- Pemprov Lampung Perkuat Kesiapsiagaan Hadapi Bencana Alam
- Gubernur Siapkan Tiga Langkah Perkuat Investasi, Bidik Pertumbuhan Ekonomi Berkelanjutan
- Margosari Dicanangkan Sebagai Desa TAPIS di Kabupaten Pringsewu
- Bupati Ela Pastikan Anak-anak Belajar dengan Nyaman dan Bahagia
- Festival Literasi Lamtim 2026, Dorong Budaya Membaca dan Tingkatkan Kualitas SDM
- Wali Kota Metro Hadiri Audiensi Bersama PT PII
- DWP Pesisir Barat Sulap Buah Sawo jadi Dodol
- Sejarah Baru Kesehatan Pesisir Barat, Bupati Resmi Deklarasikan Kabupaten Bebas BABS
- Bangun Karakter Sejak Dini, TK Islam Terpadu Al Lathif Kunjungi Murbay Konfeksi
- KADIN Lampung Selatan Mantapkan Persiapan Rakerda 2026
Pemprov Lampung Perkuat Kesiapsiagaan Hadapi Bencana Alam

BANDAR LAMPUNG, MFH,-- Pemerintah Provinsi
Lampung memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana melalui Rapat
Koordinasi (Rakor) Mitigasi Aktivitas Gunung Anak Krakatau Level Siaga (Level
III) dan Mitigasi Bencana Hidrometeorologi yang digelar di Ruang Pusdalops BPBD
Provinsi Lampung, Rabu (04/11/2026).
Rakor tersebut melibatkan Badan Penanggulangan
Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Lampung, BMKG, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi
Bencana Geologi (PVMBG), serta seluruh BPBD Kabupaten/Kota se-Provinsi Lampung.
Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Lampung,
Aswarodi, mengatakan rapat koordinasi tersebut bertujuan menyamakan langkah dan
memperkuat kesiapsiagaan seluruh pemangku kepentingan dalam menghadapi potensi
bencana, baik akibat aktivitas Gunung Anak Krakatau maupun kondisi cuaca pada
masa peralihan menuju musim penghujan.
Baca Lainnya :
- Gubernur Siapkan Tiga Langkah Perkuat Investasi, Bidik Pertumbuhan Ekonomi Berkelanjutan0
- Bangun Karakter Sejak Dini, TK Islam Terpadu Al Lathif Kunjungi Murbay Konfeksi0
- Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal Lantik Bupati Lamteng0
- Pemprov Lampung Perkuat Akurasi Data Penerima Bansos Melalui Integrasi Data Kependudukan0
- Gubernur Lampung Dorong Pelatihan Vokasi Sesuai Kebutuhan Industri0
Terkait aktivitas Gunung Anak Krakatau,
Aswarodi menjelaskan bahwa berdasarkan pemaparan PVMBG, aktivitas erupsi yang
terjadi saat ini merupakan bagian dari karakteristik gunung api yang sedang
berkembang. Meski demikian, hal yang perlu menjadi perhatian adalah potensi
sebaran abu vulkanik.
"Berdasarkan informasi dari PVMBG dan
laporan BPBD Lampung Selatan serta relawan di Pulau Sebesi, sebaran abu
vulkanik saat ini masih dalam kondisi aman dan belum mencapai Desa Tejang,
Pulau Sebesi," ujarnya.
Aswarodi menambahkan, status Gunung Anak
Krakatau saat ini masih berada pada Level III (Siaga). Masyarakat, nelayan,
maupun wisatawan diimbau untuk tidak mendekati kawasan gunung api dalam radius
lima kilometer dari kawah.
Dalam rakor tersebut, BPBD Kabupaten Lampung
Selatan juga mengusulkan pemasangan rambu-rambu peringatan bagi masyarakat dan
pengunjung agar tidak memasuki kawasan berbahaya. Usulan tersebut telah
mendapat respons dari PVMBG untuk segera ditindaklanjuti.
Selain mitigasi aktivitas vulkanik, rakor juga
membahas kesiapsiagaan menghadapi bencana hidrometeorologi seiring memasuki
masa pancaroba dan musim penghujan.
Aswarodi menyampaikan bahwa BPBD Provinsi
Lampung bersama BPBD Kabupaten/Kota akan melakukan peninjauan terhadap kondisi
saluran air dan drainase, terutama pada titik-titik yang berpotensi menimbulkan
genangan maupun banjir. Peninjauan akan dilakukan sesuai kewenangan
masing-masing, baik pemerintah provinsi maupun kabupaten/kota, termasuk
berkoordinasi terkait infrastruktur yang menjadi kewenangan pemerintah pusat.
"Kami akan turun meninjau saluran-saluran
air yang menjadi kewenangan provinsi dan nasional. Sementara itu, untuk
kewenangan kabupaten/kota, kami meminta Kalaksa BPBD masing-masing melakukan
peninjauan agar seluruh saluran air dapat berfungsi dengan baik dan potensi
banjir bisa diantisipasi," jelasnya.
Ia juga menyampaikan bahwa Pemerintah Provinsi
Lampung akan mendorong penerbitan imbauan Gubernur kepada Bupati/Wali Kota agar
mengajak masyarakat meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan melalui
kegiatan gotong royong membersihkan selokan dan drainase, serta memastikan
kondisi atap rumah tetap kuat menghadapi potensi angin kencang.
Berdasarkan pemaparan BMKG, sejumlah wilayah
dengan karakteristik topografi dataran, seperti Bandar Lampung, Metro, Lampung
Timur, Lampung Selatan, dan Lampung Tengah, perlu meningkatkan kewaspadaan
terhadap potensi angin kencang hingga puting beliung selama masa pancaroba.
Aswarodi turut menyampaikan pesan Gubernur
Lampung agar masyarakat meningkatkan kesiapsiagaan secara mandiri dengan
mengenali potensi ancaman bencana di lingkungan tempat tinggal masing-masing.
Masyarakat yang tinggal di sekitar sungai,
tebing, maupun pepohonan besar diimbau lebih waspada. Pohon-pohon tua yang
berpotensi tumbang juga perlu segera ditangani, sementara saluran drainase
harus dipastikan tidak tersumbat, terutama menjelang puncak musim penghujan.
Selain itu, masyarakat diminta menyiapkan tas
siaga bencana yang berisi kebutuhan penting dan mudah dijangkau ketika terjadi
keadaan darurat.
"Pak Gubernur berpesan agar seluruh
masyarakat siap menghadapi bencana dan tidak lengah. Salah satu bentuk
kesiapsiagaan adalah menyiapkan tas siaga bencana yang ditempatkan di lokasi
mudah dijangkau, sehingga ketika terjadi bencana masyarakat dapat segera
menyelamatkan diri," katanya.
Aswarodi juga mengingatkan masyarakat untuk
tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi atau hoaks terkait
aktivitas Gunung Anak Krakatau maupun potensi bencana lainnya. Informasi resmi
dapat diakses melalui kanal Pusdalops BPBD Provinsi Lampung, PVMBG, dan BMKG.
Sementara itu, Kepala Pos Pengamatan Gunung
Anak Krakatau di Hargo Pancuran, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan pada
periode sebelumnya, Andi Suhardi, menjelaskan bahwa Gunung Anak Krakatau
merupakan gunung api muda yang masih mengalami proses pertumbuhan dan
perkembangan melalui fase konstruksi dan destruksi secara berulang.
Ia menerangkan bahwa aktivitas erupsi merupakan
bagian dari karakteristik Gunung Anak Krakatau dalam melepaskan energi
vulkaniknya. Berbeda dengan peristiwa letusan dahsyat pada 1883, yang didahului
proses akumulasi energi dalam waktu panjang, aktivitas erupsi yang terjadi
secara berulang saat ini menjadi bagian dari dinamika gunung api tersebut.
Meski demikian, Andi menegaskan bahwa
masyarakat tetap harus mematuhi rekomendasi keselamatan dengan tidak mendekati
Gunung Anak Krakatau dalam radius lima kilometer dari kawah.
"Untuk saat ini, asap kawah yang teramati
berwarna putih tipis dengan ketinggian sekitar 500 meter. Potensi bahaya
sekunder yang perlu diperhatikan adalah sebaran abu vulkanik, yang dipengaruhi
oleh intensitas aktivitas erupsi dan arah angin," jelasnya.
Ia juga mengingatkan masyarakat, wisatawan, dan
nelayan agar tidak melakukan aktivitas di sekitar kawasan Gunung Anak Krakatau
selama status Siaga (Level III) masih berlaku.
Dalam kesempatan yang sama, Koordinator Bidang
Data dan Informasi BMKG Radin Inten II, Rudi Haryanto, memaparkan bahwa awal
musim penghujan di Provinsi Lampung berlangsung secara bertahap karena
perbedaan karakteristik wilayah dan kondisi geografis.
Wilayah Tanggamus, Pesisir Barat, dan Lampung
Barat telah memasuki musim penghujan sejak Oktober. Selanjutnya, pada awal
November, musim penghujan mulai terjadi di wilayah Tulang Bawang, Tulang Bawang
Barat, Mesuji, Way Kanan, Lampung Utara, dan Lampung Tengah.
Sementara itu, Bandar Lampung, Metro,
Pesawaran, Pringsewu, serta sebagian wilayah Lampung Timur dan Lampung Selatan
diprakirakan mulai memasuki musim penghujan pada akhir November hingga awal
Desember 2026.
Rudi menjelaskan bahwa November 2026 masih
menjadi periode pancaroba dengan karakteristik hujan lebat berdurasi singkat
dan bersifat lokal. Kondisi tersebut juga berpotensi disertai angin kencang,
petir, hingga puting beliung yang dapat terbentuk dari awan cumulonimbus.
Adapun puncak musim penghujan di Provinsi
Lampung diprakirakan berlangsung pada Januari hingga Maret 2027, dengan sifat
musim secara umum berada dalam kategori normal dibandingkan rata-rata
klimatologis.
Untuk mendukung kesiapsiagaan masyarakat, BMKG
secara rutin menyampaikan informasi prakiraan cuaca harian, peringatan dini
cuaca ekstrem, serta informasi potensi bencana melalui situs resmi, grup
komunikasi, dan layanan diseminasi lainnya, termasuk SMS blast dan WhatsApp
blast apabila diperlukan.
Sementara itu, Prakirawan Stasiun Meteorologi
Maritim Lampung, Neneng Kusrini, menjelaskan bahwa BMKG Maritim setiap hari
menyusun prakiraan cuaca dan kondisi gelombang untuk enam wilayah perairan di
Lampung, meliputi Perairan Barat Lampung, Selat Sunda Selatan, Perairan Timur
Lampung bagian Utara dan Selatan, serta Teluk Lampung bagian Utara dan Selatan.
Ia menyampaikan bahwa peringatan dini gelombang
tinggi diterbitkan apabila tinggi gelombang mencapai minimal 1,25 meter sesuai
ketentuan BMKG. Namun, karakteristik setiap wilayah perairan perlu menjadi
perhatian karena kondisi gelombang dan dampaknya terhadap aktivitas masyarakat
berbeda-beda.
"Untuk Perairan Timur Lampung, gelombang
setinggi satu meter saja sudah dapat mengganggu aktivitas nelayan karena
kondisi rata-rata gelombang hariannya relatif rendah. Sementara itu, di
Perairan Barat Lampung, gelombang setinggi 1,5 hingga 2 meter merupakan kondisi
yang lebih umum karena berhadapan langsung dengan Samudra Hindia,"
jelasnya.
Selain gelombang tinggi, BMKG Maritim juga
memantau potensi banjir rob yang dapat berdampak lebih besar terhadap wilayah
pesisir apabila terjadi bersamaan dengan musim penghujan, angin kencang, dan
gangguan cuaca di wilayah perairan sekitar Sumatra bagian barat maupun selatan
Jawa.
Melalui rakor tersebut, Pemerintah Provinsi
Lampung menegaskan pentingnya sinergi antara pemerintah daerah, instansi
teknis, dan masyarakat dalam memperkuat upaya mitigasi serta kesiapsiagaan
menghadapi berbagai potensi bencana di Provinsi Lampung. [MFH/Pemerintah
Provinsi Lampung]











