- Lomba Video Konten Literasi 2026 Dorong Kreativitas Generasi Muda Pesawaran
- Pemkab Lampung Timur Bahas Masterplan Integrated Area Development
- Pemkot Metro Lantik 34 Pejabat, Dorong ASN Adaptif dan Inovatif
- Metro Perkuat Transformasi Pendidikan, 33 SMP Tampilkan Kreativitas dan Inovasi Pembelajaran
- Plt Bupati Lampung Tengah Sidak RSUD Demang Sepulau Raya
- Pesona Wastra Tapis dan Sinjang Pugung Krui Curi Perhatian di Panggung Kriya Nusa 2026
- Pemkab Pesisir Barat Perkuat Akurasi Data Iuran Jaminan Kesehatan
- Diduga Peras Perangkat Desa, Dua Oknum Wartawan di Amankan Polsek Tanjung Bintang
- Pemprov Lampung Perkuat Infrastruktur Jalan, Tekan Biaya Logistik dan Buka Akses
- Bhabinkamtibmas Polsek Pugung Gotong Royong Bersama Warga
Pelangi Anak Indonesia Ceriakan Panggung Budaya Lampung Fest 2025

BANDAR LAMPUNG, MFH,-- Suasana di
panggung budaya Lampung Fest 2025 berubah hangat ketika puluhan anak dari
Komunitas Pelangi Anak Indonesia tampil membawakan tarian Nusantara, lagu-lagu
internasional, hingga medley lagu Lampung seperti Lipang Lipang Dang dan Tanoh
Lado.
Di tengah tema festival “Coffee and
Tourism”, penampilan anak-anak ini menghadirkan nuansa yang enerjik dan penuh
percaya diri, sekaligus menyentuh hati para pengunjung.
Lantunan suara bening khas
anak-anak dan koreografi yang rapi membuat sejumlah pengunjung berhenti sejenak
dari keramaian stan kopi dan kuliner.
Baca Lainnya :
- Tim Gabungan Tangkap Pelaku Pembunuhan Ayah Kandung di Bandar Lampung0
- Warga Antusias RSUDAM Buka Layanan Gratis di Lampung Fest 20250
- Pameran Kriya Jemari 2025 Resmi Dibuka0
- Gubernur Mirza Dorong Generasi Muda Lestarikan Budaya Lampung0
- Purnama Wulan Sari Mirza Ajak Perkuat Pendidikan Karakter Anak Usia Dini0
Beberapa dari mereka terlihat
merekam, sebagian lainnya ikut bersenandung, dan tak sedikit yang berkomentar
bahwa penampilan ini menjadi salah satu momen paling keren di festival malam
itu.
Pengunjung
Merasa Tersentuh
Rahma (34), warga Bandar Lampung
yang datang bersama anaknya, mengaku tidak menyangka tampilan anak-anak bisa
seapik itu.
“Anak saya sampai ikut menari di
dekat panggung. Rasanya bangga sekali lihat anak-anak Lampung tampil percaya
diri bawa budaya kita. Ini bikin suasana festival jadi lebih hidup,” ujarnya.
Sementara itu, Dedi (41),
pengunjung dari Pringsewu, menilai penampilan seperti ini harus diperbanyak
dalam event daerah.
“Acara keren bukan cuma soal
kuliner dan artis terkenal. Melihat anak-anak tampil begini bikin kita optimis
budaya Lampung nggak akan hilang. Justru makin dikenal di kalangan generasi
muda,” kata Dedi.
*Menanamkan Cinta Budaya Sejak
Dini*
Di balik penampilan tersebut, Riki
Ramli, Ketua Komunitas Pelangi Anak Indonesia, tak bisa menyembunyikan
kebanggaannya.
Ia menjelaskan bahwa komunitas yang
ia bina merupakan wadah belajar seni untuk anak-anak Lampung. Setiap pekan,
mereka berlatih di Gedung Dewan Kesenian Lampung.
“Mereka belajar gamolan, serdam,
akordion, juga Bahasa Lampung dan Bahasa Prancis,” ujar Riki.
“Intinya, sejak kecil kita ajak
mereka dekat dengan budaya. Bukan cuma menari atau menyanyi, tapi juga mengenal
identitas dirinya.”
Ia menambahkan bahwa kehadiran
mereka di Lampung Fest 2025 adalah untuk memperkenalkan komunitas sekaligus
memperluas jangkauan edukasi budaya kepada masyarakat.
“Malam ini kami tampilkan tarian
Nusantara dan medley lagu-lagu Lampung. Harapannya, makin banyak orang tahu
bahwa regenerasi budaya itu benar-benar sedang berjalan,” katanya.
*Dukungan Pemerintah: Budaya
sebagai Arah Pariwisata*
Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi
Kreatif Provinsi Lampung, Bobby Irawan, dalam kesempatan terpisah, memberikan
apresiasi besar terhadap penampilan Pelangi Anak Indonesia.
“Kami bangga melihat anak-anak
tampil dengan semangat seperti ini. Selain menghibur, mereka menunjukkan bahwa
Lampung memiliki kekuatan budaya yang terus tumbuh,” ujarnya.
Menurut Bobby, kehadiran komunitas
seperti Pelangi Anak Indonesia selaras dengan arah kebijakan Pemprov Lampung
dalam memadukan pariwisata dan budaya.
“Kita ingin Lampung Fest
2025 ini menjadi ruang tumbuh. Bukan sekadar panggung, tapi ekosistem di mana
generasi muda bisa belajar, unjuk karya, dan merasa dicintai oleh publik,”
katanya. [MFH/**]











