- Ketika Krakatau Membelah Daratan: Antara Mitos, Api, dan Gerak Bumi
- In Memoriam Fath Syahbudin: Gema Tanoh Lado yang Abadi di Bumi Lampung
- Kemenag Bandar Lampung Sampaikan Aspirasi Penguatan Layanan Keagamaan kepada Komisi VIII
- Kapolsek Talang Padang Silaturahmi dengan Ipda Sabila
- Kejurda Padel Lampung 2026 Resmi Dimulai
- 31 Pasangan Ikuti Nikah Massal Begawi Cinta Lampung 2026
- Kadis Sosial Lamsel Ungkap Penyebab Bantuan Belum Cair Meski Sudah Pegang ATM
- Sambangi RA Al-Furqon, Yuti Rama Yanti Serahkan Bantuan Gedung dan Pantau Penerapan Menu MBG
- Manjau Jama Warga Hadirkan Hiburan Rakyat dan Pelayanan Dekat untuk Masyarakat
- Wakil Bupati Lampung Timur Ikuti Bimtek ASWAKADA
Ketika Krakatau Membelah Daratan: Antara Mitos, Api, dan Gerak Bumi

Oleh: Christian Heru Cahyo Saputro
Di antara Pulau Jawa dan Sumatra terbentang
Selat Sunda, hamparan air yang setiap hari dilintasi kapal-kapal, nelayan, dan
burung-burung laut. Selat itu tampak biasa. Namun, di bawah permukaannya, bumi
tidak pernah benar-benar diam. Lempeng-lempeng terus bergerak, gunung api terus
bernapas, sementara ingatan manusia menyimpan kisah yang jauh lebih tua
daripada sejarah.
Di sanalah lahir sebuah cerita yang terus
berulang dari generasi ke generasi: Krakatau pernah membelah Jawa.
Baca Lainnya :
- In Memoriam Fath Syahbudin: Gema Tanoh Lado yang Abadi di Bumi Lampung0
- Kemenag Bandar Lampung Sampaikan Aspirasi Penguatan Layanan Keagamaan kepada Komisi VIII0
- Kapolsek Talang Padang Silaturahmi dengan Ipda Sabila0
- Kejurda Padel Lampung 2026 Resmi Dimulai0
- 31 Pasangan Ikuti Nikah Massal Begawi Cinta Lampung 20260
Kalimat itu terdengar dramatis. Bahkan
menyesatkan jika dipahami secara harfiah. Sebab Pulau Jawa tidak pernah
terbelah menjadi dua daratan. Yang sesungguhnya dimaksud adalah kisah mengenai
terpisahnya Jawa dan Sumatra oleh Selat Sunda—sebuah narasi yang hidup di
persimpangan antara legenda, sastra, dan ilmu kebumian.
Dalam Pustaka Raja Purwa, karya pujangga
Keraton Surakarta, Raden Ngabehi Ranggawarsita, dikisahkan bahwa pada tahun 416
Masehi terjadi letusan dahsyat Gunung Krakatau Purba. Letusan itu dipercaya
menghancurkan daratan yang sebelumnya menyambungkan Jawa dengan Sumatra. Laut
kemudian masuk mengisi celah besar itu, membentuk Selat Sunda seperti yang
dikenal sekarang.
Bagi masyarakat Nusantara kuno, letusan gunung
bukan sekadar gejala alam. Ia adalah bahasa para dewa. Ketika bumi berguncang
dan laut menelan daratan, manusia menerjemahkannya sebagai perubahan kosmis.
Mitos lahir bukan untuk menjelaskan geologi, melainkan untuk memberi makna pada
bencana yang melampaui nalar zamannya.
Namun ilmu pengetahuan modern menawarkan cerita
yang berbeda.
Para ahli geologi menyimpulkan bahwa pemisahan
Jawa dan Sumatra bukanlah hasil satu ledakan tunggal, melainkan proses tektonik
yang berlangsung selama jutaan tahun. Di dasar Selat Sunda, Lempeng
Indo-Australia terus bergerak ke arah utara hingga timur laut, menyusup di
bawah Mikro Lempeng Sunda yang merupakan bagian dari Eurasia. Gerak itu hanya
sekitar 51–61 milimeter setiap tahun—tidak lebih cepat daripada pertumbuhan
kuku manusia—tetapi dalam rentang jutaan tahun, ia mampu mengubah wajah benua.
Di bawah laut terjadi pertarungan yang sunyi.
Kerak bumi terlipat, patahan terbentuk, magma mencari jalan keluar, sementara
gunung api berdiri sebagai penanda bahwa bumi masih bekerja.
Krakatau hanyalah salah satu aktor dalam drama
geologi yang jauh lebih panjang.
—
Lalu datanglah Agustus 1883.
Pada 26–27 Agustus, dunia menyaksikan salah
satu letusan vulkanik terbesar dalam sejarah modern. Krakatau meledak dengan
energi yang diperkirakan setara sekitar 200 megaton TNT—puluhan ribu kali lebih
kuat daripada bom Hiroshima.
Pulau vulkanik itu kehilangan hampir dua
pertiga tubuhnya.
Ledakannya mencapai sekitar 172 desibel. Di
Pulau Rodrigues, hampir 4.800 kilometer dari Selat Sunda, orang-orang masih
mendengar suara dentuman itu. Hingga kini, ia dikenang sebagai salah satu suara
paling keras yang pernah tercatat di muka bumi.
Namun bukan suara yang paling mematikan.
Yang datang sesudahnya adalah air.
Gelombang tsunami setinggi puluhan meter
meluncur tanpa ampun menuju pesisir Anyer, Carita, Merak, hingga Teluk Betung
di Lampung. Kampung-kampung lenyap hanya dalam hitungan menit. Sedikitnya
36.417 jiwa meninggal. Banyak yang bahkan tak sempat memahami apa yang sedang
terjadi.
Bencana itu tidak berhenti di Indonesia.
Gelombang kejut atmosfer berputar mengelilingi
bumi hingga tiga kali. Debu vulkanik dan jutaan ton sulfur dioksida naik ke stratosfer,
menyelimuti atmosfer dunia. Suhu rata-rata bumi turun sekitar 1,2 derajat
Celsius selama beberapa tahun. Di Eropa dan Amerika, orang-orang menyaksikan
matahari terbenam berwarna merah darah dan bulan tampak kebiruan, tanpa
mengetahui bahwa penyebabnya berasal dari sebuah gunung kecil di Selat Sunda.
Krakatau mengingatkan bahwa sebuah pulau di
Nusantara dapat mengubah langit seluruh dunia.
—
Hingga hari ini, Selat Sunda masih merupakan
salah satu kawasan paling dinamis di planet ini.
Zona subduksi aktif terus bekerja. Para geolog
menyebut sebagian kawasan megathrust Selat Sunda sebagai seismic gap, wilayah
yang telah lama tidak melepaskan energi besar sejak abad ke-18. Itu berarti
energi tektonik terus terakumulasi di kedalaman bumi.
Di sekitarnya, sesar-sesar bawah laut tetap
aktif. Lereng Gunung Anak Krakatau pun terus berubah akibat aktivitas vulkanik.
Peristiwa longsoran tubuh gunung pada akhir 2018 yang memicu tsunami menjadi
pengingat bahwa ancaman tidak selalu datang dari gempa besar. Kadang, sebagian
kecil gunung yang runtuh ke laut sudah cukup untuk mengirim gelombang mematikan
ke daratan.
Karena itu, membaca sejarah Krakatau tidak
boleh berhenti pada romantisme legenda ataupun kekaguman terhadap kedahsyatan
letusan.
Ia harus menjadi pelajaran tentang hidup
berdampingan dengan bumi yang terus bergerak.
—
Mungkin legenda tidak pernah dimaksudkan
sebagai laporan ilmiah. Namun ia menyimpan sesuatu yang sering luput dari
angka-angka statistik: kesadaran bahwa manusia hanyalah penghuni sementara di
atas kerak bumi yang rapuh.
Ilmu pengetahuan kemudian datang melengkapi
kisah itu. Ia menjelaskan bahwa gunung, laut, dan lempeng tektonik bekerja
menurut hukum alam yang dapat dipelajari, dipetakan, dan diantisipasi.
Di titik itulah mitos dan sains sebenarnya
saling bertemu.
Yang satu menjaga ingatan.
Yang lain membangun kewaspadaan.
Dan Selat Sunda tetap
membentang di antara Jawa dan Sumatra, menjadi saksi bahwa bumi tidak pernah
benar-benar selesai menciptakan dirinya sendiri. (*)











3.jpg)