- Diduga Lakukan Kekerasan Verbal terhadap Anak, Oknum Collector OTO Finance Resmi Dilaporkan
- Operasi Pasar Minyakita Digelar Serentak pada 15 Kabupaten/Kota di Lampung
- Pesawaran Tampilkan Produk Unggulan UP2K Dalam Kunjungan Kerja TP PKK Pusat di Lampung
- Bupati Pringsewu Audiensi dengan Ombudsman Lampung Bahas Pelayanan Publik
- Lamtim Canangkan Sensus Ekonomi 2026, Bupati Ela: Pertumbuhan Daerah Ada di Tangan Pelaku Usaha
- Rakor DWP Lamteng Tekankan Pelaksanaan Program Kerja dan E-Reporting
- TP PKK Provinsi Lampung Dorong Pemberdayaan Lansia dan Ketahanan Keluarga
- TP-PKK Lampung Utara Turut Berpartisipasi Dalam Bulan Bhakti Ikatan Bidan Indonesia
- TP-PKK Lampura Turut Perkuat Pengendalian Inflasi Serta Jaga Daya Beli Masyarakat
- Sampah Capai 127 Ton Per Hari, Bupati Parosil Jemput Dukungan ke Kementerian Lingkungan Hidup
Gubernur Lampung Tinjau SPPG Rajabasa
Pastikan Protokol Keamanan Pangan Dijalankan

BANDAR LAMPUNG, MFH
— Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal meninjau Satuan Pelayanan Pemenuhan
Gizi (SPPG) Rajabasa Musi Raya, Kota Bandar Lampung, Kamis (02/10/2025).
Peninjauan dilakukan untuk memastikan seluruh dapur SPPG di Lampung menjalankan
protokol keamanan pangan sesuai standar yang berlaku.
Dalam kunjungan
tersebut, Gubernur Mirza menyoroti pentingnya kepatuhan pada Standar
Operasional Prosedur (SOP) di seluruh SPPG agar tidak terjadi kejadian luar
biasa (KLB) yang membahayakan penerima manfaat. Ia menegaskan, selama tujuh
bulan pertama program ini berjalan, tidak ada laporan KLB meski jutaan porsi
makanan bergizi (MBG) telah disalurkan ke anak-anak di seluruh Lampung.
“Selama tujuh
bulan sebelumnya tidak ada kejadian luar biasa. Ini membuktikan protokol MBG
dan BGN yang dijalankan dengan baik dapat mencegah masalah. Namun, pada Agustus
hingga September kami mencatat tujuh kejadian luar biasa yang sebagian besar
terjadi di dapur-dapur baru yang belum sepenuhnya menjalankan SOP,” ujar
Gubernur di sela peninjauan.
Baca Lainnya :
- Kontingen Pornas XVII Korpri Lampung Dibiayai Iuran Anggota0
- Pemprov Lampung Targetkan 90 Persen Jalan Provinsi Mantap 20280
- Kepala BKD Lampung Pantau Langsung Pelantikan 1.082 PPPK Tahap II0
- Pejabat Utama Polda Lampung Jadi Irup SMA, SMK, MAN di Bandar Lampung0
- Gubernur Lampung Apresiasi Kejati Atas Penyelamatan Aset Daerah0
Menurut Gubernur,
temuan ini menjadi pelajaran penting bagi seluruh pihak yang terlibat dalam
pelayanan gizi. Ia menegaskan bahwa masalah bukan terletak pada sistem atau
mekanisme program, melainkan pada kedisiplinan pelaksana di lapangan yang tidak
konsisten mengikuti protokol yang telah ditetapkan.
“Kami ingin
menekankan bahwa yang salah bukan dapurnya atau sistemnya. Selama protokol
dijalankan dengan tepat, program ini aman. Kejadian ini terjadi karena ada
prosedur yang dilanggar atau tidak dilakukan dengan sempurna,” katanya.
Peninjauan ini
juga dihadiri Kepala SPPG Rajabasa Musi Raya, Lucyani Putri Wulandari, Kasubbag
TU KPPG BGN Fitra Alfarizi, serta sejumlah pejabat dari Dinas Lingkungan Hidup,
BP POM, dan Dinas Kesehatan. Kehadiran mereka untuk memastikan keamanan pangan,
proses sertifikasi, hingga pengawasan kualitas air dan bahan baku berjalan
sesuai ketentuan.
Gubernur Mirza
menegaskan, pemerintah daerah akan memperkuat kerja sama lintas instansi untuk
mengawasi seluruh dapur SPPG di Lampung. Ia meminta pemerintah kabupaten,
kecamatan, hingga desa ikut memantau pelaksanaan SOP agar pelayanan gizi tetap
aman bagi penerima manfaat.
Dalam peninjauan,
Gubernur juga menyoroti pengelolaan bahan baku. Menurut laporan lapangan, bahan
baku tidak pernah disimpan lebih dari dua hari. Namun, kesalahan masih dapat
terjadi karena cara penyimpanan yang tidak tepat. Untuk itu, ia meminta BP POM
melakukan pengecekan berlapis di setiap tahap, mulai dari penerimaan bahan
baku, proses penyimpanan, pemotongan, hingga penyajian.
“Di dapur Rajabasa
ini, proses memasak sudah ditangani chef bersertifikat. Tapi kita belum tahu
apakah semua dapur sudah demikian. Kami minta BP POM mengecek keseluruhan,
termasuk filter kontrol di setiap tahap pengolahan. Jika protokol ini dijaga,
Insya Allah tidak akan ada masalah,” ucap Gubernur.
Selain meninjau
dapur dan distribusi MBG, melalui Dinas DLH, Gubernur melakukan pengecekan
langsung terhadap kualitas air dan fasilitas pengolahan limbah di SPPG
Rajabasa.
Dari hasil
pengecekan diketahui kulitas air di SPPG Rajabasa Musi Raya telah memenuhi
standar. Sementara untuk limbah makanan yang dihasilkan dapur tersebut diolah
menjadi pupuk organik cair yang kemudian akan dibagikan kepada warga sekitar
untuk tanaman pekarangan seperti cabai dan sayuran.
Menurut Gubernur,
program pengolahan limbah ini menjadi bagian dari konsep circular economy.
Pupuk organik cair yang dihasilkan dapat dimanfaatkan masyarakat untuk bertani,
dan hasil pertanian tersebut dapat kembali disalurkan ke dapur SPPG sebagai
bahan baku. “Distribusinya bisa melalui koperasi desa atau kelurahan. Jadi
hasil pertanian warga bisa kembali ke dapur SPPG, ekonominya berputar,”
ujarnya.
Gubernur juga
mengapresiasi inisiatif Dinas Lingkungan Hidup yang memprakarsai pengolahan
limbah menjadi pupuk organik. Ia menilai program ini akan memberi manfaat ganda
bagi masyarakat sekaligus mendukung keberlanjutan lingkungan.
“Kalau ada total
700 dapur di seluruh Lampung, satu dapur bisa menghasilkan 100 kilogram limbah
per hari. Artinya bisa diolah menjadi sekitar 700 liter pupuk organik cair
setiap hari atau setara 2,21 ton per bulan. Ini sangat potensial untuk
mendukung pertanian lokal,” ucap Gubernur.
Kepala SPPG
Rajabasa Musi Raya, Lucyani Putri Wulandari, menambahkan pihaknya sangat ketat
menjaga kualitas bahan baku. Ia mengungkapkan, pihaknya pernah tiga kali
menolak bahan baku yang dikirim pemasok karena tidak sesuai standar. “Begitu
barang datang, kami cek dulu. Kalau tidak sesuai pesanan, kami batalkan dan
minta diganti yang sesuai standar,” ujarnya.
Setelah meninjau
SPPG Rajabasa, Gubernur Mirza melanjutkan kunjungan ke SMPN 2 Bandar Lampung
untuk memantau distribusi MBG. Ia sempat berbincang dengan guru dan murid kelas
VII dan IX yang sedang menikmati makanan bergizi. Para siswa mengaku puas
dengan kualitas makanan yang mereka terima dan tidak pernah mengalami keluhan
kesehatan.
Langkah pemerintah
provinsi ini menunjukkan komitmen serius untuk menjaga keamanan pangan dalam
program MBG, sekaligus mengoptimalkan manfaat lingkungan melalui pengolahan limbah.
Jika pengawasan protokol terus diperketat dan konsep circular economy berjalan,
program pelayanan gizi di Lampung diperkirakan akan lebih berkelanjutan dan
memberi dampak positif bagi kesejahteraan masyarakat. [MFH/Dinas Kominfotik
Provinsi Lampung]











3.jpg)