- Pertumbuhan Ekonomi Daerah Jadi Kunci, Pemda Diminta Ciptakan Mesin Pertumbuhan Baru
- Entry Meeting BPK Dimulai, Marindo Tegaskan Pemeriksaan untuk Pastikan APBD Tepat Sasaran
- 20 Kecamatan Terdampak Abu Vulkanik, KBM Dialihkan Daring 7–8 September
- Bupati Perintahkan OPD Bergerak Cepat Antisipasi Abu Krakatau dan Karhutla
- Bupati Harap KONI Expo Bukan Pameran, Tapi Pencetak Juara dan Penggerak Ekonomi
- Vesta Pantai 2026 Meriahkan Pesisir Barat
- Waspada Dampak Abu Vulkanik GAK, Masyarakat Diminta Pantau Informasi Resmi
- Dampak Erupsi GAK, Pendapatan Nelayan Lampung Selatan Anjlok Hingga 70 Persen
- Gubernur Lampung Imbau Mastarakat Waspada Pasca Erupsi Gunung Anak Krakatau
- Gubernur Lampung Alihkan KBM ke Pembelajaran Daring
Bupati Perintahkan OPD Bergerak Cepat Antisipasi Abu Krakatau dan Karhutla

LAMPUNG BARAT, MFH,-- Bupati Lampung Barat
Parosil Mabsus memerintahkan seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) tidak
menunggu sampai situasi menjadi darurat. Dua ancaman harus diantisipasi sejak
dini dampak erupsi Gunung Anak Krakatau dan potensi Karhutla serta kekeringan.
Perintah itu disampaikan Bupati Lampung Barat
Parosil Mabsus saat memimpin rapat Ngupi Bebakhong di Aula Kagungan Setdakab,
Senin 07 September 2026.
Rapat dihadiri, Wakil Bupati Mad Hasnurin,
Kapolres Lampung Barat AKBP Samsu Wirman, Perwakikan dari DPRD, Kodim 0422 LB,
Kejaksaan, Asisten, Staf Ahli Bupati, Kepala Perangkat Daerah, Camat dan
Instansi Vertical.
Baca Lainnya :
- Bupati Harap KONI Expo Bukan Pameran, Tapi Pencetak Juara dan Penggerak Ekonomi 0
- Bupati Parosil Buka Festival Kreasi GTK Ditandai Pemukulan Gamolan Pekhing0
- Senam Bersama Ribuan Warga, Ibu 49 Tahun dari Padang Dalom Berangkat Umroh Gratis0
- 14 Bantuan Alsintan Diserahkan, Bupati Ingatkan Jangan jadi Pajangan0
- Bupati Lampung Barat Lepas Empat ASN Purna Tugas0
“Kita tidak boleh menunggu kondisi menjadi
darurat baru bergerak. Tenang, waspada, cepat, terkoordinasi. Keselamatan
masyarakat prioritas,” tegasnya Bupati Lampung Barat.
Rapat digelar menyusul status Gunung Anak
Krakatau Level III Siaga. Erupsi menerus tercatat sejak 4 September 2026.
Dampak paling nyata di Lampung Barat adalah abu vulkanik. Debu yang terbawa
angin berpotensi mengganggu kualitas udara dan aktivitas masyarakat.
Dalam rapat tersebut Bupati Lampung Barat
membagi tugas spesifik ke setiap dinas:
Badan Penanggulangan Bencana (BPBD) jadi pusat
koordinasi. Bupati Lampung Barat minta perkuat komunikasi dengan BMKG, BPBD
Provinsi, dan BNPB. Segera siapkan logistik darurat serta jalur dan titik
evakuasi.
Dinas Kesehatan, harus siagakan Puskesmas,
tenaga kesehatan, bidan desa, dan Ambulans Hebat untuk mengantisipasi ISPA,
diare, dan iritasi mata.
Satpol PP dan Damkar ditugaskan menurunkan
armada penyemprotan jalan utama untuk mengurangi debu vulkanik. Sekaligus
mendukung distribusi air bersih bersama BPBD.
Dinas Perhubungan, diminta menyiapkan rambu
keselamatan dan pengaturan lalu lintas jika jarak pandang terganggu abu.
Dinas Kominfo, wajib memastikan informasi yang
beredar resmi dan terverifikasi. Parosil menekankan prinsip satu informasi,
satu koordinasi.
Dinas Pendidikan, diminta langsung melaksanakan
Pembelajaran Jarak Jauh sesuai arahan Gubernur.
Dinas Lingkungan Hidup, bertugas memantau ISPU
secara berkala dan melaporkan perkembangannya.
Dinas Sosial, diminta menyiapkan kebutuhan
dasar dan dapur umum jika terjadi kondisi darurat atau pengungsian.
Camat, harus memantau dampak di wilayah, segera
melapor ke BPBD, dan memastikan imbauan pemerintah sampai ke peratin dan
masyarakat. Camat juga diminta mendata kekeringan dan mengkoordinasikan
kebutuhan air bersih.
Bupati Lampung Barat juga melarang penyebaran
informasi yang belum terverifikasi. Seluruh OPD diminta mengikuti arahan
Pemerintah Provinsi, BPBD, PVMBG, dan Pemerintah Pusat.
Selain abu vulkanik, Parosil menyorot ancaman
Karhutla dan El Nino. Satgas Karhutla BPBD telah menyiapkan personel.
Untuk antisipasi kekeringan, seluruh Camat
diperintahkan segera mendata masyarakat yang membutuhkan air bersih. Data
dikoordinasikan ke BPBD, Satpol PP, dan Damkar untuk penyaluran.
“Penanganan diprioritaskan
di wilayah dengan sumber air terbatas,” pungkasnya. [MFH/Diskominfo Lampung
Barat]











3.jpg)