- Diduga Lakukan Kekerasan Verbal terhadap Anak, Oknum Collector OTO Finance Resmi Dilaporkan
- Operasi Pasar Minyakita Digelar Serentak pada 15 Kabupaten/Kota di Lampung
- Pesawaran Tampilkan Produk Unggulan UP2K Dalam Kunjungan Kerja TP PKK Pusat di Lampung
- Bupati Pringsewu Audiensi dengan Ombudsman Lampung Bahas Pelayanan Publik
- Lamtim Canangkan Sensus Ekonomi 2026, Bupati Ela: Pertumbuhan Daerah Ada di Tangan Pelaku Usaha
- Rakor DWP Lamteng Tekankan Pelaksanaan Program Kerja dan E-Reporting
- TP PKK Provinsi Lampung Dorong Pemberdayaan Lansia dan Ketahanan Keluarga
- TP-PKK Lampung Utara Turut Berpartisipasi Dalam Bulan Bhakti Ikatan Bidan Indonesia
- TP-PKK Lampura Turut Perkuat Pengendalian Inflasi Serta Jaga Daya Beli Masyarakat
- Sampah Capai 127 Ton Per Hari, Bupati Parosil Jemput Dukungan ke Kementerian Lingkungan Hidup
Sutrisno: Budidaya Labu Madu, Menjanjikan dengan Potensi Pasar Luas

BANDAR
LAMPUNG, MFH,-- Budidaya labu madu memang belum terlalu mainstream di
Indonesia. Namun bukan berarti budidaya labu madu tidak menguntungkan. Justru
potensi menanam labu madu saat ini sangat menggiurkan. Selain rasanya yang enak
serta kualitas dagingnya yang lumer, menjadikan labu madu memiliki banyak
peminat.
Labu
madu atau butternut squash atau lebih dikenal dengan sebutan Pumpkin
Butternut ini umum dipasarkan di pasar-pasar modern, sehingga memiliki
standar harga yang cukup tinggi. Bahkan saat ini sudah menembus pasar ekspor ke
Singapura, Belanda, Korea hingga Taiwan.
Harganya bervariasi, berkisar antara Rp 15.000 - 25.000 tergantung pada ukuran,
bentuk, dan warna.
Pasarannya
tidak hanya terbatas pada konsumsi langsung, tetapi labu madu juga menjadi
bahan baku dalam industri makanan, seperti keripik, tepung, dan produk olahan
lainnya. Olahan dari labu madu memiliki nilai tambah menarik, sehingga
menciptakan harga jual yang tinggi.
Baca Lainnya :
- Guru dari 35 Sekolah Unggul di Lampung Ikuti Uji Kompetensi0
- Gubernur Mirza Resmikan Lampung Refinery Cargill0
- Purnama Wulan Sari Lepas Peserta Charity Run For Palestina0
- Siswa SD Citra Bangsa School Asyik Desain Poster Digital dengan Dosen Darmajaya0
- Dekranasda Provinsi Lampung Gelar Pelatihan AI UMKM 0
Bagi
para petani atau calon petani dengan lahan luas atau terbatas, budidaya labu
madu bisa menjadi alternatif yang menjanjikan. Dengan potensi pasar yang luas
dan teknik budidaya yang relatif sederhana, labu madu menawarkan peluang bisnis
yang menarik.
Di
lahan pekarangan seluas 4 x 6 meter atau 24 meter persegi, Sutrisno, warga RT.10
Sinar Harapan, Kelurahan Rajabasa Jaya, Kecamatan Rajabasa, Kota Bandar
Lampung, membudidayakan labu yang aslinya berasal dari negara Belanda.
Labu
Madu tergolong jenis tanaman baru di Indonesia, khususnya di Kota Bandar
Lampung. Tidak seperti tanaman bawang merah, atau lainnya, labu madu ini
tergolong mudah dalam segi perawatannya, karena bisa berkembang dengan baik di
daratan 15 meter di atas permukaan laut. Hanya saja saat baru tumbuh perlu air dan
sinar matahari cukup. Namun dengan pemupukan organik, tanaman labu ini mampu
tumbuh dan berbuah dengan maksimal.
Buah
satu ini, mengandung nutrisi tinggi, antioksidan, beta karoten, vitamin A dan B
komplek, cocok untuk di konsumsi semua umur, dan kandungan vitaminnya cocok
untuk tubuh kita.
Sutrisno,
mengaku tidak memiliki pengalaman menanam labu madu, tetapi karena melihat
salah seorang teman membudidayakan tanaman tersebut, dengan bermodal
pengalamannya menanam berbagai sayuran dan buah, dia mencoba membudidayakan
labu madu lahan terbatas.
"Dengan
luas lahan 24 meter biaya produksi dibutuhkan sekitar Rp100 ribu, dari mulai bibit, pupuk, perawatan, buah yang di hasilkan lumayan menggiurkan.
Saat ini pemasaran dan penjualan hanya melalui informasi dari mulut ke mulut, pembelinya
pun baru kalangan tetangga sekitar, " ujar Sutrisno saat ditemui di
kebunnya, Selasa (21/10/2025).
Masih
menurut Sutrisno, saat ini yang menjadi
kendala baginya adalah keterbatasan lahan untuk mengembangkan budidaya labu
madu dengan lebih serius.
“Keterbatasan
lahan menjadi tantangan tersendiri untuk
mengembangkan budidaya labu madu dengan lebih serius, ketersediaan bibit
juga saat ini hanya bisa dibeli melalui online. Kami berharap dinas terkait
bisa membantu mencarikan solusi terkait ketersediaan bibit unggul,” ujar pria
yang juga anggota Kelompok Tani Sido Makmur ini.
Semetara
itu Lurah Rajabasa Jaya, Agus Purwanto. S.Sos, memberikan apresiasi dan dukungan
dengan kreatifitas warganya. Dia mengatakan sebagai negara Agraris
kesejahteraan petani harus menjadi prioritas.
“Kami
mendukung sepenuhnya budidaya labu madu yang dilakukan warga, diharapkan
kemudian hari budidaya labu bukan saja sebagai hobi semata, jika budidaya labu
madu ini dikelola dengan baik dan sungguh-sungguh bukan tidak mungkin akan
menjadi salah satu sumber penghasilan dan meningkatkan taraf ekonomi keluarga,”
pungkas Agus. [MFH red]











3.jpg)