- Bupati Pesisir Barat Hadiri Pengukuhan Arlin Agus Saputra sebagai Raja Setia Muda di Bangkunat
- Bupati Sampaikan Ranperda Pertanggungjawaban APBD 2025, Raih WTP Dua Kali Berturut-turut
- Wabup Ajak Masyarakat Perkuat Iman untuk Wujudkan Indonesia Emas dan Lambar Bermartabat
- Perjuangkan Revitalisasi Sekolah di Lambar, Bupati Parosil Temui Dirjen Paud Dikdasmen RI
- 224 Warga Baru PSHT di Lampung Barat Disahkan, Wabup Mad Hasnurin Beri Ucapan Selamat
- Gubernur Lampung Minta Program MBG Libatkan BUMDes dan UMKM Desa
- Pemprov Lampung Waspadai Fluktuasi Harga Pangan, Koordinasi Pengendalian Inflasi Diperkuat
- Gubernur Lampung Ajak APINDO Perkuat Kolaborasi Bangun Ekonomi Lampung yang Inklusif
- Meriah dan Penuh Kebersamaan, Nobar Piala Dunia di PKOR Way Halim Disambut Antusias Warga
- Konser Pra-Kompetisi GNLC Meriah, Purnama Wulan Sari Beri Dukungan Penuh untuk JICF
Gubernur Lampung Minta Program MBG Libatkan BUMDes dan UMKM Desa

BANDAR LAMPUNG, MFH,-- Gubernur Lampung, Rahmat
Mirzani Djausal meminta seluruh pelaksana Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di
Lampung memperkuat kolaborasi dengan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), UMKM,
petani, dan pelaku ekonomi desa agar manfaat program nasional tersebut dapat
dirasakan lebih luas oleh masyarakat.
"Program MBG bukan hanya soal menyediakan
makanan bergizi bagi anak-anak, tetapi juga menjadi instrumen pemerataan
ekonomi dan penguatan desa. Karena itu, seluruh pihak harus memastikan
manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat di tingkat bawah," ucap
Gubernur Mirza saat menghadiri Pengukuhan Pengurus Asosiasi Pengusaha dan
Pengelola Dapur Makan Bergizi Gratis Indonesia (APPMBGI) DPD Provinsi Lampung
dan DPD Kabupaten/Kota se-Lampung di Balai Keratun Kantor Gubernur Lampung,
Senin (22/6/2026).
Pengukuhan APPMBGI Provinsi Lampung dan DPD
Kabupaten/Kota tersebut dihadiri unsur Forkopimda, pimpinan perguruan tinggi,
pengurus APPMBGI pusat dan daerah, mitra Badan Gizi Nasional (BGN), serta
kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dari seluruh Lampung yang
mengikuti kegiatan secara langsung maupun virtual.
Baca Lainnya :
- Pemprov Lampung Waspadai Fluktuasi Harga Pangan, Koordinasi Pengendalian Inflasi Diperkuat0
- Gubernur Lampung Ajak APINDO Perkuat Kolaborasi Bangun Ekonomi Lampung yang Inklusif0
- Meriah dan Penuh Kebersamaan, Nobar Piala Dunia di PKOR Way Halim Disambut Antusias Warga0
- Konser Pra-Kompetisi GNLC Meriah, Purnama Wulan Sari Beri Dukungan Penuh untuk JICF0
- Wagub Jihan Dorong PJ91 Wujudkan Semangat Bersatu, Berbaur, dan Berdampak0
Dalam kesempatan itu, Pemerintah Provinsi
Lampung menegaskan komitmennya mendukung pelaksanaan Program MBG sebagai salah
satu program strategis nasional yang tidak hanya berorientasi pada peningkatan
kualitas gizi anak, tetapi juga menjadi sarana memperkuat perekonomian desa.
Gubernur Mirza menilai Program MBG memiliki
keterkaitan langsung dengan upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia di
Lampung. Menurut dia, kecukupan gizi dan konsumsi protein menjadi faktor
penting dalam meningkatkan kualitas pendidikan dan produktivitas generasi muda.
Ia mengungkapkan bahwa Lampung masih menghadapi
sejumlah tantangan pembangunan manusia. Salah satunya tercermin dari posisi
Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Lampung yang masih berada di bawah sejumlah
daerah lain di Indonesia.
Selain itu, tingkat konsumsi protein masyarakat
Lampung juga masih tergolong rendah meskipun provinsi ini merupakan salah satu
sentra produksi pangan nasional. Lampung dikenal sebagai penghasil ayam, telur,
ikan, jagung, dan berbagai komoditas pangan lainnya.
"Kita memiliki sumber protein yang
melimpah, tetapi konsumsi protein masyarakat masih rendah. Kondisi ini
berdampak pada kualitas sumber daya manusia dan produktivitas masyarakat,"
ujarnya.
Menurut Gubernur Mirza, Program MBG menjadi salah
satu jawaban untuk meningkatkan akses anak-anak terhadap makanan bergizi,
khususnya di wilayah pedesaan yang selama ini memiliki keterbatasan daya beli.
Pemerintah Provinsi Lampung juga melihat
program tersebut sebagai instrumen untuk mendorong perputaran ekonomi di desa.
Karena itu, pelaksanaan MBG harus terintegrasi dengan pelaku usaha lokal agar
manfaat ekonominya tidak hanya berhenti di dapur penyedia makanan.
Ia mengaku menerima berbagai masukan dari
kepala desa terkait keberadaan dapur MBG yang dinilai belum sepenuhnya
terhubung dengan rantai ekonomi desa. Kondisi tersebut menjadi perhatian
pemerintah daerah agar ke depan terjadi sinergi yang lebih kuat.
Untuk menjawab persoalan tersebut, Pemprov
Lampung mendorong kerja sama antara pengelola dapur MBG dengan BUMDes, koperasi
desa, kelompok tani, peternak, nelayan, serta UMKM lokal sebagai pemasok bahan
baku.
Menurut Gubernur, keterlibatan pelaku ekonomi
desa perlu dibangun secara bertahap melalui pembinaan dan pendampingan sehingga
mampu memenuhi kebutuhan serta standar yang ditetapkan dalam program MBG.
"Kalau ada BUMDes atau pelaku usaha desa
yang belum siap, jangan ditinggalkan. Mereka harus dibina agar mampu berkembang
dan menjadi bagian dari rantai pasok program ini," katanya.
Selain aspek ekonomi, gubernur juga menekankan
pentingnya pengawasan terhadap kualitas layanan MBG. Ia meminta seluruh
pengelola dapur menjaga standar kebersihan, keamanan pangan, dan tata kelola
yang transparan.
Pemerintah Provinsi Lampung, lanjut Mirza, akan
memperkuat pengawasan bersama berbagai pihak untuk memastikan pelaksanaan
program berjalan sesuai tujuan yang ditetapkan pemerintah pusat.
Ia menegaskan bahwa setiap temuan penyimpangan
akan ditindaklanjuti secara serius. Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga
kepercayaan masyarakat terhadap program yang dinilai memiliki dampak besar bagi
masa depan generasi muda Indonesia.
Pada kegiatan tersebut juga dilakukan
penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara
Pemerintah Provinsi Lampung, Badan Gizi Nasional (BGN), mitra penyelenggara
MBG, Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), serta Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).
Kesepakatan itu menjadi langkah konkret untuk memperkuat keterlibatan ekonomi
desa dalam rantai pasok Program MBG di Lampung.
Melalui kerja sama tersebut, pemerintah daerah
mendorong pemanfaatan hasil pertanian, peternakan, perikanan, dan produk UMKM
lokal sebagai sumber bahan baku dapur MBG. Dengan demikian, perputaran anggaran
program tidak hanya berfokus pada pemenuhan kebutuhan gizi, tetapi juga
menggerakkan perekonomian masyarakat desa.
Sementara itu, Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati)
Lampung Danang Suryo Wibowo menegaskan bahwa Program MBG merupakan program
prioritas nasional yang harus dijalankan secara profesional, transparan, dan
sesuai tujuan yang telah ditetapkan pemerintah.
Menurut Kajati, seluruh pihak yang terlibat
dalam program tersebut harus memiliki kesamaan niat untuk menyukseskan upaya
peningkatan kualitas generasi muda Indonesia. Ia mengingatkan agar pelaksanaan
program tidak bergeser menjadi semata-mata orientasi keuntungan ekonomi.
"Program ini menggunakan uang rakyat yang
ditujukan untuk kepentingan anak-anak Indonesia. Karena itu jangan sampai ada
pihak yang menyalahgunakan kewenangan ataupun mencari keuntungan dengan
mengorbankan kualitas layanan," kata Danang.
Kajati juga menegaskan bahwa Kejaksaan akan
mendukung keberhasilan Program MBG sekaligus melakukan pengawasan terhadap
potensi penyimpangan. Menurut dia, praktik korupsi, gratifikasi, maupun
penyalahgunaan anggaran dapat berimplikasi hukum apabila terbukti merugikan
keuangan negara.
Selain aspek tata kelola, Kajati memberi
perhatian khusus terhadap keamanan pangan. Ia meminta seluruh pengelola dapur
memastikan standar kebersihan dan kualitas makanan dipenuhi secara ketat untuk
mencegah terjadinya kasus keracunan makanan.
"Kalau masih terjadi kasus keracunan akibat
kelalaian pengelolaan, tentu akan menjadi perhatian serius dan harus dievaluasi
secara menyeluruh. Program ini menyangkut kesehatan dan masa depan anak-anak
kita," ujarnya.
Kajati juga mendukung arahan Gubernur Lampung
agar pengelola dapur MBG memperkuat kemitraan dengan BUMDes, koperasi, petani,
peternak, dan pelaku usaha desa. Menurut dia, keberhasilan program tidak hanya
diukur dari tersalurkannya makanan bergizi, tetapi juga dari dampaknya terhadap
kesejahteraan masyarakat di daerah.
Ia berharap seluruh kesepakatan yang telah
dituangkan dalam MoU dan PKS tidak berhenti sebagai dokumen administratif
semata, melainkan benar-benar diwujudkan melalui transaksi dan kerja sama nyata
yang memberikan manfaat bagi desa-desa di Lampung.
Sementara itu, Ketua Umum DPP APPMBGI Abdul
Rivai Ras menyatakan organisasinya siap menjadi mitra pemerintah dalam mengawal
implementasi Program MBG di seluruh Indonesia, termasuk di Lampung.
Menurut Abdul Rivai, APPMBGI dibentuk sebagai
wadah kolaborasi antara pengusaha, pengelola dapur, dan berbagai pemangku
kepentingan guna mendukung standarisasi, pengawasan, serta keberlanjutan
Program MBG.
Ketua DPD I APPMBGI Lampung Gandhi Liyorba
Indra mengatakan pihaknya berkomitmen menjaga kualitas layanan dan memastikan
seluruh anggota menjalankan program sesuai ketentuan yang berlaku. APPMBGI
Lampung juga siap berkolaborasi dengan pemerintah daerah dalam mendukung
keberhasilan program tersebut.
Melalui penguatan kolaborasi antara pemerintah,
APPMBGI, BUMDes, koperasi, petani, nelayan, dan UMKM, Program MBG diharapkan
tidak hanya meningkatkan kualitas gizi anak-anak Lampung, tetapi juga mendorong
pertumbuhan ekonomi desa, mengurangi kemiskinan, serta mempercepat peningkatan
kualitas sumber daya manusia di Provinsi Lampung. [MFH/Dinas Kominfotik
Provinsi Lampung]











3.jpg)