- Anggaran 389 Juta Pakaian Dinas Harian dan Sipil Sekretariat DPRD Lamsel Tuai Sorotan
- Gelar Upacara Hari Lahir Pancasila 2026, Pemprov Lampung Tegaskan Semangat Kebhinekaan
- Dukung Penguatan Ketahanan Pangan, GNTI Gelar Panen Raya Jagung di Pesawaran
- Bupati Pringsewu Hadiri Sosialisasi Pembangunan SPAM IKK Way Sepagasan
- Bupati Ela Rotasi Pejabat Eselon II, Tekankan Kolaborasi dan Pelayanan Terbaik
- Pemkab Lambar Kembali Raih Opini WTP 16 Kali Berturut-turut
- Sejumlah Kebijakan dan Agenda Dihasilkan dalam Rapat Syuriah PCNU bersama Syuriah MWC se-Lamsel
- Bank Lampung Perkuat Dukungan Modal melalui Program KUR
- Ingin Jual Mobil Warga Palas Ketipu Teman Sendiri Mobil dan Surat di Bawa Kabur
- Jejak Batuwara: Gunung yang Hilang dan Luka yang Melahirkan Selat Sunda
Jejak Batuwara: Gunung yang Hilang dan Luka yang Melahirkan Selat Sunda

Oleh Christian Heru Cahyo Saputro – Jurnalis
SELAT SUNDA — Di antara kabut tebal yang
menyelimuti perairan, tersimpan kisah tentang sebuah gunung yang konon pernah
mengguncang dunia. Namanya nyaris hilang dari ingatan zaman, terlupakan di
balik kemasyhuran saudaranya, Krakatau. Namun, jejaknya masih hidup, terukir
dalam legenda, naskah kuno, dan lapisan-lapisan bumi yang diam-diam menyimpan
rahasia.
Pada suatu pagi yang tenang, ombak berayun
pelan di antara Jawa dan Sumatera. Kapal-kapal nelayan melintas seperti biasa,
membelah permukaan air yang tampak damai. Burung-burung laut berputar di atas
kepala, seolah tak menyadari bahwa bentangan laut yang hari ini memisahkan dua
pulau besar Nusantara itu, dulunya adalah daratan yang utuh.
Baca Lainnya :
- Respon Keluhan Warga, Dishub Bandar Lampung Gerak Cepat Perbaiki Puluhan PJU 0
- Permintaan Kurban Meningkat, Penjualan Sapi Lampung Naik 40 Persen dan Domba 121 Persen0
- Pemprov Lampung Matangkan Strategi Antisipasi El Nino untuk Jaga Produktivitas Pertanian0
- Gubernur Lampung Minta BPKAD Siapkan Penyaluran Gaji Ketiga Belas ASN0
- Momentum Idul Adha, Pemprov Lampung Dorong Kepedulian dan Kesejahteraan Masyarakat0
Di balik ketenangan tersebut, tersimpan cerita
tua yang nyaris tenggelam oleh waktu: kisah Gunung Batuwara.
Batuwara tidak sepopuler Krakatau. Ia tak
memiliki mercusuar wisata, papan penunjuk arah, atau deretan hotel di kaki
bukit. Namun, dalam sejumlah legenda Jawa Kuno dan tafsir geologi modern,
Batuwara disebut sebagai gunung purba yang pernah meledak dengan kedahsyatan
yang melampaui imajinasi manusia. Konon, dari letusan gunung inilah lahir Selat
Sunda.
Naskah
Kuno dan Murka Alam
Cerita tentang Batuwara mengalir dari Pustaka
Raja Parwa, sebuah naskah kuno berbahasa Jawa Kuno. Naskah itu mengisahkan
peristiwa dahsyat yang terjadi pada abad ke-5 Masehi.
Dikisahkan, pada tahun 416 M, terdengar suara
gemuruh menggelegar dari arah sebuah gunung bernama Batuwara. Bumi berguncang
hebat. Langit berubah gelap gulita. Kilatan petir menyambar tanpa henti,
menghapus batas antara siang dan malam.
“Gunung itu terbelah dan tenggelam ke dalam
bumi.”
Begitulah kurang lebih gambaran yang tersirat
dalam kisah kuno tersebut. Bagi masyarakat masa lalu, peristiwa itu merupakan
murka alam yang sulit dijelaskan, sebuah hukuman dari langit yang menakutkan.
Tetapi bagi generasi sekarang, kisah tersebut menghadirkan pertanyaan yang jauh
lebih besar dan rasional: benarkah pernah terjadi letusan gunung raksasa yang
mampu mengubah wajah geografis Nusantara?
Pertanyaan itu mengantarkan para peneliti
memasuki wilayah abu-abu yang mempertemukan mitologi dan sains.
Tirai
Debu Global
Berabad-abad setelah kisah itu dituliskan, para
ilmuwan menemukan jejak aneh dalam catatan sejarah dunia. Pada tahun 535 hingga
536 Masehi, berbagai peradaban mencatat fenomena yang tidak biasa. Matahari
tampak redup selama berbulan-bulan. Musim berubah kacau balau. Panen gagal di
banyak tempat. Suhu bumi turun drastis.
Catatan Dinasti Cina menyebutkan turunnya salju
pada musim panas—sebuah anomali yang mengerikan. Sejarawan Bizantium, John dari
Ephesus, menulis tentang matahari yang bersinar lemah, seperti bulan pucat yang
tak mampu mengusir dingin. Dunia seakan diselimuti tirai debu raksasa.
Para ilmuwan modern menyebut periode ini
sebagai salah satu anomali iklim terbesar dalam sejarah manusia. Lalu muncul
pertanyaan berikutnya: dari mana asal debu vulkanik yang mampu menggelapkan
langit seluruh dunia?
Sebagian peneliti menduga jawabannya berada di
kawasan Nusantara. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) termasuk lembaga
yang pernah mengkaji kemungkinan keterkaitan letusan purba di kawasan Selat
Sunda dengan peristiwa iklim global tersebut. Jika dugaan itu benar, maka
ledakan Batuwara bukan sekadar bencana regional. Ia adalah peristiwa geologis
kolosal yang dampaknya menjangkau Cina, Timur Tengah, hingga Eropa, memengaruhi
peradaban manusia lintas benua.
Bayangan itu terasa menggetarkan. Dari sebuah
gunung yang kini nyaris terlupakan, dampaknya mungkin pernah merenggut nyawa
dan mengubah nasib jutaan orang di belahan bumi lain.
Perdebatan
di Dasar Laut
Namun, kisah Batuwara belum menemukan kata
akhir. Di kalangan ilmuwan, identitas gunung ini masih menjadi bahan perdebatan
sengit.
Sebagian peneliti meyakini Batuwara adalah nama
kuno bagi “Krakatau Purba”. Dalam pandangan ini, Batuwara dan Krakatau
merupakan satu tubuh gunung yang sama sebelum kehancuran besar menghancurkan
sebagian besar strukturnya. Letusan dahsyat itu meruntuhkan kaldera,
menciptakan ruang kosong yang kemudian diisi oleh laut.
Tetapi ada pula pandangan lain. Sejumlah ahli
dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) berpendapat bahwa
Batuwara dan Krakatau mungkin merupakan dua struktur geologi yang berbeda.
Keduanya berada sangat dekat, saling bertetangga, tetapi tidak identik. Mungkin
Batuwara adalah gunung tetangga yang runtuh terlebih dahulu, meninggalkan
rekahan yang kelak menjadi cikal bakal aktivitas vulkanik Krakatau.
Perdebatan itu memperlihatkan betapa bumi
menyimpan banyak rahasia yang belum sepenuhnya terpecahkan. Lapisan batuan bisa
dibaca seperti halaman buku sejarah. Endapan abu vulkanik dapat menjadi
petunjuk waktu. Namun, tidak semua kisah masa lalu meninggalkan jejak yang
lengkap. Kadang-kadang, sejarah bumi berbicara dalam bahasa yang
terputus-putus, dan manusia hanya mampu menafsirkan serpihan-serpihannya.
Luka
Bumi yang Menjadi Selat
Meski demikian, satu hal hampir pasti: kawasan
Selat Sunda pernah mengalami bencana vulkanik yang luar biasa besar. Ledakan
dahsyat itu diyakini memicu tsunami raksasa. Sebagian daratan ambles. Sebagian
lainnya terbelah. Laut memasuki ruang yang sebelumnya merupakan daratan padat.
Dari peristiwa geologis yang berlangsung dalam
hitungan jam atau hari itulah, bentang alam Nusantara berubah untuk selamanya.
Selat Sunda lahir dari luka bumi. Air laut mengisi retakan raksasa yang
memisahkan Jawa dan Sumatera. Dan sejarah kepulauan Indonesia memasuki babak
baru, di mana laut bukan lagi penghalang, melainkan penghubung.
Kisah itu ternyata tidak berakhir bersama
tenggelamnya gunung purba tersebut. Alam selalu memiliki cara untuk memulai
kembali, bahkan di atas reruntuhan kehancuran.
Pada akhir Desember 1927, para pelaut melihat
sesuatu yang tidak biasa di tengah kaldera bekas Krakatau. Asap putih muncul
dari permukaan laut. Letupan-letupan kecil terdengar dari bawah air. Bumi yang
selama ratusan tahun tertidur perlahan bergerak kembali.
Dari kedalaman laut, sebuah gunung baru lahir.
Ia kemudian dikenal sebagai Anak Krakatau. Seperti seorang anak yang tumbuh
dari rahim ibunya yang terluka, gunung muda itu terus meninggi tahun demi
tahun. Ia menjadi pengingat abadi bahwa siklus kehancuran dan penciptaan
merupakan bagian dari denyut kehidupan bumi. Gunung tua boleh runtuh, tetapi
api di dalam perut bumi tidak pernah benar-benar padam.
Di
Antara Fakta dan Mitos
Hari ini, ketika wisatawan memandang Selat
Sunda dari tepi pantai Anyer atau dari geladak kapal penyeberangan, yang
terlihat hanyalah hamparan air biru dan siluet gunung di kejauhan. Pemandangan
itu indah, menenangkan, dan seolah statis.
Namun, jauh di bawah permukaan laut itu,
tersimpan jejak salah satu peristiwa geologis paling dahsyat yang pernah
terjadi di Nusantara. Mungkin Gunung Batuwara memang hanya legenda, sebuah
metafora kuno untuk menjelaskan ketakutan manusia akan alam. Atau mungkin pula
ia adalah kenyataan historis yang belum sepenuhnya berhasil diungkap oleh ilmu
pengetahuan karena terkubur terlalu dalam.
Tetapi seperti banyak kisah besar dalam sejarah
manusia, daya tarik Batuwara justru terletak pada ruang di antara
keduanya—antara fakta dan mitos, antara batuan keras dan cerita lunak. Di
sanalah Batuwara terus hidup.
Ia bukan hanya sebagai gunung yang hilang. Ia
adalah ingatan kolektif tentang betapa kecilnya manusia di hadapan kekuatan
alam. Sebuah pengingat bahwa suatu ketika, alam pernah membelah daratan,
menggelapkan langit dunia, dan mengubah peta bumi untuk selamanya. Dan kita,
yang tinggal di atas puing-puing sejarah itu, hanya bisa menunduk hormat,
sambil terus menelusuri jejak-jejaknya yang samar. (*)











3.jpg)