TNWK sebagai isu prioritas
nasional, bahkan dibahas dalam kunjungan kerja sama strategis di Inggris
bersama Raja Charles III.
“Way Kambas akan menjadi
percontohan konservasi untuk 57 taman nasional di Indonesia. Ini menunjukkan
bahwa perhatian Presiden bukan sekadar wacana, tetapi komitmen nyata yang
dibawa ke forum internasional,” ujar Gubernur.
Gubernur menambahkan, Way Kambas
dipilih sebagai proyek percontohan karena memiliki kompleksitas tinggi, dengan
sekitar 125.000 hektare kawasan yang berbatasan langsung dengan wilayah
permukiman hampir 800.000 jiwa. Keberhasilan mitigasi di TNWK diharapkan
menjadi model nasional.
Selain pembangunan batas kawasan,
Pemerintah Provinsi Lampung juga akan memperkuat pengamanan dan pelibatan
masyarakat. Gubernur mengakui jumlah polisi hutan yang saat ini hanya 39 orang
sangat tidak sebanding dengan luas kawasan TNWK.
“Kita akan melibatkan masyarakat
melalui satgas desa dan kemitraan konservasi. Masyarakat bukan objek, tapi
mitra utama dalam menjaga hutan dan satwa,” ujarnya.
Dukungan juga datang dari Panglima
Komando Daerah Militer (Kodam) XXI/Radin Inten Mayjen TNI Kristomei Sianturi,
S.Sos., M.Si. (Han), yang menegaskan kesiapan TNI membantu pemerintah daerah
dan masyarakat dalam mitigasi konflik, baik melalui karya bakti pembangunan
infrastruktur maupun patroli bersama secara humanis.
“TNI siap kapan pun dibutuhkan.
Prinsipnya, gajah tidak disakiti, masyarakat merasa aman,” ucap Pangdam.
Dalam sesi dialog, sejumlah kepala
desa penyangga menyampaikan apresiasi atas kehadiran langsung Gubernur dan
jajaran Forkopimda. Kepala Desa Braja Harjosari, Suryanto, menyebut masyarakat
telah lama menunggu langkah nyata pemerintah.
“Kami lelah hidup dalam ketakutan.
Mendengar komitmen hari ini, kami merasa ada harapan dan siap mendukung penuh,”
ujarnya.
Sementara itu, tokoh masyarakat
Labuhan Ratu VI, Prayitno, berharap pemerintah juga memperhatikan skema
perlindungan bagi petani yang tanamannya rusak akibat konflik satwa, serta
membuka ruang partisipasi masyarakat secara legal dan berkelanjutan.
Dialog Gerakan Bersatu dengan Alam
tersebut menegaskan arah baru penanganan konflik satwa dan manusia yang tidak
lagi bersifat reaktif, tetapi terintegrasi dalam kebijakan konservasi nasional.
Pemerintah Provinsi Lampung bersama pemerintah pusat menempatkan Taman Nasional
Way Kambas sebagai laboratorium kebijakan mitigasi konflik berbasis ekologi,
keamanan, dan kesejahteraan masyarakat.
Keberhasilan program di Way Kambas
akan menjadi rujukan nasional bagi 57 taman nasional di Indonesia yang
menghadapi persoalan serupa. Pemerintah menargetkan model ini mampu
menyeimbangkan perlindungan satwa liar, keselamatan warga, serta keberlanjutan
kawasan konservasi sebagai bagian dari agenda nasional pembangunan lingkungan
hidup.
Dengan dukungan pemerintah pusat,
TNI, pemerintah daerah, dan masyarakat desa penyangga, Way Kambas diharapkan
menjadi contoh nyata bahwa konservasi tidak berdiri terpisah dari kehidupan
sosial, melainkan tumbuh bersama masyarakat dan menjadi fondasi ketahanan
lingkungan nasional. [MFH/Dinas Kominfotik Provinsi Lampung]











3.jpg)