Sutrisno: Budidaya Labu Madu, Menjanjikan dengan Potensi Pasar Luas

By redaksi 21 Okt 2025, 17:38:37 WIB Ekonomi
Sutrisno: Budidaya Labu Madu, Menjanjikan dengan Potensi Pasar Luas

BANDAR LAMPUNG, MFH,-- Budidaya labu madu memang belum terlalu mainstream di Indonesia. Namun bukan berarti budidaya labu madu tidak menguntungkan. Justru potensi menanam labu madu saat ini sangat menggiurkan. Selain rasanya yang enak serta kualitas dagingnya yang lumer, menjadikan labu madu memiliki banyak peminat.

Labu madu atau butternut squash atau lebih dikenal dengan sebutan Pumpkin Butternut ini umum dipasarkan di pasar-pasar modern, sehingga memiliki standar harga yang cukup tinggi. Bahkan saat ini sudah menembus pasar ekspor ke Singapura, Belanda,  Korea hingga Taiwan. Harganya bervariasi, berkisar antara Rp 15.000 - 25.000 tergantung pada ukuran, bentuk, dan warna.

Pasarannya tidak hanya terbatas pada konsumsi langsung, tetapi labu madu juga menjadi bahan baku dalam industri makanan, seperti keripik, tepung, dan produk olahan lainnya. Olahan dari labu madu memiliki nilai tambah menarik, sehingga menciptakan harga jual yang tinggi.

Baca Lainnya :

Bagi para petani atau calon petani dengan lahan luas atau terbatas, budidaya labu madu bisa menjadi alternatif yang menjanjikan. Dengan potensi pasar yang luas dan teknik budidaya yang relatif sederhana, labu madu menawarkan peluang bisnis yang menarik.

Di lahan pekarangan seluas 4 x 6 meter atau 24 meter persegi, Sutrisno, warga RT.10 Sinar Harapan, Kelurahan Rajabasa Jaya, Kecamatan Rajabasa, Kota Bandar Lampung, membudidayakan labu yang aslinya berasal dari negara Belanda.

Labu Madu tergolong jenis tanaman baru di Indonesia, khususnya di Kota Bandar Lampung. Tidak seperti tanaman bawang merah, atau lainnya, labu madu ini tergolong mudah dalam segi perawatannya, karena bisa berkembang dengan baik di daratan 15 meter di atas permukaan laut. Hanya saja saat baru tumbuh perlu air dan sinar matahari cukup. Namun dengan pemupukan organik, tanaman labu ini mampu tumbuh dan berbuah dengan maksimal.

Buah satu ini, mengandung nutrisi tinggi, antioksidan, beta karoten, vitamin A dan B komplek, cocok untuk di konsumsi semua umur, dan kandungan vitaminnya cocok untuk tubuh kita.

Sutrisno, mengaku tidak memiliki pengalaman menanam labu madu, tetapi karena melihat salah seorang teman membudidayakan tanaman tersebut, dengan bermodal pengalamannya menanam berbagai sayuran dan buah, dia mencoba membudidayakan labu madu lahan terbatas.

"Dengan luas lahan 24 meter biaya produksi dibutuhkan sekitar Rp100 ribu, dari mulai bibit, pupuk, perawatan, buah yang di hasilkan lumayan menggiurkan. Saat ini pemasaran dan penjualan hanya melalui informasi dari mulut ke mulut, pembelinya pun baru kalangan tetangga sekitar, " ujar Sutrisno saat ditemui di kebunnya, Selasa (21/10/2025).

Masih menurut  Sutrisno, saat ini yang menjadi kendala baginya adalah keterbatasan lahan untuk mengembangkan budidaya labu madu dengan lebih serius.

“Keterbatasan lahan menjadi tantangan tersendiri untuk  mengembangkan budidaya labu madu dengan lebih serius, ketersediaan bibit juga saat ini hanya bisa dibeli melalui online. Kami berharap dinas terkait bisa membantu mencarikan solusi terkait ketersediaan bibit unggul,” ujar pria yang juga anggota Kelompok Tani Sido Makmur ini.  

Semetara itu Lurah Rajabasa Jaya, Agus Purwanto. S.Sos, memberikan apresiasi dan dukungan dengan kreatifitas warganya. Dia mengatakan sebagai negara Agraris kesejahteraan petani harus menjadi prioritas.

“Kami mendukung sepenuhnya budidaya labu madu yang dilakukan warga, diharapkan kemudian hari budidaya labu bukan saja sebagai hobi semata, jika budidaya labu madu ini dikelola dengan baik dan sungguh-sungguh bukan tidak mungkin akan menjadi salah satu sumber penghasilan dan meningkatkan taraf ekonomi keluarga,” pungkas Agus.  [MFH red]




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment